Sabtu, 25 Mei 2024

Anggota Komisi VII Optimis Bauran EBT 15 Persen Tercapai Tahun Ini

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Para pembicara dalam Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2023 yang diadakan oleh Foreign Policy Communitu of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Sabtu (24/6/2023). Foto: Antara

Mercy Chriesty Barends Anggota Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI menyatakan, bahwa pihaknya targetkan pencapaian bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 15 persen di tahun 2023.

“Tahun ini kita berupaya mencapai angka 15 persen, saat ini sudah sekitar 14,5 – 14,7 persen. Harapan kita akhir tahun ini beberapa scale up energi terbarukan bisa mencapai antara 15 – 17 persen,” ujar Mercy sesuai dikutip dari Antara, Sabtu (24/6/2023).

Pernyataan tersebut dia sampaikan dalam acara Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2023 yang digelar oleh Foreign Policy Communitu of Indonesia (FPCI). Mercy membeberkan masih ada selisih kurang lebih 6 – 8 persen dari sasaran bauran EBT pada 2025 yang sebesar 23 persen.

Ia berpendapat bahwa saat ini masih banyak tantangan untuk mencapai sasaran tersebut. Hal itu terlihat dari persentase penggunaan energi campuran yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang saat ini masih terdata di angka 62 persen.

“Jadi ini ada problem besar dari mix energy yang sementara kita hadapi saat ini, 62 persen itu berasal dari PLTU batu bara, kalau di totally ditambah dengan yang berbasis diesel dan yang lain-lain, total semuanya kurang lebih sekitar 85 persen,” jelasnya.

Meskipun dengan banyaknya tantangan tersebut, pemerintah tetap optimistis mampu mencapai sasaran bauran EBT 23 persen pada 2025. Dalam waktu dekat, menurut Mercy, hal utama yang perlu lakukan adalah pembenahan regulasi energi melalui pengesahan Rancangan Undang-Undang Energi Baru Terbarukan (RUU EBT). RUU EBT ditargetkan sudah sah pada tahun 2024 mendatang.

“Bahwa transisi energi tidak hanya menjadi wacana dan gerakan sosial tanpa payung legal standing-nya, jadi harapan kami sebelum 2024 nanti, RUU ini sudah bisa kita sahkan,” tuturnya.

Adapun sekarang sebagian besar produksi energi listrik memang masih menggunakan batu bara dan sumber daya alam yang merupakan karbon. Fenomena itu dianggap menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Oleh karena itu, penggunaan EBT dianggap menjadi solusi dalam mencegah efek terburuk dari adanya kenaikan suhu. (ant/bnt/faz)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Sabtu, 25 Mei 2024
27o
Kurs