Jumat, 3 Februari 2023

Jaga Hak Disabilitas, Kelompok Tunanetra Dirikan Radio Braille Surabaya

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Hannan Abdullah salah satu tunanetra, anggota Radio Braille Surabaya saat mewawancara Eben Haezer Ketua AJI Surabaya, Sabtu (3/12/2022). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional, Sabtu (3/12/2022) hari ini, kelompok tunanetra luncurkan Radio Braille Surabaya melalui platform Youtube. Salah satu latar belakangnya, yakni masih banyak penyandang disabilitas masih belum paham atas haknya.

Meski tidak memiliki gedung atau bangunan khusus untuk radio, termasuk gelombang siaran, tapi para penggagas tunanetra itu berharap channel youtube Radio Braille Surabaya bisa turut menyuarakan juga mengedukasi banyak orang. Mulai dari pemerintah, masyarakat, juga penyandang didabilitas .

“Teman-teman Lembaga pemberdayaan tunanetra (LPT), induk dari Radio Braille Surabaya, selama ini advokasi yang kita lakukan demo, seminar dan workshop, itu butuh anggaran besar. Jadi jenis advokasi baru yang bisa kita lakukan efektif adalah media yang bisa kota kelola sendiri. Selain advokasi, juga isu-isu di teman-teman disabilitas nanti,” tutur Tutus Setyawan, Pemimpin Radio Braille Surabaya yang juga penyandang disabilitas tunanetra.

Setidaknya, ada tiga jenis konten akan dibuat dan dimuat di Radio Braille Surabaya, mulai dari edukasi, reportase, dan ekspresi.

Dia mencontohkan, untuk pemerintah misalnya, agar mengetahui jika masih belum banyak penggalakan pelajaran huruf braille yang memudahkan tunanetra di fasilitas pendidikan seperti sekolah.

“Edukasi, ingin beri pemahanaman ke pemerintah, masyarakat, dan disabilitas. Jangan salah, kadang mereka disabilitas tidak paham haknya sendiri, ketika terdiskriminasi,” tutur Tutus.

Yang membedakan dengan radio lainnya, tambah Tutus, pendeskripsian secara detail hal-hal di dalam video peliputan maupun konten tayangan di channel itu. “Radio kita visual, tapi ditonjolkan utama audionya. Akan dideskripsikan secara detail hal-hal di dalamnya,” tambahnya.

Tidak sendiri, Tutus bersama tiga penyandang tunanetra lainnya berharap, keberadaan Radio Braille Surabaya, sebagai salah satu penyedia audio yang sangat berarti bagi seorang tunanetra bisa bermanfaat bagi disabilitas lain, juga masyarakat dan pemerintah. Terutama, jika membahas isu-isu disabilitas.

Rencana pendirian Radio Braille Surabaya ini juga tidak lepas dari dukungan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Surabaya. Ide tersebut muncul empat bulan lalu,  dan disambut baik sampai akhirnya terealisasi hari ini. “Dua bulan kemarin kita dikatih bergantian sama mereka (AJI),” pungkas Tutus.

Berita Terkait