Selasa, 25 Juni 2024

25 Orang Meninggal dalam Bentrokan Paramiliter-Tentara di Sudan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Asap membumbung di Omdurman, dekat Jembatan Halfaya, selama bentrokan antara paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan tentara, di Khartoum Utara, Sudan, Sabtu (15/4/2023). Foto: Antara

Sedikitnya 25 orang meninggal dan 183 lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan memperebutkan kekuasaan antara paramiliter dan tentara di Sudan, Sabtu (15/4/2023) waktu setempat.

Serikat Dokter Sudan pada hari yang sama menyatakan masih belum bisa memastikan korban meninggal warga sipil atau militer.

Melansir Antara, dua orang meninggal di bandara Khartoum, empat di Omdurman, delapan di Kota Nyala, enam di Kota El Obeid dan lima di El Fasher.

Perebutan kekuasan itu dilatarbelakangi terhentinya proses pemilihan umum setelah kudeta militer.

Tentara menolak pernyataan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) kelompok paramiliter telah merebut istana kepresidenan, kediaman panglima angkatan darat, Bandara Khartoum dan Kota Merowe.

Pertempuran terjadi di berbagai tempat, termasuk di kantor pusat stasiun televisi (TV) milik negara.

Pihak Tentara Sudan mengatakan Angkatan Jdara Sudan sedang menggelar operasi menumpas RSF.

Dentuman tembakan dan ledakan terdengar di seluruh ibu kota Khartoum. TV menayangkan jet-jet militer terbang rendah di atas kota dan asap mengepul dari beberapa distrik.

Para saksi mata melaporkan ada penembakan di kota-kota terdekat.

Seorang wartawan Reuters melihat kendaraan lapis baja dikerahkan di jalan-jalan ibu kota dan mendengar tembakan senjata berat di dekat markas tentara dan RSF.

Jenderal Abdel Fattah Al Burhan Kepala Angkatan Darat mengatakan kepada Al Jazeera TV bahwa RSF harus mundur.

“Menurut kami, jika mereka bijaksana, mereka akan menarik pasukan mereka yang masuk ke Khartoum. Tetapi jika terus berlanjut, kami harus mengerahkan pasukan ke Khartoum dari daerah lain,” kata dia.

Militer mengatakan di Facebook mereka tidak akan berunding dengan RSF kecuali pasukan paramiliter itu dibubarkan.

Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo atau Hemedti Pemimpin RSF menyebut Burhan sebagai “penjahat” dan “pembohong”.

Militer dan RSF bersaing memperebutkan kekuasaan ketika faksi-faksi politik berunding untuk membentuk pemerintahan transisi.

“Kami tahu di mana Anda bersembunyi dan kami akan menangkap Anda dan menyerahkan Anda ke pengadilan, atau Anda akan mati seperti anjing-anjing lainnya,” kata Dagalo.

RSF, yang diduga berkekuatan 100.000 orang, mengatakan bahwa pasukannya diserang pertama kali oleh tentara, yang mengepung salah satu markasnya dan menembaki mereka dengan senjata berat.

Tentara mengatakan mereka memerangi RSF di lokasi-lokasi yang diklaim telah direbut kelompok paramiliter.

Konfrontasi RSF dan tentara yang berlarut-larut bisa menjerumuskan Sudan ke dalam konflik yang meluas di tengah perjuangan negara itu melawan kehancuran ekonomi.

Perseteruan itu juga dapat menggagalkan upaya menuju pemilu.

Bentrokan antara kedua pihak terjadi setelah ketegangan meningkat akibat ketidaksepakatan soal penyatuan RSF ke dalam militer.

Ketidaksepakatan itu telah menunda penandatanganan perjanjian dengan partai-partai politik mengenai transisi menuju demokrasi.

Kekuatan-kekuatan sipil yang meneken draf perjanjian itu pada Desember pada Sabtu menyerukan permusuhan tentara dan RSF dihentikan agar Sudan tidak terjerumus ke dalam “jurang kehancuran total”.

RSF menuduh tentara menjalankan agenda para loyalis mantan Presiden Omar Hassan Al Bashir yang digulingkan dalam kudeta 2019 dan berusaha melakukan kudeta itu sendiri.

Kudeta 2021 menggulingkan Perdana Menteri Sudan yang berasal dari kalangan sipil.

Para saksi mata melaporkan pertempuran di berbagai daerah, termasuk baku tembak sengit di Merowe, Sudan utara.

RSF membagikan video yang disebut-sebut menunjukkan pasukan Mesir yang “menyerah” kepada mereka di Merowe.

Sedangkan, militer Mesir mengatakan pasukan mereka berada di Sudan untuk melatih pasukan setempat.

Saat Kairo meminta jaminan keselamatan bagi mereka, Hemedti mengatakan kepada Sky News Arabia bahwa pasukan Mesir itu aman dan RSF akan bekerja sama dengan Kairo untuk memulangkan mereka.

Video itu memperlihatkan sejumlah pria berpakaian tentara berjongkok di tanah dan berbicara kepada anggota RSF dalam dialek Arab Mesir.

Laporan yang belum dikonfirmasi analis intelijen mengatakan beberapa pesawat tempur AU Mesir dan para pilotnya ditangkap oleh RSF.

Bentrokan juga terjadi antara RSF dan tentara di El Fasher dan Nyala di Darfur.

RSF mengatakan mereka telah menguasai bandara-bandara di El Fasher dan Negara Bagian Darfur Barat.

Amerika Serikat, Rusia, Mesir, Arab Saudi, PBB, Uni Eropa, dan Uni Afrika menyerukan agar pertikaian segera dihentikan.

Chad telah menutup perbatasannya dengan Sudan, sedangkan Ethiopia dan Kenya menyeru pihak-pihak yang bertikai agar menahan diri.

Sebuah pesawat komersial Arab Saudi di bandara Khartoum ditembaki saat bentrokan. Maskapai itu menangguhkan penerbangan dari dan ke Sudan.

Maskapai nasional Mesir, Egyptair, menyatakan menangguhkan penerbangan ke Khartoum selama 72 jam.

Kelompok RSF berkembang dari milisi janjaweed yang bertempur dalam konflik pada dekade 2000-an di wilayah Darfur.

Konflik itu membuat sekitar 2,5 juta orang mengungsi dan menewaskan sekitar 300 ribu orang. (ant/ihz/rid)

Berita Terkait

..
Surabaya
Selasa, 25 Juni 2024
28o
Kurs