Rabu, 25 Mei 2022

Mengenang Gombloh yang Sedang “Numpang” di Tugu Pahlawan

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Petugas UPTD Tugu Pahlawan saat membersihkan patung perunggu Gombloh yang kini belum dapat tempat setelah dipindahkan dari THR setahun silam. Foto: Anton suarasurabaya.net

Meski bukan pahlawan, Almarhum Soedjarwoto alias Gombloh patut dikenang. Pencipta lagu “Di Radio” dan “Berita Cuaca/Lestari Alamku” itu telah mewarnai tonggak sejarah musik di Surabaya.

Lagu-lagu ciptaan Gombloh segar dengan lirik yang peka pada zaman. Gombloh juga menyimpan semangat nasionalisme mendalam yang tertuang dalam lagu Kebyar-Kebyar.

Tidak hanya dikenal sebagai musisi dengan kepiawaian mengkomposisi nada dan lirik, kehidupannya yang nyentrik, kawan-kawannya mengenang seorang Gombloh sebagai sosok yang bersahaja.

Didit salah satunya, Perupa Surabaya penggarap patung perunggu Gobloh yang sekarang sedang menggarap patung Almarhum Basofi Sudirman, Gubernur Jawa Timur periode 1993-1998. Didit bilang, dalam hal sosial, Gombloh itu nomor satu.

“Dia itu, punya uang berapa pun, kalau temennya butuh, dikasihkan. Dia suka nyangkruk di Siola, di tempat studio rekaman Nirwana. Saya sering ketemu dia di sana, akhirnya jadi dekat,” ujarnya, Minggu (7/3/2021) lalu.

Gombloh menurutnya juga bukan orang yang gila popularitas. Kehidupan Gombloh, kata Didit, juga tidak terlalu menggelandang seperti banyak orang mengira. Karena ketika punya uang, Gombloh juga beli mobil.

“Gombloh itu bukan orang gendeng jeneng, gila tenar. Juga enggak yang terlalu gelandangan gimana. Ya natural saja. Punya uang beli mobil. Kalau enggak punya, kadang minta teman-temannya,” ujarnya.

Didit pemahat patung perunggu Gombloh saat menunjukkan master patung yang ada di rumahnya. Foto: Abidin suarasurabaya.net

Suara Surabaya Media menemui Didit di rumahnya di Wonorejo Indah Timur, Rungkut, beberapa waktu lalu. Di rumahnya, Didit masih menyimpan master patung perunggu Gombloh yang dia buat dari fiber.

“Kami sempat runtang-runtung bareng di Siola dan Balai Pemuda. Pernah suatu kali, dia (Gombloh) main ke rumah minta dibuatkan poster untuk musiknya, tapi enggak terlaksana. Waktu itu juga dia minta, ‘Dit, gawekno patung opoo aku. Patung raiku’ (Dit, bikinkan aku patung dong. Patung wajahku). Saya janjikan iya, tapi enggak tahu waktunya kapan,” ujar Didit.

Sekitar satu bulan setelah Gombloh datang ke rumahnya, Didit mendengar kabar bahwa musisi kelahiran Jombang 12 Juli 1948 itu meninggal karena sakit paru-paru yang sudah lama diderita.

“Dulu kalau ketemu saya, dia mesti minta dibelikan sari pati ayam itu. Apa namanya, saya lupa. Dia suka makan itu, ya, untuk meredakan sakitnya itu,” kata Didit.

Pemakaman Almarhum Gombloh saat itu tidak kalah fenomenal dengan artis lain di Jakarta. Begitu banyak masyarakat dari berbagai kalangan di Surabaya yang mengantar jenazah sampai ke pusaranya di pemakaman umum Tembok, Surabaya.

Pada saat itulah Didit terpikir membuat patung Gombloh untuk dia tempatkan di makam. “Tapi, terus saya pikir-pikir lagi. Kok enggak pantes, patung kok ditaruh makam. Akhirnya lama ga keturutan. Saya seperti punya utang kepada Gombloh,” ujarnya.

Sampai akhirnya, sekitaran tahun 90-an silam, Didit lupa tepatnya, dia dapat kemantapan untuk membuat Patung Gombloh yang berbahan perunggu. Dia mendapat banyak dukungan dari seniman lain di Surabaya.

“Saya mantapkan bikin patung itu. Anak-anak seniman Surabaya tahu soal ide patung ini terus mereka sepakat naruh patung ini di THR (Taman Hiburan Rakyat), untuk menghidupkan kesenian di sana. Ada harapan besar. Tapi belum sampai hidup lagi, THR sudah tutup,” ujarnya.

Patung Gombloh berbahan perunggu dengan dimensi satu meter persegi dan berat kurang lebih 2 kuintal itu dia buat di Yogyakarta. Karena menurutnya, kualitas untuk cor tuang yang bagus di sana. Dia pun melibatkan seniman-seniman perupa di Yogyakarta.

“Saya merasa berhutang janji sama Almarhum. Mungkin kalau bukan Almarhum Gombloh sampai sekarang belum saya buatkan patungnya,” kata Didit.

Beberapa waktu lalu, ketika Tri Rismaharini masih memimpin Surabaya sebagai Wali Kota, patung perunggu Gombloh di THR dipindah karena Pemkot Surabaya berencana melakukan revitalisasi.

“Saya tidak masalah mau dipindah ke mana. Syukur-syukur kalau niat Bu Risma mau bikin Museum Gombloh itu bisa diteruskan. Sebenarnya kalau memang niat, bisa kok mencari lokasi untuk museum itu,” kata Didit.

Patung perunggu Gombloh itu kini tergolek di Tugu Pahlawan. Numpang tempat di sana untuk sementara waktu, karena menurut Didit, Pemkot Surabaya sendiri masih bingung menempatkannya di mana.

“Kalau memang niat pasti bisa bikin Museum Gombloh. Saya rasa Gombloh memang layak dibuatkan museum. Lagu-lagunya bersejarah. Kebyar-kebyar juga jadi lagu nasional,” katanya.

Almarhum Joko Lelono, Ketua Komunitas Solidaritas Seniman Surabaya (SSS) yang mendorong Didit membuat patung Gombloh dan meletakkannya di THR pernah bilang, Gombloh adalah Pahlawan Seniman.

Sirikit Syah jurnalis senior Surabaya pernah menulis kenangannya tentang Leo Kristi dimuat di Kolom Duta Masyarakat, juga di blog pribadinya. Di akhir tulisannya itu, dia mengusulkan sesuatu tentang Gombloh.

“Kalau aku boleh mengusulkan pada Bu Risma. Leo Kristi, Gombloh, Buby Chen, Franky and Jane, mesti diberi penghargaan sebagai pahlawan Surabaya modern, karena mengharumkan nama Surabaya,” tulisnya.

Bagi Didit, gelar kepahlawanan seperti itu tidak berlebihan. Dia ingat betul satu peristiwa yang menunjukkan betapa Gombloh adalah seniman yang tulus, sekaligus tidak gila popularitas.

“Saya ingat betul peristiwa di Orari. Orari pengin menggelar pertunjukan musik mengundang Gombloh. Saya waktu itu kebetulan memang aktif di sana, karena saya kenal Gombloh, saya diminta mengundang dan mintanya gratis.

“Saya temui Gombloh. Dia mau asalkan acara itu tidak dikarciskan atau dikomersilkan. Begitu sudah mau manggung, Gombloh tahu ternyata tiketnya dijual. Saya sendiri enggak tahu itu.

“Gombloh itu sudah mangkel (kesal). Nyanyi berapa lagu, dia ajak seluruh panitia naik panggung buat nyanyi bersama. Setelah panitia penuh dia mundur ke belakang, turun panggung, terus bilang ke saya, ‘ayo terno mulih. Jancuk. Karcise didol’ (ayo, antarkan saya pulang, sialan, karcisnya dijual).

Begitulah Gombloh, kata Didit. Di luar musik-musiknya yang sangat menginspirasi musisi lain setelahnya, Gombloh adalah pribadi dengan banyak cerita yang dikenang unik oleh kawan-kawannya.(den/bid)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 25 Mei 2022
27o
Kurs