Rabu, 1 Februari 2023

Menteri Kesehatan: Penyebab Gagal Ginjal Akut pada Anak Zat Kimia, Bukan Bakteri

Laporan oleh Farid Kusuma
Bagikan
Ilustrasi.

Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan (Menkes) menyatakan penyebab gagal ginjal akut pada anak bukan virus, bakteri atau parasit.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kemenkes, diketahui penyebabnya adalah cemaran zat kimia Etilen Glikol, Dietilen Glikol, dan Etilen Glikol Butil Eter pada obat berbentuk sirop.

Dalam keterangan pers, sore hari ini, Senin (24/10/2022), di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Menkes bilang hasil tes patologi semua pasien tidak mendeteksi adanya Bakteri Leptospira yang diduga sebagai pemicu.

Kemudian, tanggal 5 Oktober 2022, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengeluarkan surat peringatan untuk mewaspadai kasus gagal ginjal akut yang banyak terjadi di Gambia, Afrika, akibat zat kimia dari pelarut sirop obat.

Lalu, Kemenkes melakukan analisa toksikologi terhadap 10 pasien anak. Hasil pemeriksaan darah terkonfirmasi 7 dari 10 anak gagal ginjal akut positif mengandung Etilen Glikol, Dietilen Glikol, dan Etilen Glikol Butil Eter.

Selanjutnya, Budi Gunadi mengatakan pihaknya melakukan biopsi jasad anak yang meninggal dunia akibat gagal ginjal akut. Hasilnya, semua pasien yang meninggal dunia mengalami kerusakan ginjal karena pengaruh zat kimia.

Untuk mempertegas temuan itu, Tim Kemenkes mengambil sirop obat yang ada di rumah penderita gagal ginjal akut, dan diperiksa di Puslabfor Polri.

Sesudah diperiksa, sebagian besar sirop obat yang ada di rumah pasien positif mengandung zat Etilen Glikol, Dietilen Glikol, dan Etilen Glikol Butil Eter.

“Hasilnya, kami simpulkan penyebabnya adalah obat-obat kimia yang merupakan cemaran dari pelarut obat itu,” ujarnya.

Kemenkes juga melarang sementara peredaran lebih dari 1.100 sirop obat yang diduga menjadi penyebab gagal ginjal akut pada anak. Sekarang, Kemenkes masih menunggu hasil penelitian BPOM.

Sekadar informasi, kasus gagal ginjal akut yang banyak menyerang anak-anak, per hari ini, Senin (24/10/2022), mencapai 245 kasus.

Jumlah penderitanya tersebar di 26 provinsi, dengan angka kematian sebanyak 141 pasien. Artinya, tingkat fatalitas mencapai 57 persen.

Delapan provinsi yang paling banyak menyumbang kasus gagal ginjal akut yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Aceh, Jawa Timur, Sumatera Barat, Bali, Banten, dan Sumatera Utara.(rid/ipg)

Berita Terkait