Senin, 23 Mei 2022

Mengenali Gejala dan Penanganan Anak Positif Covid-19

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi.

Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya melaporkan, klaster keluarga mendominasi kasus Covid-19 di Kota Surabaya.

Dr. Dominicus Husada Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unair mengatakan, hal pertama yang harus dilakukan untuk menyikapi tren itu dengan melakukan diagnosis untuk deteksi dini.

“Jika ada satu anggota keluarga sakit, anak-anak harus dites untuk memastikan kondisinya. Ini penting dilakukan untuk anak itu sendiri dan potensi anak menularkan virus,” kata Dominicus kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (29/6/2021).

Kedua, penanganannya. Kalau orang tuanya positif dan anak negatif, anak dan orang tua sama sekali tidak boleh bertemu. Kalau anak positif tanpa gejala, anak harus isolasi dengan pendamping.

Pendampingnya pun, kata Dominicus, wajib pakai masker. Selama isolasi, kebiasan mencium anak harus dihindari. Sedangkan kalau anak positif dan bergejala seperti demam atau batuk, harus dirawat di rumah sakit.

Satu hal lagi yang perlu diketahui, gejala Covid-19 pada anak tidak sama dengan orang dewasa. Dominicus bilang, jarang sekali muncul gejala pada saluran nafas seperti sesak napas pada anak.

“Kita tidak bisa memakai tolok ukur dewasa untuk anak. Anak bukan miniatur orang dewasa. Gejala paling banyak panas, gangguan saluran pencernaan, dan ada juga gejala ruam kulit. Sangat bervariasi satu anak dengan yang lainnya,” ujarnya.

Terkait tingginya tingkat kematian anak di Indonesia yang mencapai 12 persen, sedangkan di negara maju di bawah 5 persen, dokter Dominicus mengatakan, secara umum harus diakui bahwa anak di Indonesia tidak sebugar anak di negara maju.

Rendahnya tingkat kematian anak terpapar Covid-19 membuat negara maju tidak terlalu memprioritaskan vaksin anak berumur di bawah 18 tahun.

Sedangkan di Indonesia, pemerintah akan segera memberikan Vaksin Covid-19 untuk anak-anak rentang usia 12-17 tahun melalui program vaksinasi nasional.

“Kematian anak yang terpapar Covid-19 di Indonesia tinggi, tapi kematian terjadi pada kelompok anak yang sudah menderita penyakit lain seperti TBC dan kanker,” ujarnya.

Cara Membentengi Anak dari Varian Baru Covid-19

Adanya varian delta yang sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia membuat anak-anak menjadi rentan terpapar. Hal pertama yang harus dilakukan adalah deteksi dini.

“Ketika ada satu anggota keluarga yang terkonfirmasi positif, biasanya orang Indonesia malah takut anaknya dites usap (swab). Ini yang membuat anak-anak tertular tapi tidak ketahuan. Jangan takut dites,” kata dokter Dominicus.

Kedua, tegakkan protokol kesehatan. Efektivitas vaksin bisa menurun karena terus munculnya varian baru sementara penerapan protokol kesehatan tidak dilakukan secara benar.

“Jangan lupa, di dalam teori, pukulan terberat terjadi pada gelombang kedua atau ketiga karena orang sudah mulai lalai (dengan protokol kesehatan, red),” kata Dominicus.(iss/den)

Berita Terkait

Surabaya
Senin, 23 Mei 2022
30o
Kurs