Jumat, 26 Februari 2021
Angka Kasus Coviod-19 Melonjak

Ketua IDI Jatim: Seakan Kita Bisa Bertahan, Tapi Kaki Hampir Lumpuh

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Petugas kesehatan memakai kelengkapan alat pelindung diri ketika simulasi kesiapsiagaan di ruang isolasi di Rumah Sakit Pelindo Husada Citra (PHC), Surabaya, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020). Foto : Antara

Melonjaknya angka kasus Covid-19 diikuti dengan banyaknya dokter, perawat dan tenaga kesehatan yang terinfeksi corona, bahkan meninggal dunia.

dr. Sutrisno Sp.OG Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur mengatakan, untuk wilayah Jatim saja sudah ada 53 dokter yang meninggal dunia akibat Covid-19. Angka itu belum dengan jumlah perawat dan tenaga kesehatan lain yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Dengan banyaknya dokter dan tenaga kesehatan yang terinfeksi, dr. Sutrisno mengatakan, pelayanan Covid-19 saat ini tidak bisa maksimal. Ini dikarenakan hampir separuh dari jumlah nakes harus isolasi mandiri (isoman) karena terinfeksi virus.

“Tenaga kesehatan yang positif (Covid) itu buanyak. Misal bertempur itu tidak full team, karena separuhnya yang lain harus isoman. Nanti kalau sudah sembuh, bertempur lagi. Yang bertempur sebelumnya ganti yang sakit, gitu aja muter,” kata dr. Sutrisno kepada Radio Suara Surabaya, Sabtu (23/1/2021).

Kondisi ini tentu menjadi beban tersendiri bagi dokter dan nakes yang bekerja untuk merawat pasien Covid-19 yang jumlahnya naik secara signifikan. Tidak jarang, beberapa unit layanan kesehatan terpaksa harus ditutup sementara karena para tenaga kesehatannya juga terpapar virus.

“Kita ini seakan-akan bisa bertahan, tapi bertahan dengan kaki yang pincang, yang gemetar, dengan kaki yang hampir lumpuh. Sehingga jangan heran misal RS ini ditutup, lockdown, ya karena tidak ada lagi yang melayani,” ungkapnya.

Ia menyebut, kebanyakan nakes yang terinfeksi Covid-19 hingga kehilangan nyawa, adalah mereka yang lebih banyak bekerja di lapangan. Nakes-nakes tersebut harus berhadapan dengan pasien OTG maupun pasien yang belum jelas status Covid-nya.

“Kalau kita runut ya, kebanyakan nakes yang meninggal itu mereka-mereka yang bekerja di lapangan mulai Puskesmas, klinik, praktik pribadi, bidan, emergency unit yang pasien belum jelas statusnya. Dari sana banyak yang kena, banyak yang meninggal,” ujarnya.

Untuk itu, ia meminta untuk masyarakat agar terbuka dengan kondisi klinis mereka. Apalagi jika mereka sudah mengetahui terpapar Covid-19 atau memiliki kontak erat dengan mereka yang terinfeksi, untuk jujur kepada tenaga kesehatan yang melayani.

Karena dengan begitu, para tenaga kesehatan dapat lebih membekali diri mereka dengan penanganan khusus dan antisipasi lebih ketat terhadap virus.

“Artinya gini, saya tidak mau menunjuk yang salah. Intinya kejujuran dan keterusterangan sangat membantu kita. Juga berbuat baik kepada masyarakat lain,” imbuhnya.

Saat ini, lanjur dr. Sutrisno, pemerintah sudah mengupayakan penambahan bed untuk penanganan pasien Covid-19 yang angkanya terus bertambah. Selain itu, pelayanan-pelayanan yang tidak esensial ditiadakan sementara dan diarahkan untuk penanganan Covid-19.

“Akhirnya orang-orang yang cancer, sakit tumor jinak tertentu yang belum emergency ditunda dulu. Pengidap diabetes yang kontrol rutin, jadwalnya dikurangi. Yang punya penyakit ginjal juga begitu. Penyakit lain seolah-olah dikalahkan oleh covid, padahal jumlahnya juga besar,” ungkapnya.

Menurut dr. Sutrisno, hal itu menjadi dilema tersendiri bagi dokter dan tenaga kesehatan. Di sisi lain, mereka ingin melayani pasien secara maksimal, namun karena corona memiliki daya penularan yang cepat, akhirnya untuk sementara waktu banyak nakes yang dimobilisasi untuk penanganan covid. Ditambah jumlah nakes yang berkurang karena banyak dari mereka harus isolasi mandiri.

Dokter spesialis dari RSUD dr Saiful Anwar Malang itu menjelaskan, salah satu upaya untuk menambah jumlah nakes adalah dengan mempermudah legalisasi perizinan mereka. Sehingga dokter dan nakes muda yang baru lulus dari pendidikan, dapat membantu tenaga kesehatan yang mulai ‘bertumbangan’ di masa pandemi ini.

Selanjutnya dengan adanya vaksinasi bagi tenaga kesehatan dan mendorong daya tahan tubuh dengan mengonsumsi obat-obatan antivirus.(tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Terguling dan Muatannya Tumpah

Surabaya
Jumat, 26 Februari 2021
30o
Kurs