Jumat, 3 Desember 2021

Indonesia Rawan Gempa dan Tsunami, Masyarakat Harus Siaga

Laporan oleh Manda Roosa
Bagikan
Webinar dengan tema “Membangun Masyarakat Siaga Gempa dan Tsunami” dalam rangka Hari Santri Nasional dan HUT Propinsi Jawa Timur ke 76, Senin(18/10/2021). Foto: Istimewa

Dr. Daryonno, Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami, BMKG mengatakan Indonesia merupakan daerah rawan gempa, rata rata lebih dari 6.400 gempa per tahun, dan yang merusak lebih dari 800 kali per tahun.

“Tren potensi tsunami juga semakin meningkat. Belum ada kemajuan yang signifikan untuk mengurangi dampak gempa. Sehingga masih didapat korban jiwa dan material akibat gempa,” jelas Dr Daryonno dalam webinar dengan tema “Membangun Masyarakat Siaga Gempa dan Tsunami” dalam rangka Hari Santri Nasional dan HUT Propinsi Jawa Timur ke-76, Senin (18/10/2021).

Ia menegaskan, bahaya tsunami dan gempa masih menghantui masyarakat Jawa Timur. Selatan Jawa Timur mempunyai potensi gempa megatrust dan patahan yang berpotensi memicu tsunami besar. Untuk itu diperlukan mitigasi atau kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bahaya gempa ke depan.

“Gempa megatrust dimungkinkan dampaknya tidak hanya di Pantai Selatan Jawa Timur tapi juga bisa sampai Surabaya dan Gresik. Selain Megatrust, Jawa Timur juga merupakan potensi sumber berbagai jenis gempa, sehingga Jawa Timur merupakan daerah yang rentan dari gempa,” ingatnya.

Kewaspadaan masyarakat terhadap gempa di Jawa Timur merupakan upaya, untuk mengurangi potensi dampak gempa sangat diperlukan. Standard bangunan tahan terhadap gempa diperlukan mengingat dampak merusak dari gempa.

Kata Daryonno, selama ini di Jawa Timur, belum ada standart bangunan terhadap gempa, atau rumah ramah gempa, sehingga dampak merusak gempa masih berdampak signifikan terhadap korban jiwa dan kerusakan bangunan.

“Penciptaan rumah tahan gempa dan standart bangunan tahan gempa, merupakan solusi terhadap gempa yang tidak dapat dielakkan ke depan,” urainya.

Pemahaman masyarakat untuk penyelamatan diri sangat diperlukan. Kerjasama semua pihak didaerah dalam proses penyelamatan sangat signifikan untuk mengurangi kemungkinan korban jiwa dan dampak gempa.

“BMKG telah menyiapkan beberapa early warning system untuk potensi tsunami dalam berbagai aplikasi supaya masyarakat pesisir, memahami bahaya dalam menghadapi bahaya tsunami selain juga sudah tersedia peta gempa yang bisa dipakai sebagai acuan dalam menata kawasan untuk tanggap bencana serta menjadi acuan dalam menetapkan jalur evakuasi terhadap potensi tsunami,” paparnya.

Selain itu, BMKG juga menyediakan Training of Trainer (ToT) untuk menyiapkan masyarakat untuk tanggap gempa, antara lain dalam bentuk sekolah tanggap gempa juga pelatihan evakuasi mandiri untuk menyiapkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap gempa.

“Wilayah wisata bisa berdampingan dengan daerah gempa, seperti daerah-daerah lain di luar negeri, tidak perlu ditakutkan. Yang penting adalah menyiapkan kesiagaan terhadap bencana, dan diperlukan sistem mitigasi gempa serta insan-insan siaga bencana yang bersertifikat,” kata Daryonno. (man/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Jumat, 3 Desember 2021
28o
Kurs