Senin, 19 April 2021

Aktifitas Kegempaan Meningkat, Masyarakat Diminta Tidak Panik

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Grafis: suarasurabaya.net

Update informasi gempa Majene dan Mamuju hingga Minggu 31 Januari 2021 pukul 14.00 WITA menunjukkan telah terjadi 38 kali gempa susulan (aftershocks). Sedangkan total jumlah gempa sejak terjadinya gempa pembuka pada 14 Januari lalu tercatat sebanyak 47 kali dengan aktivitas gempa dirasakan sebanyak 9 kali.

BMKG telah melakukan perhitungan peluruhan gempa Majene dan Mamuju berdasarkan data gempa susulan (aftershocks) sejak tanggal 15–30 Januari 2021. Hasil pehitungan peluruhan gempa menunjukkan bahwa gempa susulan diperkirakan akan berakhir sekitar tiga hingga 4 minggu pasca terjadinya gempa utama.

“Angka ini bukanlah nilai mutlak tetapi sebagai sebuah gambaran estimasi kapan berakhirnya gempa susulan” kata Muhamad Sadly Deputi bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berdasarkan rilis yang diterima suarasurabaya.net.

Dengan memahami bahwa gempa Majene dan Mamuju memiliki produktivitas gempa susulan yang sangat rendah dan didukung perhitungan estimasi peluruhan gempa, maka zona gempa Majene dan Mamuju telah memasuki kondisi post seismic, mudah mudahan situasi dan kondisi di Majene dan Mamuju segera aman kambali.

Saat ini sudah dapat dipertimbangkan, bagi warga yang rumahnya masih kuat dan tidak rusak saat terjadi gempa utama dan lokasinya jauh dari wilayah rawan longsor dapat kembali ke rumah atas pertimbangan dan izin dari BPBD setempat.

Selama periode 1 hingga 31 Januari 2021, BMKG mencatat telah terjadi peningkatan aktivitas gempa tektonik di wilayah Indonesia sebanyak 646 kali dalam berbagai magnitudo dan kedalaman. Jumlah ini di dapat lebih tinggi mengingat rata-rata di bulan Januari terjadi gempa sebanyak 555 kali.

BMKG mencatat gempa dirasakan (felt earthquake) sebanyak 82 kali, jumlah ini sangat tinggi mengingat Januari 2020 terjadi gempa dirasakan 54 kali. Saat ini hampir setiap hari di wilayah Indonesia terjadi gempa dirasakan bahkan pada 14 Januari 2021, dalam sehari terjadi gempa dirasakan sebanyak 8 kali.

Selama bulan Januari 2021 di Indonesia terjadi gempa merusak 3 kali, yaitu (1) Gempa Bahodopi, Morowali, Sulteng, magnitudo 4,9 pada 4 Januari 2021 menyebabkan beberapa rumah rusak. (2) Gempa Majene dan Mamuju, Sulbar, magnitudo 5,9 dan 6,2 pada 14 dan 15 Januari 2021 menyebabkan 105 orang meninggal dunia dan ribuan rumah rusak dan (3) Gempa Talaud, Sulut, magnitudo 7,1 menyebabkan beberapa rumah rusak.

“Untuk mengidentifikasi dan mewaspadai wilayah rawan bencana gempa dapat didasarkan kepada: (1) kawasan yang diduga menjadi zona seismic gap, (2) distribusi spasial b-value, dan (3) zona duga aktif bulan januari 2021” katanya.

Seismic gap adalah zona sumber gempa potensial tetapi sudah lama belum terjadi gempa besar, zona ini diperkirakan sedang mengakumulasi medan tegangan pada kerak bumi dimana satu saat nanti akan dilepaskan sebagai gempa kuat.

Distribusi spasial b-value menggambarkan hubungan antara frekuensi dan magnitudo gempabumi. Peta b-value dapat menggambarkan sebaran kawasan yang sudah sering terjadi gempa (nilai b-value tinggi) dan kawasan yang jarang terjadi gempa sehingga dapat berpotensi terjadi gempa (nilai b-value rendah).

Zona duga aktif adalah kluster aktivitas seismisitas yang dapat menjadi petunjuk terkait aktivitas gempa pembuka (foreshocks). Beberapa gempa besar yang pernah terjadi beberapa diantaranya didahului oleh munculnya kluster aktivitas gempa pembuka semacam ini.

Berdasasarkan analisis terhadap data seismic gap, distribusi spasial b-value, dan zona duga aktif bulan Januari 2021, maka beberapa daerah di Indonesia yang berpotensi terjadi gempa dan perlu diwaspadai adalah (1) Kep. Mentawai (2) Lampung (3) Selat Sunda (4) Banten (5) Selatan Bali (6) Sulawesi Utara (7) Aceh (8) Sorong (9) Matano dan (10) Lembang.

“Dengan meningkatnya aktivitas gempa pada bulan Januari 2021 dan informasi potensi gempa, kami mengimbau masyarakat agar tidak panik tetapi tetap waspada,” kata Dwikorta dalam rilisnya.

Menurutnya, masyarakat dan pemerintah harus merespon informasi tersebut dengan upaya mitigasi yang konkret. Seperti dengan membangun rumah tahan gempa, menata ruang pantai yang aman tsunami, belajar cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami, memahami evakuasi mandiri tsunami, dan meningkatkan kemampuan dalam merespon peringatan dini.(tin/lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Asap Kebakaran Semolowaru

Kecelakaan di Lawang

Truk Bermasalah di Trosobo

Eh Eh, Capek. Istirahat Dulu

Surabaya
Senin, 19 April 2021
32o
Kurs