Kamis, 9 Februari 2023

Tim Matching Fund Ubaya Launching Pojok Doelanan, Kembangkan Potensi Desa Wisata Edukasi

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Para siswa SD saat mengikuti program Pojok Doelanan yang digelar Tim Matching Fund Ubaya, di Desa Ketapanrame, Jumat (10/12/2022). Foto: Humas Ubaya

Tim matching fund (MF) Universitas Surabaya (Ubaya) meluncurkan program “Pojok Doelanan” untuk mengembangkan potensi wisata Desa Ketapanrame menjadi edu-tourism, Jumat (9/12/2022).

Program tersebut merupakan bagian dari MF berjudul “Scale Up Industri Pariwisata: Digitalisasi dan Layanan Jasa Pariwisata Berbasis Edukasi di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto”.

Hari Hananto Ketua tim pengusul matching fund mengatakan tempat ini nantinya akan digunakan sebagai salah satu edukasi yang memperkenalkan permainan tradisional.

“Kalau selama ini anak-anak sering main di HP, kami ingin mereka punya aktivitas olah fisik dengan bermain permainan tradisional. Pojok Doelanan bisa dimanfaatkan oleh sekolah dan orang tua untuk mengajak anaknya belajar dan bersosialisasi dengan sesamanya,” ujar Hari dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net.

Permainan yang dilombakan yakni egrang, ular tangga, engkle, jalan pakai batok, foto bersama teman, melukis layang-layang, dan gasing. Peserta berasal dari tiga sekolah SD di Mojokerto, yaitu SDN Ketapanrame I, SDN Ketapanrame II, dan MI Dwi Dasa Warsa.

Siswa SD Mengikuti Lomba Engkle

Inisiasi mengembangkan Desa Ketapanrame menjadi desa wisata edukasi, dilatarbelakangi oleh perkembangan desa ini menjadi desa wisata yang tumbuh pesat dan dikenal masyarakat luas, namun perkembangannya belum sepenuhnya merata.

Hari mengungkapkan Ubaya berkeinginan untuk meningkatkan cakupan wisata yang lebih luas yakni pengembangan wisata berbasis edukasi.

Peluncuran Pojok Doelanan di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jumat (9/12/2022). Foto: Humas Ubaya

“Kami memanfaatkan sarana, prasarana, area, fasilitas wisata, sumber daya manusia, serta dukungan program pengembangan desa melalui anggaran desa. Kontribusi ini membuat potensi pengembangan wisata sangatlah menjanjikan,” jelasnya.

Program MF, lanjut Hari, juga diarahkan pada usaha penyelesaian masalah sampah sekaligus alternatif materi edukasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Zero Waste Management).

Untuk edu-tourism, implementasi dari program ini adalah mengembangkan area taman untuk informasi kekayaan botani (Nusantara Botanical Garden), memberikan workshop tentang pengelolaan tempat wisata, serta mendesain area sekaligus permainan bagi anak-anak (Pojok Doelanan).

Zainul Arifin Kepala Desa Ketapanrame dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasinya terhadap seluruh pihak, termasuk Ubaya.

“Dengan adanya pengembangan ini, kami mau pengunjung tidak hanya menikmati alam saja, tetapi juga mendapat edukasi. Mudah-mudahan ini menjadi suatu hal baik demi kemajuan desa dalam hal potensi desa wisata,” ungkapnya.

Melalui pengembangan wisata edukasi ini, Hari juga berharap mampu mendukung peran pemerintah dalam meningkatkan literasi bagi masyarakat berbasis teknologi informasi (augmented reality).

Selain itu, kegiatan ini juga memberikan kesempatan bagi dosen dan mahasiswa untuk berperan aktif melalui kepakaran dan pengalaman pendidikan dalam mengembangkan potensi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Semoga pengembangan desa wisata ini dapat menjadi alternatif sumber pemasukan wisata buat Desa Ketapanrame,” ujarnya. (bil/ipg)

Berita Terkait