Rabu, 1 Februari 2023

Angka Stunting 2022 Turun Separuh, Surabaya Dinilai Layak Jadi Pionir di Jatim

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Eri Cahyadi Wali Kota Surabaya. Foto: Diskominfo Kota Surabaya

Angka stunting di Kota Surabaya 2022 berhasil turun hampir separuh dibanding tahun lalu. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai Surabaya bisa menjadi pionir dalam pencegahan stunting di Jatim.

Menurut Eri Cahyadi angka stunting di tahun 2021 sebanyak 12.788 anak. Sementara di tahun 2022 berhasil turun menjadi 6.722 anak.

“Datanya bisa kita lihat per kelurahan dan kecamatan, kita bisa tahu, mana saja yang perlu kita sentuh menggunakan anggaran yang ada,” kata Eri saat penilaian kinerja aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting tahun 2022 secara virtual di ruang sidang wali kota, Selasa (23/8/2022).

Eri juga menyebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memiliki delapan langkah dalam aksi percepatan penurunan stunting. Pertama, aksi analisis situasi di Kota Surabaya. Di mana Pemkot menghitung anggaran untuk kegiatan yang akan diselenggarakan dalam pelaksanaan percepatan penurunan stunting.

Kedua, menggunakan anggaran untuk kegiatan kesehatan, salah satunya pencegahan stunting. Semenjak terbitnya Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 79 Tahun 2022 terkait Percepatan Stunting di Surabaya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) melibatkan stakeholder dan masyarakat, dalam menekan angka stunting.

Eri menegaskan, pencegahan stunting di tahun 2022 menjadi salah satu tugas pokok DP3APPKB Surabaya dan masuk dalam kontrak kinerja kepala dinasnya.

“Berhasil atau tidaknya penurunan stunting tergantung Kepala DP3APPKB, yang mana saat ini sudah tercantum di dalam kontrak kinerja,” tegasnya.

Aksi lainnya, Pemkot melakukan pembinaan kader pembangunan manusia yang kini dibentuk menjadi Kader Surabaya Hebat (KSH). Pada tahun 2021, Pemkot Surabaya berhasil membentuk dan mendampingi serta memberikan pembinaan kepada 27.000 KSH.

“Tapi saat ini totalnya sudah 48.000 kader, mereka ada di setiap RT kemudian mendata kesehatan warga Surabaya. Jadi, dengan adanya KSH akan diketahui ketika ada bayi atau balita yang kurang gizi, tingginya kurang dan sebagainya,” lanjutnya.

Menurutnya, keberhasilan Pemkot Surabaya dalam percepatan penurunan stunting bukan hanya hasil kerja keras para KSH, tetapi juga, peran penting warga Surabaya.

“Penanganan stunting itu tidak mudah, karena mengatasi ini tidak hanya diberikan bantuan begitu saja, tidak. Tapi mindset (pemikiran) kita bersama, sebelum menikah itu sudah kita sentuh untuk mencegah stunting bersama KSH dan Pendekar Biru,” paparnya.

Beberapa kegiatan pencegahan stunting juga dipaparkan oleh Eri, seperti lomba Generasi Emas (Eliminasi Masalah Stunting), melibatkan TP PKK dan KSH untuk melakukan survey melalui aplikasi Sayang Warga, pendampingan ASI kepada ibu menyusui dan pendampingan gizi anak, pra nikah serta kerjasama stakeholder perguruan tinggi dalam penanganan masalah stunting di Surabaya.

Tim panelis Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting Pemprov Jatim Tahun 2022 mengapresiasi paparan program dan hasil kerja jajaran Pemkot Surabaya. Bappeda Provinsi Jatim, Dinkes Jatim dan Kementerian Agama Jatim menilai, percepatan pencegahan stunting di Kota Surabaya, ke depannya bisa menjadi pionir dalam pencegahan stunting di Jatim.

“Matur nuwun Bapak dan Ibu, atas saran dan masukannya, semoga ke depan Surabaya bisa terus menekan dan mencegah terjadinya stunting. Diharapkan, di tahun 2023 Surabaya bisa bebas dari stunting, karena kota ini hebat bukan karena wali kotannya, tapi karena masyarakat dan kadernya,” pungkasnya. (lta/iss/rst)

Berita Terkait