Selasa, 5 Juli 2022

Kemenkes: Pelonggaran Pemakaian Masker Wajib Diimbangi Disiplin Prokes

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Disediakan fasilitas cuci tangan bagi pengunjung di Taman Flora, Jumat (22/10/2021). Foto: Humas Pemkot Surabaya

Mohammad Syahril Juru Bicara Kementerian Kesehatan urusan Covid-19 mengatakan, masyarakat wajib menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seiring kebijakan relaksasi yang diberlakukan pemerintah di masa pandemi.

Untuk sementara, masyarakat cuma boleh melepas masker di ruang terbuka yang tidak banyak orang. Sedangkan masyarakat di ruang tertutup, transportasi publik, yang sedang sakit dan golongan masyarakat rentan masih perlu memakai masker.

“Meski sudah diumumkan pelonggaran itu, tetap akan ada kewajiban yang harus kita terapkan dengan disiplin yaitu protokol kesehatan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/5/2022).

Hal itu senada dengan imbauan Puan Maharani Ketua DPR RI. Legislator PDI Perjuangan tersebut mengingatkan masyarakat selalu waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Menurutnya, pelonggaran prokes bisa diterapkan seiring kondisi yang semakin baik, dan transisi dari pandemi ke endemi.

Pelonggaran lain yang juga diberlakukan pemerintah adalah bebas tes antigan atau PCR untuk pelaku perjalanan domestik mau pun internasional yang sudah menerima dua dosis suntikan vaksin Covid-19.

Terkait kebijakan bebas tes Covid-19, Masdalina Pane Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menilai langkah pemerintah cukup berbahaya.

“Kalau untuk luar negeri kami masih sepakat untuk melakukan PCR terutama untuk negara-negara yang saat ini sedang mengalami peningkatan kasus,” ujarnya di Jakarta, Kamis (19/5/2022).

Terkait kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen, Doni Koesoema pengamat pendidikan sangat mendukung.

Dia menilai, pandemi yang semakin terkendali berpengaruh pada pendidikan. Karena, pendidikan karakter sangat terbantu dengan adanya PTM.

“Dengan PTM, maka pembentukan karakter bisa lebih mudah terjadi. Kalau kita mengajar di kelas kan kita bisa langsung survei sekilas misal ada anak mengantuk. Tapi kalau daring kan gak bisa,” ucapnya.

Doni berpendapat, PTM sangat penting karena bukan cuma berkaitan dengan materi pembelajaran. Tapi, juga menempatkan murid sebagai manusia seutuhnya.

“Dengan interaksi secara langsung, pelajar akan merasa lebih dimanusiakan dan dihargai,” tandasnya.(rid/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Selasa, 5 Juli 2022
28o
Kurs