Kamis, 9 Februari 2023

DPRD Sebut Keterbatasan Ekonomi Sebabkan Tawuran Remaja, Camat Lakarsantri Janji Jemput Bola

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Kiri ke kanan: Reni Astuti Wakil Ketua DPRD Surabaya, Yongky Kuspriyanto Wibowo Camat Lakarsantri, dan Luluk Tri Krismawati Lurah Lakarsantri, Senin (5/12/2022). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya mengunjungi langsung rumah salah satu remaja pesilat yang terlibat dalam gerombolan penyerang warung Keputih. Masalah ekonomi dinilai sebagai faktor serius tawuran remaja yang perlu ditangani.

Reni Astuti Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya mengaku mendukung penanganan tawuran remaja, keberadaan kelompok-kelompok remaja ke arah negatif, ditangani sampai akarnya.

“Saya kunjungan ke sini bersama lurah dan camat sebagai bentuk support pemerintah pada penanganan sisi hulu dan hilir. Kita berharap kejadian ini tidak meluas dan tidak banyak anak-anak kita, anak-anak Surabaya yang melakukan yang tidak kita harapkan,” kata Reni, ditemui suarasurabaya.net di rumah R, salah satu remaja yang sempat diamankan polisi, di Lakarsantri Surabaya, Senin (5/12/2022).

Dari pengakuan R, keterlibatan dalam gerombolan itu hanya karena terpengaruh ajakan.

“Kita perlu mengenali mencari motif apa yang jadi latar belakang itu. Dari yang saya dapatkan, yang saya temui hari ini, anak ini baik. Saya lihat dari percakapan, keluarga, dan sebagainya. Tapi memang butuh lingkungan juga. Karena ada yang ngajak-ngajak kan. (Kemudian) tersulur rasa ininya dan ikut masuk rombongan. Salah pergaulan itu yang saya kira perlu diperbaiki,” paparnya.

Pengamatan sementara, menurut Reni, keterbatasan ekonomi menjadi satu faktor penting yang harus ditangani.

“Jadi problem ekonomi, saya kira jadi salah satu persoalan yang harus jadi perhatian.
Akar kemiskinan dekat dengan hal-hal yang apa karena mungkin perhatian jadi kurang karena persoalan (itu). Tapi tetap, itu harus kehadiran kita, bentuk untuk mendukung penanganan,” ujarnya.

Seperti R (19 tahun) lulusan SMK di Menganti dua tahun lalu yang kini tidak bekerja. Sesekali bekerja lepas di restoran dengan tugas mencuci piring. Bekerja sebagai kuli batu jika ada yang sedang membutuhkan. Juga mengisi waktu setiap Jumat dengan melatih silat secara sukarela tanpa dibayar.

“Misal sudah lulus SMA, tidak ada aktivitas. Sebenarnya sudah bagus, tapi perlu ada aktivitas lain yang menghasilkan ekonomi jadi membantu keluarganya yang ayahnya sakit-sakitan. Ibunya juga kadang ada dan gak ada pekerjaan. Anaknya juga freelance (di restoran), dia juga mau kerja apa aja, bukan anak yang malas. Gak punya tato, jadi masih punya potensi masa depan,” jelasnya.

Reni setuju jika R sempat ditahan meski hanya 24 jam di Mapolsek Sukolilo. Menurutnya untuk mendidik agar tidak mengulangi lagi. Kini R juga mengakui menyesal. Tapi, keterbatasan ekonomi keluarganya menurut Reni perlu diperhatikan.

“Saya kira keterbatasan orang tua, pada sisi ekonomi dan perhatian itu juga di antara yang menyebabkan,” imbuhnya.

Dia yakin, Pemkot Surabaya menjangkau semua anak yang terlibat dalam tawuran atau saling serang antar kelompok remaja.

“Saya yakin teman-teman Pemkot Surabaya melakukan outreach, tidak hanya anak ini tapi semua anak yang terlibat dan dilakukan pendekatan tuntas. Kalau sekolah dikoordinasikan dengan sekolah untuk penanganan. Kalau sudah nggak sekolah, harus dipantau juga. RW ikut datang juga hari ini. Anak ini harus tetap diterima lingkungan. Semoga dia bisa tahu yang kemarin tidak tepat dan memperbaiki. Kalau positif ya dikasih kesempatan maju, jangan distigma terus,” papar Reni.

Tidak sendiri, Reni Astuti Wakil Ketua DPRD didampingi Luluk Tri Krismawati Lurah Lakarsantri dan Yongky Kuspriyanto Wibowo Camat Lakarsantri.

Mengevaluasi kejadian penyerangan warung di Keputih, yang melibatkan salah satu warganya, Yongky Camat Lakarsantri berjanji akan lebih intens dan konsisten mendata masyarakat kurang mampu di daerahnya. Selama ini menurutnya juga sudah dilakukan.

“Ada lah (upaya mendata) karena kita punya pemutakhiran data. Data-data Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Itu RT/RW lebih tahu wilayah dan lokasi dan warganya yang btuh bantuan. Kita tinggal monitoring, tinggal musyawarah kelurahan,” paparnya.

Ke depan, RT/RW di wilayahnya diminta lebih aktif jemput bola ke warga yang tidak mampu. Agar mampu menjangkau perekonomian yang membutuhkan perhatian.

“Tapi nanti ke depan, kita akan intens ke perhatian warga yang memang seharusnya sudah lulus sekolah tapi masih bingung karena di tempat kita banyak program pelatihan. Nanti kita cari tahu, tapi sudah outreach dengan puskesmas, tiga pilar, ekonominya (R dan keluarga) memang perlu perhatian. Sudah ada, tinggal intens atau konsistensinya jemput bola (RT/RW),” pungkasnya. (lta/iss/ipg)

Berita Terkait