Senin, 29 November 2021

Petani Milenial : Jadi Petani Harus Sabar, Jangan Minta Instan

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Ilustrasi. Foto: pertanian.go.id

Agung Rahmat petani muda menyatakan perbedaan yang signifikan di antara generasi petani millenial dan petani sebelumnya yang menurutnya generasi milenial memiliki pengetahuan terhadap teknologi.

“Perbedaan yang mencolok dari dua generasi kami ya tentu dalam mendapat informasi dan akses-akses harga barang produk kami,” kata Agung saat dihubungi oleh Radio Suara Surabaya pada Selasa (12/10/2021).

Meski perbandingan kuantitas generasi milenial dan para petani senior masih terpaut jauh, namun menurut Agung arah gerak bisnis kawan-kawan mudanya lebih masif dan meluas secara jaringan.

“Jadi kami mengupayakan harga komoditi kami tidak banyak terpotong oleh rantai distribusi. Untuk itu kami memiliki grup antar daerah seperti di Bandung dan area Jawa Timur, misalnya grup petani tebu. Kita bisa ngecek informasi pabrik gula di sana berapa di Jatim berapa,” ujar Agung.

Ia menuturkan tidak terbukanya harga-harga menjadi hal yang menyulitkan para pertani dari tahun ke tahun. “Harga-harga tersebut tentunya hanya diketahui oleh para tengkulak saja pada era orangtua saya,” imbuh Agung.

Petani muda yang berdomisili di Bangsal Mojokerto itu mengatakan bahwa dengan adanya keterbukaan harga dan akses informasi yang mudah potensi keuntungan petani mengalami peningkatan, namun ketidak stabilan harga pangan dari setiap tahunnya masih dikeluhkan oleh banyak petani.

Bertepatan dengan hari jadi Provinsi Jawa Timur, Agung berharap Pemerintah Provinsi lebih cepat dan tanggap dalam memberikan informasi harga kepada para petani di Jawa Timur.

Tidak hanya itu ia juga mengulas permasalahan klasik dari kebijakan pemerintah saat alami krisis suatu bahan justru melakukan import ke luar negeri.

“Kemarin jagung sempat tinggi, peternak ayam banyak yang protes kan, itu yang paling baik bukan impro. Tapi harusnya bersinergi dengan petani-petani lokal untuk mengatasinya,” kata Agung.

Saat ditanya teknologi apa yang petani butuhkan, Agung berharap adanya aplikasi yang mampu memberikan penjadwalan kepada para petani dalam segi perawatan pertanian.

Dalam pesan penutup ia memberikan fakta terhadap petani muda yang belum banyak terlihat eksis dan berhasil dalam usaha pertanian.

“Generasi millenial yang terjun ke pertanian saat ini banyak yang tidak konsisten, mereka kurang sabar dalam belajar bertani. Butuh waktu dua hingga tiga tahun untuk benar-benar memahami cara bertani dan menjual komiditinya, tidak bisa dalam waktu setahun kita sudah berhasil,” jelas Agung.(wld/rst)

 

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Senin, 29 November 2021
26o
Kurs