Sabtu, 4 Desember 2021

Pemkot Surabaya-Unair Siapkan Aplikasi Wisata Medis yang Ramah Pengguna

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Pemkot Surabaya dan Pihak RSUA siapkan aplikasi layanan kesehatan digital. Foto: Humas Unair

Beberapa waktu yang lalu, Kota Surabaya ditunjuk menjadi salah satu pilot “Medical Tourism Project” atau wisata medis bersama DKI Jakarta dan Medan. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot Surabaya) bersama Universitas Airlangga (Unair) telah menyiapkan aplikasi layanan berbasis digital yang ramah pengguna.

Konsep aplikasi ramah pengguna atau user friendly ini akan memuat informasi secara transparan mengenai biaya pengobatan, kepastian waktu maupun informasi akomodasi di sekitar rumah sakit.

Dokter Niko Azhari Hidayat, SP.BTVK dari Tim Project Medical Tourism mengatakan, poin penting dalam aplikasi ini adalah keterbukaan informasi yang akan menarik kembali kepercayaan masyarakat terhadap layanan rumah sakit,  mengingat kepercayaan adalah tantangan utama bagi layanan aplikasi wisata medis.

“Dalam tujuan ini, kami akan rapatkan barisan untuk membuat layanan kami menjadi user friendly, kemudian juga terbuka yang akan didukung dengan aplikasi layanan kami,” kata dr.Niko dalam wawancara program Wawasan Radio Suara Surabaya, Senin (20/9/2021).

Mengenai persiapan, ia mengklaim pengerjaan aplikasi sudah mencapai 95 persen, dengan target soft launching 27 September 2021 dengan dukungan berbagai pihak. Tidak menutup kemungkinan bahwa layanan wisata yang lain di Kota Surabaya juga dapat diakses melalui aplikasi itu, sebagai pemerkuat aplikasinya.

Saat ditanya mengenai integrasi dari aplikasi ini, dr. Niko menjelaskan aplikasi ini akan memiliki banyak fungsi.

“Karena persepi masyarakat saat ini, dokter kurang komunikasi, kurang terbukanya harga. Nah itu akan ada (petugas) profesional sendiri yang akan menjelaskannya kepada pasien secara terbuka,” katanya.

Ide penyediaan layanan kesehatan berbasis digital ini muncul dari pihak Unair yang pernah didiskusikan saat bertemu dengan Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya.

Hanya saja, saat ini plaform digital masih disiapkan pada sistem android terlebih dahulu. Nantinya, dalam platform tersebut berisi beragam informasi kesehatan yang mudah diakses oleh pengguna.

“Idenya adalah wisata kesehatan yang utama. Jadi jika dulu masyarakat bingung ikut layanan kesehatan yang mana, kita akan penuhi di aplikasi ini. Nah itu nanti kita akomodasi lewat aplikasi ini,” ujar dr. Niko yang juga dokter spesialis bedah toraks kardiovasklur dari Universitas Airlangga.

Pihaknya sudah belajar banyak aspek, bahwa mengenai komunikasi dan keterbukaan itu sangatlah penting untuk mendapat kepercayaan publik, mengingat kepercayaan adalah tantangan utama bagi layanan aplikasi wisata medis.

Tidak hanya itu, ia berkeinginan untuk memulihkan kepercayaan dan layanan kesehatan dulu dan menjadikannya fokus utama.

“Saya harus memulihkan dulu soal kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas kesehatan kita, caranya bagaimana? Caranya adalah dengan membuka semua akses informasi, sebanyaknya, sebesar-besarnya tentang layanan apa yang mereka butuhkan akan kita berikan,” tegas dr. Niko.

Ia juga menjelaskan, sebenarnya wisata medis bukanlah hal baru. Rencana wisata medis sudah pernah diperbincangkan pada tahun 2012 lalu. Namun dengan konsep pentahelix, ia berharap inovasi ini dapat terwujud.

Dokter Niko menjelaskan pihaknya menggunakan metode pentahelix sebagai konsep yang diusung dalam perancangan aplikasi layanan tersebut.

Ia menjelaskan, pentahelix adalah konsep di mana unsur pemerintahan, akademisi, pelaku usaha, masyarakat dan media menjadi satu.

“Kelima elemen ini yang nantinya akan bergerak bersama untuk membangun inovasi wisata medis ini,” tutur.

Menjelang launching aplikasi wisata medis ini, dr. Niko menjelaskan bahwa negara Indonesia adalah penyumbang berobat kesehatan ke luar negeri terbesar, ia berharap kepada masyarakat untuk percaya kepada layanan kesehatan yang sedang mereka kembangkan.

Rencana tentang Kota Surabaya yang akan menjadi wisata medis mendapat berbagai respon dari pendengar Radio Suara Surabaya.

Salah satunya Iko Sukma (47 tahun) warga Sidoarjo. Menurutnya, rencana itu akan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan yang optimal.

“Saya punya unit pelayanan penerbangan untuk pasien, selama ini kami terbangkan ke Penang-Singapura-Guangzhou. Jika di Surabaya ada, ini akan menjadi hal bagus untuk negara kita. Layanan yang akan meningkatkan informasi teknologi kedokteran dan terintegrasi dengan rumah sakit yang dituju,” katanya.

Sambutan baik juga disampaikan oleh pendengar yang lain.

“Pada tahun 1960-an tenaga medis kita masih meragukan, maka dari itu banyak orang berobat ke luar negeri. Tapi saat ini kualitas kita sudah cukup bagus sehingga dapat menarik orang kembali berobat ke sini jika administrasinya juga bagus,” kata Joni Susanto (67 tahun).

Sedangkan Andreas Yuswanto (57 tahun) memberikan catatan mengenai rencana ini. Salah satunya tentang kemudahan klaim asuransi.

“Ada komponen penting kalau tentang kesehatan, yaitu soal asuransi. Mereka keluar negeri ini untuk mengklaim asuransinya ketika mereka kurang enak badan, mereka akan klaim kesana. Kita harus berpikir apa yang medis kesehatan luar negeri itu lakukan dan kita harus menguasai apa yang mereka kerjakan,” ujarnya. (wld/tin/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
32o
Kurs