Sabtu, 4 Februari 2023

Efek Samping Vaksin Covid-19 Sinovac

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Penny K. Lukito Kepala BPOM (tengah) dalam Konferensi Pers Emergency Use Authorization (EUA) Vaksin Covid-19 yang disiarkan di YouTube BPOM, Senin (11/1/2021) pukul 15.40 WIB. Foto: Tangkapan layar

Penny K. Lukito Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan, vaksin Covid-19 diharapkan menjadi salah satu penentu dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Saat ini pemerintah Indonesia telah melakukan pengadaan vaksin Coronavac yang diproduksi Sinovac Biotech dan didaftarkan di Indonesia oleh PT Bio Farma. Dalam pengembangan vaksin ini, telah dilaksanakan uji klinis di Bandung dengan subyek 1.600 orang. Uji klinis juga dilangsungkan di Brasil dan Turki.

Secara keseluruhan, kata Penny, vaksin Covid-19 Coronavac aman dengan kejadian efek samping yang ditimbulkan ringan hingga sedang, yaitu efek samping lokal berupa nyeri, iritasi, pembengkakan, serta efek samping sistemik berupa nyeri otot, fatigue (kelelahan), dan demam.

Sementara, frekuensi efek samping dengan derajat berat seperti sakit kepala, gangguan di kulit atau diare yang dilaporkan hanya sekitar 0,1-1 persen.

“Efek samping tersebut tidak berbahaya dan dapat pulih kembali, sehingga kejadian efek samping ini juga didapatkan pada subyek yang mendapatkan plasebo (obat kosong),” ujar Penny melalui siaran pers di YouTube BPOM, Senin (11/1/2021) sore.

Sebelumnya diberitakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) Coronavac, vaksin Covid-19 produksi Sinovac Biotech Inc. yang didaftarkan oleh Bio Farma, pada Senin (11/1/2021).

Pengambilan keputusan ini, kata Penny, didasarkan pada rekomendasi hasil rapat pleno anggota Komite Nasional Penilai Obat, para ahli dalam bidang imunologi, Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI), dan ahli epidemiologi pada 10 Januari 2021.

Terkait efikasi atau data dukung khasiat Coronavac, vaksin ini telah menunjukkan kemampuan pembentukan antibodi di dalam tubuh dan kemampuan membunuh atau menetralkan virus (imunogenisitas).

Pada uji klinis fase tiga di Bandung, imunogenisitas Coronavac menunjukkan hasil yang baik. Dalam 14 hari setelah vaksin, kemampuan vaksin membentuk antibodi atau seropositif sebesar 99,74 persen. Tiga bulan setelah penyuntikan, seropositif masih tinggi, yaitu 99,23 persen.

Sedangkan hasil analisis terhadap efikasi vaksin Coronavac dari uji klinis di Bandung menunjukkan sebesar 65,3 persen. Berdasarkan laporan efikasi di Turki sebesar 91,25 persen, serta di Brasil 78 persen. Hasil tersebut sudah sesuai persyaratan WHO, di mana hasil efikasi minimal 50 persen.(iss/ipg)

Berita Terkait