Rabu, 1 Februari 2023

Jusuf Kalla Ajak Mahasiswa Unusa Lakukan Gerakan 45

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Jusuf Kalla saat memberikan kuliah umum di Unusa, Sabtu (12/11/2022). Foto: Humas Unusa

Muhammad Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia (2004-2019) mengajak 800 mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) untuk menjadi generasi rahmatan lil alamin yang berjiwa pembelajar dan penggerak bagi bangsa dan umat manusia melalui Gerakan 45.

“Melalui gerakan 45, insya Allah mahasiswa Unusa akan bisa menjadi generasi generasi rahmatan lil alamin yang berjiwa pembelajar dan penggerak bagi bangsa dan umat manusia,” tuturnya di Auditorium lantai 9 Tower Unusa Kampus B Jemursari, Surabaya, Sabtu (12/11/2022).

Gerakan 45 merupakan bentuk dari rukun islam yang ke-4 (zakat) dan ke-5 (haji) di mana dengan zakat dapat melatih mahasiswa untuk ikhlas dan merencanakan serta meniatkan untuk berhaji.

Ia mengatakan bahwa zakat jika dilakukan dengan ikhlas dan tanpa paksaan akan bermanfaat untuk melatih menjadi pribadi yang ikhlas dan tulus dalam melakukan kebajikan bagi orang lain.

“Zakat juga bermanfaat mendatangkan kebaikan-kebaikan dalam hidup. Rezeki dilancarkan, kualitas hidup meningkat, hati terasa tenang, dan kehidupan juga terasa lebih tentram karena kebaikan yang telah dilakukan,” ungkapnya berdasar keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net, Sabtu (12/11/2022).

Pria kelahiran 15 Mei 1942 di Watampone, Sulawesi Selatan ini menambahkan, zakat adalah bagian utama dari rangkaian solidaritas sosial yang berpijak kepada penyediaan kebutuhan dasar kehidupan, yang berupa makanan, sandang, tempat tinggal (papan), terbayarnya hutang-hutang, memulangkan orang-orang yang tidak bisa pulang ke negara mereka, membebaskan hamba sahaya dan bentuk-bentuk solidaritas lainnya yang ditetapkan dalam Islam.

“Zakat mempunyai pengaruh positif yang sangat signifikan dalam mendorong gerak roda perekonomian Islam dan mengembangkannya karena pertumbuhan harta individu pembayar zakat memberikan kekuatan dan kemajuan bagi ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Menurut Jusuf Kalla, selain zakat, ibadah haji memiliki dampak-dampak positif dan kemanfaatan yang banyak baik bagi individu yang melaksanakan ibadah haji maupun masyarakat pada umumnya. Bagi yang melaksanakan ibadah haji, akan terpancar kebaikan dan kesalihan dari pribadinya.

Pria yang mengenyam pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar (1967) ini menjelaskan, ibadah haji juga melatih seorang muslim mengamalkan prinsip-prinsip kemanusiaan, persaudaraan, dan persamaan secara universal.

Seseorang yang melaksanakan rukun islam yang ke-5 ini akan melepaskan diri dari egonya sehingga dia akan mendapati dirinya larut dalam sebuah kumpulan akbar manusia yang bersatu, tak tercerai-berai dan bersama-sama memenuhi satu panggilan untuk berputar mengelilingi satu pusat, kemudian kumpulan haji yang disatukan dan menyatukan ini bergerak untuk melempar setan.

Ia memaparkan bahwa dalam ibadah haji, semua orang diminta untuk menanggalkan pakaian maupun perhiasan dan sebagai gantinya yakni memakai pakaian sederhana yang lebih mirip dengan kain kafan.

“Ini merupakan bentuk utama menjadi sosok penggerak kehidupan. Dalam ibadah haji, semua orang diminta menanggalkan pakaian, perhiasan yang seringkali menandai perbedaan daerah, kelas sosial dan sebagainya. Sebagai gantinya, semua memakai pakaian sederhana yang lebih mirip dengan kain kafan. Jadi, ketika bertawaf dan berwukuf di Arafah, tidak terlihat kefakiran dan kekayaan seseorang,” pungkasnya.(rum/iss)

Berita Terkait