Senin, 30 Januari 2023

Menkes Minta BPOM Tes Kualitas Produksi Obat Cegah Gagal Ginjal Anak

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Budi Gunadi Sadikin Budi Menteri Kesehatan RI saat ditemui ANTARA usai Gerakan Nasional Aksi Bergizi 2022 yang diikuti di Jakarta, Rabu (26/10/2022). Foto: Antara

Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan RI meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengadakan tes kualitas produksi berbagai jenis obat guna mencegah terjadinya gagal ginjal pada anak lebih meluas.

“Kita sudah koordinasi dengan BPOM untuk setiap batch produksi itu, kalau bisa di-tes quality controlnya karena wewenangnya kan adanya di sana,” kata Budi saat ditemui Antara usai Gerakan Nasional Aksi Bergizi 2022 yang diikuti di Jakarta, Rabu (26/10/2022).

Pemeriksaan kualitas itu, lanjut Budi, merupakan salah satu upaya demi menyelamatkan nyawa anak-anak bangsa yang saat ini berada di krisis kesehatan akibat penyakit gagal ginjal akut dan berbagai jenis virus.

Kini pemerintah sedang berupaya memeriksa kualitas produk demi memperkuat pemantauan jenis obat-obat berbahaya. Di saat yang bersamaan, Kementerian Kesehatan sedang mengusahakan pengadaan obat bagi pasien gagal ginjal jantung dalam jumlah banyak.

Budi menuturkan, untuk saat ini pemerintah juga sedang berusaha mendatangkan lebih banyak obat Fomepizole yang berasal dari Amerika dan Jepang. Obat penawar gagal ginjal ini masih dalam tahap finalisasi pembelian oleh pemerintah.

“Saya juga kemarin saat datang ke Singapura kita minta lagi, sudah diberikan 10 vial. Australia sudah datang 16 vial. Kalau sekarang, kita sedang finalisasi beli dari Amerika dan Jepang,” ujarnya.

Budi mengatakan, pasien gagal ginjal akut yang berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta setelah diberikan obat itu mengalami perbaikan kondisi. Artinya, obat tersebut bekerja secara efektif untuk mengurangi keparahan yang dialami pasien.

“Kita coba di RSCM dari 10 bayi balita yang kena serangan ginjal, yang data kita 57 persen meninggal itu tujuh sudah sembuh. Tiga bayi yang biasanya kondisinya menurun, itu jadi stabil. Oleh karena itu, kita lihat bahwa efikasinya, ketangguhannya itu bagus,” kata Budi.

Melalui kebijakan pemberhentian atas penjualan obat dalam bentuk cair atau sirop, Budi mengklaim jumlah kasus yang ditemukan sudah mulai turun drastis.

“Kita lihat setelah kita berhentikan penjualan obat sirop di apotek itu, dilaporkannya dua kasus, yang biasa tadinya 30-40, sekarang turun drastis, dua tiga hari jadi ketemu tiga kasus,” ujarnya.

Sebelumnya, Mohammad Syahril Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI menyebutkan perkembangan kasus gangguan ginjal akut per 24 Oktober 2022 sudah ada sebanyak 255 kasus yang berasal dari 26 provinsi.

Sebanyak 143 pasien dilaporkan meninggal dunia atau setara 56 persen dari total kasus penyakit gagal ginjal akut.

Berdasarkan hasil penyelidikan bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kasus gangguan ginjal akut di Indonesia menjurus pada penyebab keracunan obat sirop.

Lonjakan kasus gangguan ginjal akut terjadi karena adanya cemaran kimia pada obat tertentu yang sebagian sudah teridentifikasi, di antaranya etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan etilen glikol butil eter (EGBE).

Atas dasar itu, pemerintah mengambil kebijakan untuk menyetop penggunaan, peredaran, hingga pemberian resep obat sirop kepada masyarakat per 18 Oktober 2022.

“Kebijakan itu untuk sementara berhasil mencegah penambahan kasus baru di RSCM sebagai rujukan nasional ginjal,” katanya.(ant/tik/dfn)

Berita Terkait