Rabu, 25 November 2020

Menjadikan Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Internasional

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Masing-masing keluarga dari Amerika Serikat bertemu dengan para mahasiswa Unitomo Surabaya untuk saling bertukar informasi, tentang banyak hal diantaranya belajar berbicara dengan bahasa masing-masing.
(Foto: Totok suarasurabaya.net)

Di zaman sekarang, tidak bisa dipungkiri pemakaian bahasa asing hampir jadi lebih utama dibanding bahasa Indonesia. Sejak usia anak-anak sekolah, bahasa asing lebih dibiasakan dalam komunikasi. Bukan bahasa Indonesia sebagai yang utama.

Profesor Purnawan Basundoro Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga mengatakan, lembaga pendidikan, yang secara aktif mengajarkan anak berbahasa, seharusnya mempertahankan keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi mereka.

“Okelah bahasa asing diajarkan, tapi tetap saja bahasa Indonesia itu diposisikan sebagai bahasa utama. Pelajaran bahasa asing itu sebagai bahasa yang kedua. Kita ini di Indonesia kok malah justru sebaliknya,” kara Prof. Purnawan baru-baru ini kepada Suara Surabaya dalam rangka momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Perguruan tinggi juga berperan. Program studi bahasa dan sastra harus menjadi garda terdepan, mengenalkan, dan menyosialisasikan nahasa Indonesia ke masyarakat yang lebih luas.

Adapun salah satu faktor pendorong bahasa asing lebih dipahami adalah perkembangan teknologi. Sekarang rata-rata istilahnya memakai bahasa asing. Pada akhirnya terbawa dalam komunikasi sehari-hari

Selain itu, tantangan yang menghambat bahasa Indonesia menjadi bahasa global berawal dari perasaan gengsi.

“Tantangan kita itu disebabkan perasaan kita sendiri. Kadang-kadang kita merasa bahasa kita dianggap kurang gengsi di pergaulan internasional. Sehingga di sekolah-sekolah juga semacam itu. Kita mudah menyerah dengan berbagai argumen yang digunakan bangsa lain yang memaksakan bahasanya,” ujarnya.

Padahal, kata Prof. Purnawan, kita bisa menggunakan berbagai aturan yang telah diterbitkan oleh pemerintah sebagai acuan untuk mengenalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan yang luas. “Kalau kita menyerah, upaya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa global akan gagal,” katanya.

Solusinya, masyarakt harus menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa asing secara berimbang. “Agar kita tidak seperti katak dalam tempurung kita harus mengenal bahasa asing. Bahasa kita juga diterima sebagai bahasa internasional, kita juga menerima bahasa asing sebagai bahasa pergaulan kita juga.”(iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Truk Terguling, Lalu lintas Macet

Pohon Tumbang Menutup Jalan Utama Bangkalan Kota

Truk Tabrak Tiang Listrik di Pandaan

Serikat Pekerja Blokir Basuki Rahmat Surabaya

Surabaya
Rabu, 25 November 2020
28o
Kurs