Rabu, 26 Juni 2024

Dokter Fokus Dampingi Trauma Relawan Prabowo-Gibran di Sampang Korban Penembakan OTK

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Kiri ke kanan: Dokter Kun Arifi Spesialis Anestesi Konsultan Perawatan Intensif Pelayanan Medis dan Dokter Tomy Lesmana penanggungjawab pasien korban penembakan, Jumat (29/12/2023). Foto: Meilita suarasurabaya.net Kiri ke kanan: Dokter Kun Arifi Spesialis Anestesi Konsultan Perawatan Intensif Pelayanan Medis dan Dokter Tomy Lesmana penanggungjawab pasien korban penembakan, Jumat (29/12/2023). Foto: Meilita suarasurabaya.net

Dokter RSUD Dr. Soetomo Surabaya mulai fokus mendampingi trauma Muarah (50 tahun) relawan Prabowo-Gibran di Sampang yang jadi korban penembakan orang tak dikenal.

Dokter Tomy Lesmana Spesialis Bedah Digestif sebagai penanggungjawab pasien Muarah menyebut, kondisi pasien secara fisik sudah stabil.

“Dalam artian, tekanan darah, nadi, pernapasan, stabil semuanya. Kedua, saat ini yang masih dalam perawatan terkait sequelae, itu gejala sisa pascacedera masih ada gangguan pada persarafannya yang menyebabkan pasien tidak bisa menggerakkan kaki,” beber Tomy ditemui awak media di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Jumat (29/12/2023).

Meski pascaoperasi Jumat (22/12/2023) lalu, Muarah masih mengalami kelumpuhan kedua kakinya imbas dua peluru mengenai saraf tulang belakang.

“Penyembuhan luka pascacedera itu berbeda antara saraf, otot, tulang, dan jaringan lain. Paling lama sembuh, pulih, itu saraf. Secara fungsi ya bukan anatomi. Jadi kita koreksi anatomi dan mengembalikan fungsi. Koreksi sudah, fungsi tergantung kondisi fisik pasien dan kemampuan jaringan menyembuhkan dirinya sendiri,” paparnya lagi.

Paling cepat, Muarah bisa sembuh membutuhkan waktu tiga bulan lagi. Dokter belum bisa memastikan kelumpuhan Muarah sementara atau permanen.

“Jadi yang bisa diikuti bagaimana perjalanan. Apakah nanti sudah sesuai dengan progres yang sudah baku. Penyembuhan rata-rata terjedi dalam bulan,” tambahnya.

Sementara sambil melatih fisioterapi, lanjut Tomy, akan ada pendampingan spesialis jiwa untuk pasien.

“Secara fisik dan wawancara dengan saya memang memungkinkan (untuk diperiksa polisi dimintai keterangan) sebenarnya. Tapi, saya masih minta pendapat dari spesialis jiwa nantinya. Apakah misalnya beban investigasi itu akan memperparah trauma psikis pasien. Saya serahkan bidangnya,” terangnya lagi.

Pemeriksaan psikologis itu, lanjutnya, untuk menentukan boleh tidaknya Muarah rawat jalan.

“Rawat jalan bisa dilakukan banyak aspek apakah ada tindakan yang masih diperlukan atau akan cuma pemulihan bisa di rumah. Apakah ada pengobatan injeksi yang masih diperlukan, ketiga psikologi pasien,” jelasnya. (lta/iss)

Berita Terkait

..
Surabaya
Rabu, 26 Juni 2024
25o
Kurs