Sabtu, 4 Desember 2021

Platform Digital Lebih Disukai Pembaca, Buktikan Minat Baca Juga Tergantung Akses

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Merangsang minta baca, khususnya bagi generasi muda, tidak sekadar melalui buku fisik, namun juga platform digital yang dinilai lebih mudah diakses dengan harga yang lebih terjangkau dan lebih masa kini.

Sinta Yudisia Penulis Buku Remaja mengakui, pembaca di platform digital di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Platform digital dianggap lebih murah dan lebih gampang diakses, mengingat harga buku yang masih tergolong mahal bagi para remaja.

Ia tak heran, jika membaca di platform digital yang semakin digemari. Platform digital menjadi media alternatif bagi masyarakat khususnya remaja, yang ingin membaca dengan harga yang lebih murah. Selain sebagai pembaca, platform digital juga memberikan kesempatan pengakses untuk menulis di platform tersebut. Itu lah yang membuat popularitas platform digital semakin bertumbuh setiap tahun.

“Ada berita yang menggembirakan, tulisan di platform digital semakin lama semakin menjamur dan semakin banyak pembacanya. Sebenarnya masyarakat kita itu bukan nggak ingin baca sama sekali. Makanya harus ada kerjasama pemerintah, toko buku dan perpustakaan. Kalau suka platform, ya bisa belajar nulis di sana,” jelas Sinta kepada Radio Suara Surabaya, Kamis (21/10/2021).

Apalagi, saat ini banyak remaja yang membaca cerita di platform digital dengan tokoh dan karakter idola mereka. Menurutnya, itu salah satu alternatif cara untuk kembali meningkatkan minat baca remaja Indonesia. Yakni dengan menyajikan cerita maupun tokoh yang sedang mereka gandrungi, namun tetap memasukkan filosofi Indonesia.

“Kita harus mengerti bahwa mereka sukanya korea-koreaan, kita sebagai penulis menyajikan tulisan-tulisan yang begitu lah, kpop. Di anak muda ada fanfict (fan fiction: cerita fiksi yang dibuat oleh penggemar, biasanya terinspirasi dari idola mereka). Ada BTS, EXO, Stray Kid, selanjutya bisa kita masukkan filosofi Indonesia entah masakannya atau apa,”paparnya.

Ini menunjukkan bahwa sebenarnya, minat baca di Indonesia tidak rendah. Ketertarikan masyarakat untuk membaca tinggi asalkan ada kemudahan akses yang disediakan. Dengan begitu, ia menganggap masalah minat baca di Indonesia tidak bisa dilihat dari satu sisi, namun juga dari berbagai sudut pandang. Dalam masalah buku fisik ini, lanjut Sintia, diperlukan peran serta pemerintah agar harga buku lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Memang masalah ini bukan single problem tapi multi problem. Pemerintah harus berperan karena harga buku yang cukup mahal. Harganya Rp80 ribu ke atas yang bagi masyarakat mungkin cukup berat. Bagaimana caranya agar buku itu bisa murah,” kata Sinta

Apalagi, pandemi Covid-19 memaksa banyak penerbit buku gulung tikar karena tidak mampu bertahan. Alhasil, penulis hanya bisa mengadalkan penerbit-penerbit besar.

Ia harap, pemerintah dapat memberikan stimulus untuk dunia literasi, seperti pengurangan pajak buku sehingga buku lebih bisa terjangkau. Atau kemudahan-kemudahan lainnya.

Selain itu, untuk merangsang minat baca anak muda, Sinta juga menyarankan agar mereka menonton film yang diangkat dari buku. Sehingga film juga dapat mendorong penonton untuk membaca buku aslinya.

“Jadi saat membaca sesuatu lebih komplit, kerja-kerja bagian otak tetap teraktifasi daripada hanya postingan-postingan pendek di Instagram,” ujarnya.(tin/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
32o
Kurs