Senin, 27 September 2021

PPKM Darurat Hari ke-11, Banyak Daerah di Jatim yang Mobilitasnya Masih Tinggi

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Foto udara penutupan Bundaran Waru (Cito) arah Surabaya, Rabu (7/7/2021) pagi. Foto: Suara Surabaya

Emil Elestianto Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur belum bisa memastikan apakah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diperpanjang atau tidak.

“Pusat yang menganalisa, kami hanya melaporkan. Kalau skenario terburuk terjadi, seperti kapasitas rumah sakit kurang, sarana prasarana penanganan pasien Covid-19 kurang, kalau harus, PPKM Darurat diperpanjang,” kata Emil kepada Radio Suara Surabaya, Selasa (13/7/2021) pagi.

Sampai hari ini atau hari ke-11 PPKM Darurat, kata Emil, masih banyak daerah di Jawa Timur yang penurunan mobilitasnya masih kurang. Hal ini diketahui berdasarkan pantauan data satelit, media sosial, dan Google Maps.

“Seperti Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, dan daerah Tapal Kuda. Kalau ditandai warna, petanya (mobilitas masyarakat) ada yang merah, ada yang hitam, artinya potensi penyebaran Covid masih tinggi,” kata dia.

Merujuk anjuran epidemiolog, untuk mencapai target penurunan kasus Covid-19 sampai 10 ribu per hari, sebanyak 70 persen masyarakat kalau bisa stay at home. Sisanya, 30 persen yang benar-benar penting tetap beraktivitas di luar.

Para petugas di lapangan seperti TNI dan Polri, kata Emil, sudah bekerja keras untuk mengurangi mobilitas masyarakat. Mereka sudah bertindak tegas, tidak harus sadis. Humanis. Tidak sampai menyiram air ke tempat usaha yang masih buka sampai malam atau tukang bubur didenda jutaan rupiah.

“Kami pastikan jangan sampai masyarakat yang tertib merasa percuma karena banyak yang tidak tertib. Sampai sekarang sudah ada 2 juta lebih teguran dan denda yang didapat hampir 400 juta rupiah, tapi tetap saja ada yang lolos,” ujarnya.

Karena itu, Emil mengharapkan peran serta masyarakat dengan memberikan social punishment kepada pihak yang tidak patuh aturan PPKM Darurat.

“Kalau ada tempat makan tidak patuh, jangan dibeli. Kalau dijawab mereka makan apa, warga yang tidak bisa makan menjadi tugas garda terdepan yaitu pemerintah desa untuk mensupport. Satu laporan saja yang siap, kita cairkan,” kata Emil.

Terkait angka kasus Covid-19 yang semakin tinggi, melewati 40 ribu kasus per hari, menurut Emil justru itu adalah hasil tracing yang dilakukan secara masif.

“Memang ada peningkatan angka kematian, tapi angka kesembuhan juga tinggi. Kata kuncinya apakah kasusnya masih berbahaya bagi masyarakat. Kemudian perlindungan apa yang harus diberikan kepada masyarakat,” kata Emil.(iss/den)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Mobil Terperosok di depan RSAL dr Ramelan A.Yani

Antre Vaksin di T2 Juanda

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Surabaya
Senin, 27 September 2021
33o
Kurs