Jumat, 3 Februari 2023

Pekerja Lepas Berpenghasilan di Bawah Rp1 Juta per Bulan Meningkat 47 Persen

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi pekerja lepas. Foto: flourishventures.com

Berdasarkan hasil laporan Indonesia Spotlight, survei yang digelar Flourish Ventures sampai August 2020 lalu, jumlah pekerja lepas (pekerja independen/gig workers) berpenghasilan Rp1 juta per bulan di Indonesia melonjak tinggi.

Indonesia Spotlight Agustus 2020 yang memuat respons pekerja lepas di Indonesia atas dampak Pandemi Covid-19 adalah edisi ketiga seri laporan Flourish bertajuk The Digital Hustle: Gig Worker Financial Lives Under Pressure.

Flourish Ventures adalah perusahaan modal ventura global dengan portofolio investasi yang ada di Indonesia dan seluruh Asia. Survei itu ditujukan untuk mengevaluasi bagaimana pekerja lepas mengatasi Pandemi Covid-19.

Bermitra dengan perusahaan riset 60 Decibels dan perusahaan perintis untuk pekerja lepas, Flourish menjalankan survei dalam jaringan pada Juni 2020 melibatkan 586 pekerja lepas yang bergerak di berbagai sektor informal di Indonesia.

Para pekerja lepas yang menjadi responden antara lain 221 pengemudi berbagi tumpangan (ridesharing), 191 penyedia jasa rumah (asisten rumah tangga atau ahli kecantikan), 109 pedagang daring, dan 65 kurir pengiriman.

Hasil survei terhadap para pekerja lepas itu, sebagian besar dari mereka mengaku terkena dampak besar selama Pandemi Covid-19. Sebanyak 86 persen responden menyatakan penghasilan mereka berkurang akibat pandemi.

Salah satu temuan rangkaian survei Flourish menunjukkan, jumlah pekerja lepas di Indonesia yang berpenghasilan lebih dari Rp3 juta (200 Dolar AS) per bulan mengalami penurunan tajam pada Juni/Juli 2020.

Pada Maret 2020 lalu, jumlah pekerja lepas di Indonesia yang berpenghasilan lebih dari Rp3 juta per bulan sebanyak 43 persen. Sedangkan pada Juni/Juli jumlahnya menjadi hanya 5 persen.

Sebaliknya, pekerja lepas dengan penghasilan kurang dari Rp1 juta (70 Dolar AS) per bulan melonjak tinggi pada periode yang sama. Dari hanya 8 persen pada Maret menjadi 55 persen pada Juni/Juli.

Pekerja lepas yang ada di kota-kota besar yang paling terkena dampak. Sebanyak 63 persen responden di kota besar mengaku kehilangan penghasilan, sedangkan di kota lebih kecil hanya 49 persen.

Tidak hanya itu, hasil survei juga menyebutkan, sebanyak 60 persen responden mengaku hidup dalam tekanan akibat adanya kemungkinan kehilangan sumber penghasilan utama mereka.

Para responden itu khawatir kalau sampai mereka kehilangan sumber penghasilan utama, mereka tidak akan bisa memenuhi pengeluaran rumah tangga selama satu bulan tanpa meminjam uang.

Tilman Ehrbeck Managing Partner di Flourish Ventures menyatakan, pada masa penurunan ekonomi akibat pandemi COVID-19, pekerja independen atau gig worker secara signifikan terdampak dan rentan mengalami kesulitan finansial.

Flourish sebagai investor modal Ventura Global yang berfokus pada investasi Fintech tahap awal, kata Tilman, menaruh perhatian besar pada ekonomi dengan sistem gig workers.

Ekonomi dengan sistem pekerja independen atau gig workers memungkinkan jutaan pekerja di sektor informal Indonesia, yang kurang diperhatikan industri finansial, meresmikan mata pencaharian mereka dan lebih terhubung ke keuangan digital,” ujarnya.

Karena itulah, Flourish melakukan riset The Digital Hustle: Gig Worker Financial Lives Under Pressure. Tujuannya, untuk memahami bagaimana perusahaan Fintech bisa melayani para pekerja independen, individu, dan usaha kecil yang rentan kesulitan selama krisis dengan lebih baik.(den/lim)

Berita Terkait