Senin, 28 September 2020

Surabaya Zona Oranye di Peta Risiko Covid-19

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Kota Surabaya berwarna oranye berdasarkan Peta Risiko Bersatu Lawan Covid-19 yang dikelola Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat, Senin (10/8/2020). Foto: Istimewa

Kota Surabaya berwarna oranye berdasarkan Peta Risiko Bersatu Lawan Covid-19 yang dikelola Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pusat, Senin (10/8/2020).

Sementara, di peta yang sama, yang termuat di situs resmi covid19.go.id itu, Kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo kembali merah. Tiga daerah ini biasa disebut Surabaya Raya.

Tiga daerah di Surabaya Raya itu sampai sekarang merupakan kontributor terbesar penularan Covid-19 di Jawa Timur. Angka kasus konfirmasi di tiga daerah itu di atas 1.000 orang.

Data dari Satgas Covid-19 Jatim sampai Minggu (9/8/2020), angka positif Covid-19 di Surabaya 9.626 dengan penambahan kasus 118 per hari.

Di urutan kedua, total kasus Sidoarjo mencapai 3.688 orang dengan penambahan 40 kasus baru. Sedangkan Gresik total sebanyak 2.082 kasus dengan penambahan 30 kasus baru.

Dokter Joni Wahyuhadi Ketua Rumpun Kuratif Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim mengatakan, pewarnaan risiko setiap daerah ini ditentukan Gugus Tugas pusat.

Ada 15 kriteria dalam pewarnaan risiko atau zonasi tingkat risiko itu yang terbagi dalam tiga faktor besar: Epidemiologi, surveilans, dan pelayanan kesehatan.

“Dari sisi epidemiologi yang paling penting, yang nilainya paling banyak 10 persen itu penurunan jumlah meninggal misalnya. Jadi bukan kumulatif, tapi penurunannya,” kata Joni.

Dia bilang, evaluasi situasi penularan Covid-19 ini sebenarnya baru bisa dikatakan menurun selama 14 hari atau dua minggu. Pewarnaan, kata Joni hanya untuk memudahkan orang melihat risiko suatu daerah.

“Jadi risiko sedang misalnya, oranye, itu bukan berarti orang tidak bisa tertular. Masih bisa. Karena kasusnya masih ada. Bahkan, yang sudah hijau pun tetap harus hati-hati. Artinya protokol kesehatan tetap harus ditegakkan,” katanya.

Berkaitan pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka misalnya, dia juga menekankan, itu harus dilakukan secara lebih hati-hati. Sebagaimana pesan Mendikbud.

“Pak menteri, kan, bilang harus bertahap. Harus hati-hati. Bahkan untuk di zona hijau pun, bisa jadi ada strain (virus) yang baru aktif lebih dari dua minggu, jadi masih ada potensi penularan,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Pemkot Surabaya berencana membuka pembelajaran daring dengan melakukan simulasi pembalajaran tatap muka di sejumlah sekolah di Surabaya.

Selain itu, Pemprov Jatim sendiri mulai 18 Agustus mendatang juga akan melakukan uji coba pembelajaran tatap kecuali untuk sekolah yang ada di zona merah risiko penularan Covid-19.(den/ipg)

Berita Terkait
NOW ON AIR SSFM 100

Radityo Jufriansah

Potret NetterSelengkapnya

Kemacetan di Raya Taman arah Bundaran Waru

Bypass Krian arah Mojokerto Macet

Underpass Satelit arah Mayjen Sungkono Macet

Kemacetan di Manukan

Surabaya
Senin, 28 September 2020
27o
Kurs