Rabu, 6 Juli 2022

Laznas LMI Gagas Wirausaha Sosial Saat New Normal

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Halalbihalal virtual Laznas Lembaga Manajemen Infaq (LMI) dengan tema Innovation of Sociopreneur to Deal with New Normal yang dihadiri beberapa tokoh nasional pada Ahad (21/6/2020) pagi. Foto : LMI

Laznas Lembaga Manajemen Infaq (LMI) melaksanakan halalbihalal dengan tema Innovation of Sociopreneur to Deal with New Normal yang dihadiri beberapa tokoh nasional pada Minggu (21/6/2020).

Acara yang sukses dilaksanakan secara daring ini menghadirkan Dr. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. Wakil Gubernur Jawa Timur; KH. Abdussomad Bukhori Ketua MUI Jatim; Prof. Dr (H.C). Dahlan Iskan Menteri BUMN 2011-2014; Helmy Yahya, MPA. AK, sociopreneur; KH. Abdul Hamid Abdullah Imam Masjid Al-Akbar Surabaya; dengan moderator Ir. Misbahul Huda, MBA Ketua Gerakan Wakaf Indonesia.

Agung Wijayanto Direktur LMI menyatakan terima kasih kepada seluruh donatur LMI di penjuru Indonesia dan dunia atas dukungan selama ini sehingga LMI terus eksis. Ia berharap keberadaan LMI dalam rangka berkhidmat untuk kepentingan masyarakat selalu diberikan kelancaran.

“Segenap direksi dan amil LMI mengucapkan selamat idulfitri, mudah-mudahan bisa terus berkarya untuk Indonesia yang kita cintai,” ujar Agung melalui keterangan tertulis.

Belajar dari Selandia Baru

Helmy Yahya sebagai narasumber pertama mengajak peserta belajar dari Selandia Baru, negeri yang berhasil melawan Covid-19.

Menurut Helmy, Perdana Menteri Selandia Baru punya kebijakan menarik di saat pandemi. Perdana Menteri memerintahkan masyarakat untuk spending money supaya perekonomian hidup dan berputar.
Kemudian, lanjut Helmy, anjuran untuk membeli produk dalam negeri.

“Bagi Selandia Baru, pandemi saatnya berdikari dan tidak bergantung dari bahan produksi impor. Kita juga bisa melakukan ini, jangan tergantung dengan siapa pun, berdikari,” tegas Helmy.

Helmy menyebut tidak ada yang bisa kita selesaikan dengan mengeluh. Persoalan Covid-19 harus diselesaikan, dan diatasi dengan disiplin luar biasa. Ada banyak peluang, meskipun di satu sisi ada bisnis mati tapi ada bisnis lain yang tumbuh.

“Jadi menurut saya banyak hal yang bisa dikembangkan, asal jeli, mau bersyukur, tidak menyalahkan orang lain, peluang selalu terbuka. Para donatur LMI pun bisa membantu UMKM untuk bangkit. Mereka cepat beradaptasi, berbeda dengan perusahaan raksasa,” tutupnya.

Usaha Sosial Harus Mencari Laba

Sementara itu, Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN menjelaskan bahwa usaha sosial sah-sah saja mencari untung, karena dari keuntungan inilah bisa menjalankan kegiatan sosial.

“Nonprofit bukan berarti tidak mencari laba, tapi harus mencari laba. Karena perusahaan harus laba, maka manajemen harus bagus, kegiatan yang dibuat juga berorientasi laba. Kemudian laba ini dibagi tiga; untuk pajak, untuk kegiatan sosial dan dikembalikan ke perusahaan agar terus besar,” imbuhnya.

Kenapa perusahaan harus lebih besar? Karena pertahanan yang baik adalah menyerang. Kalau sebagian laba dikembalikan ke perusahaan agar terus besar, paling tidak perusahaan tidak mati. Labanya semakin besar, bagian untuk kegiatan sosial pun akan membesar.

Tapi Dahlan mengingatkan, jangan terlena dengan memperbesar laba untuk perusahaan sehingga menunda-nunda kegiatan sosial.

“Sekarang sudah waktunya berbagi tugas, siapa yang menggarap bantuan jangka pendek dan jangka panjang. Ini sudah tren di negara maju. Agar tidak semuanya bergerak di bantuan jangka pendek,” tutup mantan Dirut PLN ini.

Semangat Gotong Royong di Masa Pandemi

Emil Dardak Wakil Gubernur Jatim menyampaikan materi socioprenuership dan semangat gotong royong dalam masa pandemi Covid-19.

Emil menjelaskan para pelaku socioprenuership harus bisa memahami permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan kewirausahaan untuk menciptakan peningkatan di berbagai bidang sosial.

“Socioprenuership dapat mendorong perekonomian rakyat dan melakukan pemerataan kesejahtreaan. Dimulai dari adanya misi sosial, bisnis rintisan, pemberdayaan, dampak sosial, manajemen bisnis professional, keberlanjutan.

“Zakato yang digagas LMI ini bisa jadi konsep socioprenuer yang progresif,” kata Emil.

“Kata kuncinya adalah teknologi, dan inovasi serta solusi bagi permasalahan masyarakat. Pemerintah membuka ruang bagi ide ini untuk mendapat pijakan, inkubasi dan peningkatan. Dengan tujuan sebagai investasi yang membawa dampak besar ke masyarakat,” ujar Emil.

Halalbihalal yang diikuti partisipan dari seluruh Indonesia dan berbagai negara ini juga membagikan voucher menarik berupa 3 paket umrah dan 10 voucher qurban sapi.(iss/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
24o
Kurs