Rabu, 30 September 2020

Pemerintah Mengklaim Kasus Aktif Covid-19 di Berbagai Daerah Mengalami Penurunan

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Dokter Reisa Broto Asmoro Juru Bicara Satgas Covid-19 memberikan keterangan di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (14/9/2020). Foto: Biro Pers Setpres

Dokter Reisa Broto Asmoro Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 mengungkapkan, rata-rata kasus aktif di berbagai daerah cenderung mengalami penurunan.

Data per hari ini, dia menyebut jumlah kasus aktif sebanyak 54.277 kasus, menurun dibandingkan sehari sebelumnya sebanyak 54.649 kasus.

“Kalau melihat kasus aktifnya, terjadi penurunan di beberapa tempat,” ucapnya dalam keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (14/9/2020).

Untuk sebaran kasus aktif per provinsi, lanjut Dokter Reisa, angka tertinggi ada di DKI Jakarta dengan 11.436 kasus aktif, mengalami penurunan dari hari sebelumnya sebanyak 12.078 kasus.

Kasus aktif tertinggi kedua adalah Provinsi Jawa Barat dengan 6.443 kasus. Jumlah itu mengalami kenaikan dari hari sebelumnya sebanyak 6.404 kasus.

Lalu, yang tertinggi ketiga di Jawa Tengah sebanyak 5.439 kasus mengalami penurunan dari hari sebelumnya sebanyak 5.518 kasus.

“Memang jumlah kasus aktif fluktuatif, tetapi dari data hari ini dapat dikatakan rata-rata jumlah kasus aktif di Indonesia banyak mengalami penurunan,” imbuhnya.

Pada tingkat kesembuhan hari ini, ada tambahan 3.395 kasus dan kesembuhan total menjadi sebanyak 158.405 kasus dengan recovery rate (tingkat kesembuhan) di angka 71 persen.

“Angka kesembuhan di Indonesia cukup tinggi. Artinya, tujuh di antara 10 orang yang terkena Covid-19 sudah sembuh,” jelasnya.

Sedangkan penambahan kasus positif baru, per hari ini sebanyak 3.141 kasus dan kumulatifnya 221.523 kasus.

Lebih lanjut, Reisa menginformasikan dari data Kementerian Kesehatan tentang bed occupancy ratio (BOR) atau ketersedian tempat tidur dalam kondisi aman.

Kondisi itu, menurutnya bisa mengantisipasi kalau terjadi lonjakan 20 persen (kasus baru) sesuai ketentuan World Health Organization (WHO).

“Tetapi tentu kita semua tidak mengharapkan (lonjakan) itu terjadi, dan tempat tidur di faskes akan terisi,” katanya menambahkan.

Pada kesempatan itu, Dokter Reisa mengimbau masyarakat di seluruh Indonesia untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun masih diberlakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Penerapan protokol kesehatan harus dilakukan bersama-sama. Tidak mungkin hanya menggantungkan pada pemerintah saja. Kampanye menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan menghindari kerumunan harus dilakukan secara masif,” tegasnya.

Pemerintah, dalam beberapa pekan lalu sudah mengeluarkan berbagai upaya seperti surat edaran dan imbauan. Seperti tentang jam kerja, jumlah pegawai dalam satu ruangan kerja termasuk peserta rapat harus dibatasi dan diatur agar jaga jarak fisik tetap diterapkan.

Selain itu, pemerintah sudah melakukan 3T yaitu testing, tracing dan treatment. Lalu, masyarakat perlu menerapkan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak aman dan mencuci tangan termasuk di dalam lingkungan keluarga.

Reisa menyarankan masyarakat yang sedang menjalani perawatan kesehatan, untuk tetap semangat dan optimistis. Bagi yang sehat tetap disiplin karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Secara khusus, dia mengingatkan masyarakat jangan meremehkan atau tidak percaya pada Covid-19.

“Warna zona risiko di suatu daerah bukan dibuat tanpa data. Semakin kita disiplin, pandemi pasti akan mereda. Jadi mari kita kompak dan disiplin. Orang Indonesia selalu bisa. Pemerintah melakukan 3T, dan masyarakat melakukan 3M,” pungkasnya.(rid/tin)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Rabu, 30 September 2020
34o
Kurs