Rabu, 1 Februari 2023

Melihat Tragedi Kanjuruhan dari Aspek Psiko Sosio-Sains

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Foto: Istimewa

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022 yang memakan ratusan korban itu adalah tragedi luar biasa dalam sejarah sepak bola di Indonesia dan dunia. Insiden ini harus menjadi pembelajaran bersama dan bahan evaluasi total untuk memperbaiki ‘culture’ sepak bola Tanah Air.

Mengenai insiden tersebut, Prof Tjipto Prastowo, Ph.D., guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) turut berkomentar dari perspektif ilmu kebumian, bidang kepakarannya. Menurutnya, earth sciences membedakan bencana kebumian menjadi dua.

Pertama, bencana geologi contohnya seperti gempa tektonik, erupsi vulkanik dan tsunami. Bencana geologi cenderung bersifat non-antropogenik yang berarti tidak dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu tidak bisa dicegah, tetapi bisa dikurangi dampak negatifnya.

Kedua, bencana hidrometeorologi bersifat antropogenik yang berarti dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu  seharusnya bisa dicegah. Contoh bencana kategori ini seperti banjir bandang, banjir rob, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, tanah longsor dan likuifaksi.

“Bencana hidrometeorologi bersifat antropogenik ini contohnya juga seperti kecelakaan transportasi (darat, laut, udara), kecelakaan industri (Chernobyl case), termasuk tragedi Kanjuruhan,” tandasnya dalam keterangan pers yang diterima suarasurabaya.net, Senin (4/10/2022).

Dia melanjutkan, bencana hidrometeorologi (antropogenik) seharusnya bisa dicegah, maka terminologi “bencana  alam” sebagai terjemahan “natural disaster” adalah kurang tepat.

“Saya meyakini sungguh-sungguh  bahwa alam diciptakan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan umat manusia dan bukan sebaliknya:  memberikan bencana,” ucapnya.

“Dengan demikian, dengan segala kerendahan hati saya mengajak semua pihak  untuk menyebut bencana geologi dan bencana hidrometeorologi sebagai bencana kebumian bukan bencana alam,” sambungnya.

Dalam Bahasa Inggris, bencana kebumian adalah earth-related disaster sedangkan  bencana alam adalah natural disaster. Kedua terminologi tersebut beda makna. Tragedi Kanjuruhan bisa juga dilihat dari sudut pandang psiko-sosiologi.

Akhir-akhir ini, lanjutnya, begitu banyak masalah sosial mulai distribusi minyak goreng sampai penegakan hukum (law enforcement) yang rendah. Bukan tak mungkin, massa pendukung tim sepakbola yang mayoritas berasal dari golongan “akar rumput” sudah punya masalah sejak keberangkatan dari rumah.

“Mungkin belum bekerja atau sudah bekerja, tetapi gaji rendah, perut lapar tak punya uang atau punya uang tapi tak seberapa. Kecemburuan sosial  ada dimana-mana. Stratifikasi membelah massa menjadi polarisasi dua golongan, yaitu yang  merasa “kalah dan dikalahkan” dan yang “diklaim menang”,” katanya.

Polaritas yang besar memicu friksi sosial. Reaksi massa adalah erupsi sosial dari dalam dapur magma yang tertekan. Tragedi Kanjuruhan dengan demikian adalah tragedi sosial, tragedi kemanusiaan yang jelas menjadi  petunjuk bahwa bencana antropogenik bisa menjadi pemicu kematian sia-sia.

“Tanpa harus menyalahkan pihak mana pun dan siapa pun atas jatuhnya seratus lebih korban jiwa di tragedi Kanjuruhan, mari belajar  dari sekarang. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Ini harus menjadi pelajaran untuk memperbaiki budaya sepak bola, pertandingan, supporter dan sistem pengamanannya ke depan,” tutupnya.(gat/ipg)

Berita Terkait