Sabtu, 4 Desember 2021

Netter: Bahasa Daerah Makin Tersisih karena Keluarga Tak Mengajarkan

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi komentar Netter. Foto: Pixabay

Masih dalam momentum Bulan Bahasa yang ikonik dengan diskursus kesusastraan dan event kepenulisan, Radio Suara Surabaya menyoroti penggunaan bahasa daerah pada Senin (25/10/2021).

Bahasa daerah menjadi peranan penting dalam membangun suatu entitas selama berabad-abad lamanya, bahkan bahasa daerah juga menjadi identitas pertama yang tampil dalam interaksi sosial.

Beberapa netter turut memberikan opininya terkait postingan media sosial e100 tentang penggunaan bahasa daerah di era saat ini yang dirasa mulai mengikis.

Berikut tanggapan netter soal pernyataan bahwa faktor pemicu jarangnya penggunaan bahasa daerah di antaranya karena anggapan penggunaan bahasa daerah adalah simbol keterbelakangan dan juga kemiskinan.

Djudjuk P Surjanti pengguna facebook menyampaikan “Gaya hidup sekarang beda jauh dengan dulu dimana anak balita saja sudah diajari manggil mama papa dan bahasanya Indonesia campur kekinian jelas pertumbuhan anak nantinya sudah gak njawani dan bahasa ibu sudah gak sesuai dengan asal ibunya.”

Ada juga, Muhammad Munir yang lebih suka dipanggil Pak Lik oleh keponakannya sendiri daripada dipanggil om.

Ponakan ku lek nyeluk aku karo bojoku pak lik karo bu lik, lha kok malah diguyu karo koncone jare gak keren blas kok gak nyeluk om karo tante ae. Padahal aku luweh seneng di celuk pak lik,” tuturnya.

Budi S Yono justru menyampaikan pandangan yang berbeda. “Anggapan yang keliru min, banyak artis terkenal gara-gara memakai bahasa/logat daerah, batak,tegal/ngapak, madura dll. Juga lagu-lagu dengan bahasa Osing/Banyuwangi yg malah terkenal di seantero negeri.

Banyak dari para netter e100 berpendapat bahwa lunturnya bahasa daerah justru hilang karena orang-orang terdekat maupun lingkungan keluarga tidak mengajarkan hal yang selaras dengan para orang tua terdahulu.

Hal itu senada disampaikan oleh netter bernama Cak Patto Made Ozawa. “Angel Cak Angel Pokoke, arek saiki nembe lair ceprot wis diajari gud moring dunia tipu-tipu. Mesti ilang jowone…mergo opo yo kadang wong tuwone dewe.”

Terkait fenomena ini, netter dengan pengguna nama Hanz Hanz Milano menyampaikan solusi, “harus ada tiap daerah memiliki satu desa istimewa untuk pengembangan bahasa daerah, dan pemerintah wajib mengsupportnya, agar bahasa, tari dan warisan budaya daerah tersebut tidak punah digerus budaya barat.” tegasnya.

Kendati demikian, menurut Dr Asrif M. Hum Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, bahasa Jawa dan Bahasa Madura di Jawa Timur masih sering dipergunakan. Bahkan menjadi dua bahasa utama yang masih digunakan oleh masyarakat. Meski demikian, Balai Bahasa Jatim tetap berkewajiban ikut menjaga dan melestarikan penggunaan bahasa daerah, dan pada khususnya Bahasa Indonesia.

“Kami terus kawal kegiatan sosialisasi penggunaan bahasa, setiap tahunya kita pilih Duta Bahasa sebagai perwakilan sosok anak muda yang menguasai berbagai bahasa,” ujarnya.(wld/tin)

 

 

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
29o
Kurs