Rabu, 1 Februari 2023

Pakar Minta Pemerintah Rancang Wisata Ramah Lingkungan untuk Pulau Kecil Sumenep

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Destinasi wisata kepulauan Kabupaten Sumenep. Foto: Oki Lukito Ketua Forum Masyarakat Kelautan, Maritim dan Perikanan

Oki Lukito Ketua Forum Masyarakat Kelautan, Maritim dan Perikanan mengingatkan pemerintah akan pentingnya membuat konsep destinasi wisata yang ramah lingkungan, khususnya untuk pulau-pulau kecil di Sumenep. Sebab, menurut Oki, jangkar perahu dan aktivitas snorkeling wisatawan bisa memperparah kerusakan terumbu karang.

“Pemerintah Kabupaten Sumenep dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur diharapkan untuk membuat konsep destinasi dan mendatangkan wisatawan ramah lingkungan. Kenapa? agar aktivitas wisatawan justru tidak malah membuat ekosistem wisata, khususnya yang berbasis kelautan semakin rusak,” ujar Oki dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/4/2022).

Oki lantas memaparkan temuannya saat mengunjungi Pulau Gili Pandan di wilayah Kabupaten Sumenep, tepatnya di Kecamatan Gili Genting pertengahan bulan Maret lalu. Dia menemukan banyak tumpukan sampah berupa batang dan ranting pohon, serta sampah plastik berserakan di sepanjang garis pantai.

“Bahkan ditemukan bangkai kucing di salah satu pulau destinasi unggulan wisata bahari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemprov Jatim itu,” tulisnya.

Selain itu, sejumlah warga dari pulau seberangnya, yakni Pulau Gilingan sibuk menambang pasir secara tradisional.

“Kami sudah bertahun tahun mengambil pasir di sini untuk membuat rumah dan menghiasi halaman rumah,” ucap Achmad warga kepulauan Gilingan yang dikutip Oki Lukito.

Sejumlah warga Pulau Gilingan tampak menambang pasir secara tradisional di Gili Pandan Sumenep. Foto: Oki Lukito Ketua Forum Masyarakat Kelautan, Maritim dan Perikanan

Menurut statemen Profesor Daniel. M Royid pakar kelautan dan maritim yang dikutip Oki, kerusakan ekosistem di sejumlah pulau-pulau kecil Sumenep, sejatinya sudah lama terjadi karena praktik illegal fishing dengan menggunakan bahan peledak potasium.

“Padahal kawasan perairan tertentu sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, menjadi kawasan taman laut untuk kegiatan yang sangat terbatas. Gencarnya promosi destinasi wisata tanpa konsep dan tidak melibatkan masyarakat setempat serta instansi terkait bisa brakibat fatal,” kata Profesor Daniel yang dikutip Oki.

Sebagai informasi, wilayah Sumenep memiliki 126 pulau, dengan 48 pulau di antaranya berpenghuni dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata nasional. Kepulauan tersebut merupakan bagian dari wisata unggulan yang dimiliki Indonesia.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (Kementerian KP), Indonesia memiliki 20,87Juta hektar kawasan konservasi perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil. Sementara, garis pantai Indonesia membentang seluas 99.093 kilometer dengan luas laut 3,257Juta kilometer persegi.

Oki Lukito menambahkan, Pulau Kangean dan Gili Iyang (Pulau Oksigen) yang menyimpan kearifan lokal dan kekayaan darat sebagai unggulan destinasi wisata masih bisa diandalkan. Di Kangean yang terdiri dari 191 pulau, 27 di antaranya berpenghuni dan menyimpan budaya beternak ayam bekisar serta karapan kerbau di samping pulau-pulau di sekitar yang masih layak jual keragaman hayati bawah lautnya.(bil)

 

Berita Terkait