Kamis, 9 Februari 2023

Remaja Penyerang Warung di Keputih Mengaku Ingin Membela “Guru Besar”

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Reni Astuti Wakil Ketua DPRD Surabaya (berkerudung putih) didampingi lurah dan camat Lakarsantri menemui salah satu remaja pesilat terlibat gerombolan penyerang warung Keputih, Senin (5/12/2022). Foto: Meilita suarasurabaya.net

R (19 tahun) mengaku tersulut emosi karena merasa guru besarnya dihina oleh perguruan silat lain. Tidak terima, satu dari para  remaja pesilat itu memutuskan ikut dalam gerombolan puluhan orang penyerang warung di Keputih Surabaya tiga hari lalu.

Ditemui di rumahnya daerah Lakarsantri Surabaya, R terlihat mengisi waktunya dengan memancing ikan, Senin (5/12/2022) siang. Dua hari setelah dirinya dipulangkan dari Polsek Sukolilo Sabtu (3/12/2022) dini hari.

Dia salah satu dari 12 remaja yang berhasil diamankan oleh polisi karena terlibat dalam gerombolan puluhan pesilat KS yang menyerang satu warung di Keputih Surabaya.

Remaja yang mengaku menyesal dan tak ingin mengulangi perbuatannya itu mencoba menceritakan kronologis kejadian. Bermula Kamis (1/12/2022) sekitar pukul 23.00 WIB malam, ia keluar rumah dan pergi dengan D, kawan kampungnya untuk potong rambut di Grogol. Hanya itu, tidak ada niat untuk berkelahi atau bahkan menyerang.

“Kemarin jam 11 (malam) keluar. Tidak pamit (ibu). Nganter potong rambut teman, pas posisi potong, terus diajak (menyerang). Sebenarnya, tidak ada niatan (menyerang), (hanya) potong di grogol sama D,” R bercerita.

Namun tiba-tiba ada sebuah pesan WhatsApp, ajakan penyerangan melawan perguruan silat lain, PN. Meski, R enggan merinci siapa yang mengirim pesan. D yang bukan termasuk anggota KS langsung diajaknya ke lokasi titik kumpul.

“Ketemuan di Putat, acaranya kan itu mau menyelesaikan masalah perguruan, ketemuan sama perguruan lain di Kebun Binatang Surabaya (KBS), tapi (kita) kena tipu. Akhirnya ada provokator KS buat ke basecamp itu (PN). Ketemu di sana (Keputih) warkop itu,” papar R.

Ajakan penyerangan itu karena puluhan anggota perguruan KS merasa perguruan PN sudah menghina guru besarnya. Melalui akun sosial media Instagram, R menerangkan, PN mengunggah foto guru besarnya dengan posisi terbalik.

“Perguruan lain mengejek guru besar KS. Menghinanya, membalikkan foto. PN upload foto dibalik di Instagram PN yang anti-KS,” tambahnya.

Laki-laki yang bergabung dalam KS sejak bulan Februari itu mengaku tidak mengerti alasan gerombolannya menyerang warung. Bahkan sampai merusak motor dan merangsek ponsel pengunjung.

Dia berada di barisan paling depan menggunakan motor, sudah melewati warung. Tapi, justru barisan tengah dan belakang menyerang warung. Sementara dia dan 11 linnya yang diamankan polisi justru tidak ikut masuk.

“Gak paham, posisi aku di depan. Yang nyerang tengah dan belakang. Akau ngelewati warung. Aku berhenti doang (saja) ngelihat belakang. Gak tahu di warung ngapain aja. Di warung ambil HP, ngerusak-ngerusak motor. Temanku dibilangin, gak ada yang ikut rusak warung,” katanya.

Sepengetahuan R, puluhan gerombolannya juga tidak membawa senjata tajam. Hanya membawa ruyung, kayu keras dari batang enau.

“Gak bawa celurit. Bawa ruyung. Bisa dicomplong (dicopot). Bawa itu aja sama kayu panjang. Gak paham (ada yang bawa sajam tidak) tapi aku lihat gak ada,” imbuhnya.

Tapi, dia bersama 11 lainnya yang sempat bersembunyi ke sekitaran perguruan tinggi itu, justru terjaring operasi gabungan.

“Aku kena tapal kuda (operasi gabungan) pas masuk ITS. Operasi gabungan,” jelasnya.

Hingga akhirnya, 12 remaja pesilat itu dibebaskan dan dipulangkan. Menurut R, karena mereka tidak terbukti melakukan penyerangan. Sementara pelaku penyerangan lainnya, belum tertangkap.

“Sabtu pagi jam setengah tiga pulang. 24jam di sana. Ditanyai, kamu bawa sajam gak gitu-gitu. Kelompokku 50-an anggota. Yang masuk polisi 12 aja. Dipulangkan semua, (karena) gak terbukti. HP-HP warung itu orang lain satu perguruan (KS), (tapi) lari. 12 ini gak ada yang ambil dan gak rusak warung,” jelas R.

Ia mengaku, keterlibatannya tidak bermaksud membuat kerusakan atau menyerang warga. Hanya menjaga nama baik guru besarnya.

“Iya harus jaga, ada (perintah menjaga nama baik perguruan silat dan guru besar). Tidak terima aja guru besar dipermalukan,” tegasnya.

Diberitakan sebelumnya, Polsek Sukolilo mengungkap identitas 12 remaja yang diamankan karena terlibat dalam gerombolan penyerang warung di Keputih. 10 di antaranya anggota perguruan silat KS. (lta/iss/ipg)

Berita Terkait