Sabtu, 4 Desember 2021
World Radio Day 2021

Radio adalah Medium yang Paling Bisa Survive Mengatasi Tantangan Zaman

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Ilustrasi. Grafis: suarasurabaya.net

Chandra Novriadi, Ketua Dewan Kehormatan Standar Profesional Radio Siaran Pengurus Pusat (PP) Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) menjelaskan, lanskap radio sekarang sangat berbeda dengan lanskap radio pada 20-30 tahun lalu. Begitu pula lanskap industri media lainnya, banyak yang berubah karena perkembangan pesat teknologi internet dan teknologi digital.

Ia menilai perkembangan keduanya melahirkan media-media baru, sekaligus mendorong terjadinya perubahan perilaku mengonsumsi media di tengah masyarakat.

“Yang kita lihat, dengar dan baca saat ini umumnya datang dalam bentuk digital. Di dalam kacamata teknologi tidak ada perbedaan audio, video, teks dan grafis. Kalau dulu tiap jenis informasi datang dalam bentuk yang berbeda, sekarang informasi hadir melalui satu perangkat. Smartphone yang terhubung dengan internet, sudah bisa menjadi radio, video, kamera, buku, mesin ketik,” kata Chandra dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, “World Radio Day 2021″ yang mengangkat tema Evaluasi Radio dan Tantangan Broadcaster Masa Depan, Sabtu (13/2/2021).

Perubahan ini, beber Chandra, menjadi revolusi industri yang dahsyat yang menyebabkan kekuatan besar yang sebelumnya dimiliki konten provider, bergeser kepada konsumen. “Sekarang user yang menentukan apa, kapan, di mana dan bagaimana mereka memperoleh informasi.”

Menurutnya, medium radio adalah medium yang paling bisa survive mengatasi tantangan zaman. Bukan kali ini saja radio mendapat tantangan, tapi sudah dari dulu. Munculnya televisi membuat radio terguncang, di mana populasi pendengar pindah ke TV. Tapi tahun 90an David Sernov Bapak Radio Dunia menulis: radio siaran tidak akan mati, tapi proses penyesuaian sangat diperlukan dan penting. Penyesuaian ini dinilai perlu untuk segera dilakukan karena kecepatan perubahan teknologi yang luar biasa cepat. Bahkan saking cepatnya, seringkali lebih cepat dari kemampuan manusia untuk beradaptasi.

Cara radio untuk beradaptasi, bukan sebagai pelengkap televisi. Melainkan radio berkonsentrasi pada konsumennya yang sudah tersegmentasi. Radio menciptakan format-format baru untuk kelompok segmen tersebut.

“Radio juga berkonsentrasi membuat acara pagi siang dan sore dan melepas acara malam untuk penonton TV jadi complimentary. Dan karena itu radio gak pernah mati,” jelasnya.

Ia pun berpendapat, radio sekarang harus menjadi complimentary dari media-media baru. “Kenapa? Karena media baru ini cocok untuk ‘kawin’ dengan radio. Medium ini personal sekaligus media massa. Dan itu juga terjadi di dunia internet.”(dfn/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suasana Unjuk Rasa di Depan Taman Pelangi Surabaya

Suasana Unjuk Rasa Menuju Kantor Bupati Gresik

Suasana Unjuk Rasa Melewati Basra

Surabaya
Sabtu, 4 Desember 2021
30o
Kurs