Minggu, 27 September 2020

Penipuan Lewat Telepon Masih Marak, Masyarakat Diminta Hati-Hati

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi.

Penipuan bermodus bisnis pulsa telepon terjadi di Kota Surabaya. Rion Ari Widya Putra, warga Surabaya, yang menjadi korban penipuan tersebut mengatakan bahwa pelaku mengaku saudara jauh mertua korban.

“Pelaku menelepon mertua saya. Mengaku saudara dari luar pulau. Mertua saya tanya, dapat nomor dari mana? Pelaku menyebutkan “Budhe Wiji” saudara mertua yang ada di Tulungagung. Jadi mertua saya percaya,” ujarnya kepada Radio Suara Surabaya, Rabu (24/6/2020).

Selanjutnya, pelaku menawarkan untuk berbisnis pulsa. Kebetulan, Rion juga berjualan pulsa di rumahnya.

Pelaku menawarkan untuk memasukkan bisnis pulsa Rion ke perusahaannya di Kalimantan Timur. Untuk meyakinkan saya, dia mengirim ID Card-nya di perusahaan itu. Kata pelaku, setiap driver di perusahaannya mendapat jatah pulsa. Nominal pulsa Rp100 ribu dihargai seharga Rp135 ribu. Rion pun tertarik dan mengiyakan tawaran pelaku. Lalu, pelaku bilang akan mengajukan ke pimpinannya, manajer keuangan bernama Andre.

Rion kemudian ditelepon orang yang ngakunya Andre. Katanya, “Ini saudara Bapak mengajukan kontrak jual pulsa ke perusahaan. Akan diajukan kontraknya. Sebentar lagi Bapak saya telepon lagi.” Komplotan pelaku yang mengaku bernama Andre menelepon lagi. Katanya pengajuan bisnis pulsa Rion telah disetujui dan akan dikontrak untuk sebulan dulu.

“Saya diminta deposit sebesar Rp13 juta, biaya kompensasi Rp500 ribu, dan Rp300 ribu untuk dicoba di tiga provider, Telkomsel, XL, dan Indosat,” kata Rion.

Pelaku lantas mengirimkan puluhan nomor telepon untuk diisi pulsa masing-masing per nomor R400 ribu. Alasannya ada driver yang mau ke luar kota harus dikirimi pulsa.

“Semua terjadi dalam semalam (Selasa, 23 Juni 2020). Malam itu juga sampai jam 11 malam. Totalnya sampai Rp9 juta lebih. Saya ada bukti transfernya,” ujar Rion.

Pelaku berjanji akan membayar pulsa tersebut via transfer bank, tapi dia beralasan butuh waktu 2 jam menempuh perjalanan ke kota. Namun, sampai sekarang tidak ada transferan uang masuk ke rekening Rion.

“Pelaku menunjukkan struk Bank Mandiri palsu. Saudara saya yang di Bank Mandiri Kalimantan mengatakan tidak ada transaksi di jam itu. Pelaku menghubungi saya menggunakan WhatsApp bisnis. Sampai hari ini dia masih menelepon lagi, minta ditransfer lagi,” kata Rion.

Penipuan dengan modus tersebut, boleh dibilang bukan baru. Modus berpura-pura menjadi orang yang dikenal memang kerap dilakukan pelaku.

Sayangnya, karena lengah sang korban seringkali tidak merasa akan menjadi bulan-bulanan pelaku.

Untuk mencegah agar pelaku melakukan hal serupa pada korban lainnya,  Badan Regulasi Telekomunikasi  (BRTI) Indonesia mengajak masyarakat hati-hati dan melapor jika ada kejadian seperti ini.

“Masyarakat bisa mengadukan SMS, atau telepone penipuan pada BRTI, lewat twitter @aduanBRTI.  Cukup di screen shoot bukti-buktinya lalu dimention ke kami. Nanti oleh BRTI akan diteruskan ke provider, selanjutnya jika terbukti penipuan bisa diblokir nomer penipu 1 x 24 jam,” terang Dr Agung  Harsoyo Komisioner BRTI pada Radio Suara Surabaya. (iss/rst)

 

 

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Bintang Rahmadani

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Minggu, 27 September 2020
29o
Kurs