Sabtu, 26 September 2020

Soal Surabaya, Jubir: Hanya Satgas COVID-19 Yang Tentukan Zona Risiko Daerah

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Ilustrasi.

Dokter Wiku Adisasmito Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menegaskan, Satgas Covid-19 yang berwenang menentukan peta atau zonasi risiko di seluruh wilayah Indonesia.

Zonasi nasional yang ada dalam sistem bernama Bersatu Lawan Covid (BLC), bisa diakses oleh masyarakat di alamat www.covid19.go.id.

Penetapan zonasi risiko tiap daerah, menurutnya, menggunakan 15 indikator antara lain epidemiologi, surveilans, dan pelayanan kesehatan masyarakat.

Keterangan itu disampaikan Dokter Wiku dalam konferensi pers secara virtual dari Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (6/8/2020), merespon klaim Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya yang menyebut daerahnya sudah zona hijau.

“Jadi, zonasi nasional secara resmi hanya dilakukan oleh Satgas Covid-19 dan bisa diakses melalui www.covid19.go.id dengan suatu sistem yang disebut BLC bersatu lawan Covid. Data itu menjadi acuan kita bersama karena ada 15 indikator yang digunakan seperti epidemiologi, surveilans, kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Di situ terlihat semua data nasional dari seluruh kabupaten kota terintegrasi menjadi satu data rill yang didapat dari pengumpulannya yang diintegrasikan, dikoleksi oleh Kementerian Kesehatan yang kemudian diintegrasikan jadi satu di dalam website,” ucapnya.

Sebelumnya, M Fikser Wakil Koordinator Hubungan Masyarakat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Surabaya mengklarifikasi pernyataan Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya yang disebut ‘mengklaim’ Surabaya sudah zona hijau Covid-19.

Mengudara di Radio Suara Surabaya, Fikser menyatakan, Risma tidak pernah mengatakan Surabaya sudah zona hijau Covid-19. Ia mengatakan, polemik ini bermula saat Wali Kota Surabaya melakukan teleconference dengan warga Gunung Anyar, Surabaya pekan lalu mengenai pembukaan kembali akses jalan Runggut Menanggal.

“Ibu bicara dengan tokoh masyarakat, situasi Surabaya seperti apa. Yang jadi rujukan website resmi Kemenkes. mulai tanggal 9 Juli ke belakang, kita sudah hijau. Ibu tidak bicara zona. Kondisi Surabaya berdasarkan website itu warna hijau. Artinya rate transmissionnya di bawah satu,” ujarnya di Radio Suara Surabaya pada Selasa (4/8/2020).

Ia menambahkan, rate of transmission rendah jika penyebaran bisa dikendalikan, tingkat kesembuhan tinggi, dan kematian bisa dikendalikan. Ia juga menjelaskan, konteks Wali Kota berbicara saat itu untuk mengingatkan agar protokol kesehatan tetap dijaga untuk menjaga perkembangan positif tersebut.

“Itu yang ibu (Risma) sampaikan. Tidak ada bicara zona, tidak bicara lain-lain itu. Tapi perkembangan di media kan macem-macem,” tegasnya.

Namun, saat ditanya apakah hal itu artinya Surabaya saat ini masih berada di zona merah, Fikser tidak menjawab secara langsung.

“Ini (data) Kementerian Kesehatan. Lalu kita percaya mana lagi. Kita kan berpatokan dengan yang diberikan. Ini bukan bicara zona. Kalau zona ada 15 indikator yang jadi pegangan. Ini kan bicara RT (Rate of Transmission). Bukan zona. Tapi perkembangannya kan banyak yang nulis zona. Kita nggak tau sumbernya dari mana,” jawabnya.

Ia mengatakan, Pemkot berharap, masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Protokol kesehetan harus tetap jadi pegangan. Perhatian pemerintah tetap di protokol kesehatan,” pungkasnya.(rid/tin/rst)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Meinara Iman Dwihartanto

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Sabtu, 26 September 2020
28o
Kurs