Rabu, 6 Juli 2022

Pandemi Covid-19, Tak Halangi Tim Akuntansi Ubaya Ukir Prestasi

Laporan oleh J. Totok Sumarno
Bagikan
Chikita Pricila saat berkomeptisi dan akhirnya merebuat juara nasional Kompetisi Akuntansi. Foto: Humas Ubaya

Saat pandemi Covid-19 ini, mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya) tetap semangat ukir prestasi nasional, raih juara II National Accounting Paper Competition 2020.

Tim Akuntansi Universitas Surabaya (Ubaya) ini membawakan judul paper Fenomena Crypto Asset: Bagaimana Akuntansi Keuangan dan Perpajakan Merespon? (Penekanan Pada Standar Di Indonesia)”, yang dilaksanakan secara daring oleh Universitas Muhammadiyah (UM.

Tim Akuntansi Ubaya beranggotakan Daniel Wiranata Dayan dan Chikita Priscila berhasil mengalahkan 70 tim yang berasal dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia.

Chikita Priscila menjelaskan bahwa bentuk kompetisi tidak hanya sekedar pembuatan dan pengumpulan paper, namun dilanjutkan dengan adanya presentasi serta tanya jawab oleh juri secara daring.

“Kita nggak nyangka bisa lolos di setiap babak penyisihan hingga final. Pada babak penyisihan pertama, masing-masing tim diharuskan membuat abstrak kemudian dipilih sepuluh tim terbaik yang diberikan kesempatan untuk mengumpulkan dan sekaligus juga mempresentasikan keseluruhan isi paper,” terang Chikita Priscila mahasiswi semester tujuh ini.

Chikita sapaan akrab Chikita Priscila mahasiswi asli Surabaya ini mengaku jika ada dua tahap yang harus dilalui untuk lolos ke babak final. Pada tahap pertama, tim Akuntansi Ubaya wajib mempresentasikan hasil paper yang telah dibuat. Selanjutnya, juri memberikan mosi (topik) dan beberapa pertanyaan yang harus dijawab dengan durasi waktu yang telah ditentukan.

“Ada sepuluh mosi yang sudah disiapkan oleh juri. Tahap mosi ini sifatnya impromptu dan pertanyaan harus dijawab dengan durasi waktu tiga menit. Akhirnya, kami mendapatkan mosi atau topik terkait manajemen lingkungan,” jelas Chikita.

Persiapan kompetisi, lanjut Chikita dilakukan kurang lebih selama satu bulan. Isi paper yang dibuat Chikita dan Daniel membahas mengenai alat pembayaran digital di era milenial atau sering disebut dengan cryptocurrency.

Fenomena cryptocurency ini di Indonesia belum menjadi alat pembayaran yang sah atau diterima secara umum. Namun, beberapa negara seperti Jepang dan US sudah menerapkan bahkan telah menciptakan mata uang sendiri secara digital.

“Di Indonesia belum resmi, maka belum ada standar akuntansi atau pajak yang mengatur. Jadi kami mencoba mengkaji bagaimana karakteristik Crypto Asset dan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan). Apakah lebih cocok setara kas atau instrumen keuangan? Crypto Asset ini sifatnya mendunia contohnya seperti Bitcoin,” papar Chikita.

Dibandingkan kompetisi sebelumnya, kali ini Chikita mengungkapkan adanya pengalaman menarik dan tantangan yang dirasakan ketika berkompetisi di tengah pandemi Covid-19. Mahasiswi berusia 21 tahun ini menyebutkan ada keuntungan dan pelajaran yang bisa dipetik dengan mengikuti kompetisi secara daring. Satu diantaranya adalah lebih menghemat waktu dan tenaga.

“Ini pengalaman pertama mengikuti kompetisi secara daring, sejauh ini menyenangkan tetapi juga ada tantangannya. Asyik karena tidak perlu datang ke lokasi untuk menunggu giliran atau pengumuman pemenang. Kalau online waktunya lebih efisien, jadi tidak terlalu lama menunggu dan kita bisa melakukan aktivitas yang lain,” cerita Chikita.

Chikita menambahkan bahwa dirinya sempat menggunakan telepon dan laptop secara bersamaan ketika kompetisi berlangsung. Kendala yang dihadapi satu diantaranya adalah kesulitan untuk bertemu dan harus mengikuti kompetisi secara terpisah dengan Daniel sebagai satu tim.

“Jadi waktu latihan kompetisi juga dilakukan secara daring dan menggunakan telepon dalam membahas materi. Begitu pula saat kompetisi berlangsung, saya menelepon Daniel dan layar monitor berhadapan dengan juri. Tantangannya, kami harus kompak dan berbagi tugas,” kata alumnus SMA Kristen Petra 5 Surabaya.

Dengan paper karyanya pada kompetisi berskala nasional ini, Chikita berharap semoga pendidikan di Indonesia bisa memasukkan fenomena Crypto Asset ke mata kuliah khususnya bidang studi Akuntansi.

Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dan membantu generasi milenial agar tidak kalah bersaing di dunia kerja yang serba digital serta semakin maju. “Semoga melalui kompetisi ini, saya dapat memotivasi teman atau adik tingkat yang lain untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi secara daring di bidang akuntansi dan membawa nama baik Ubaya,” pungkas Chikita.(tok/lim)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
28o
Kurs