Minggu, 25 Februari 2024

Kemkominfo Masih Kaji Permintaan Penutupan TikTok Shop

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Budi Arie Setiadi Menteri Komunikasi dan Informatika di Jakarta, Kamis (21/9/2023.) Foto: Antara

Budi Arie Setiadi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengatakan pihaknya saat ini masih mengambil langkah untuk mengkaji cara menanggapi permintaan beberapa pihak, untuk menutup platform TikTok Shop.

“Kita saat ini masih kaji dinamikanya, karena seperti yang dikhawatirkan memang apa betul dia (TikTok Shop) predatory pricing?,” ujar Budi di Jakarta, Kamis (21/9/2023) dikutip Antara.

Kata Budi, saat ini pihaknya tidak bisa asal menutup suatu platform digital. Terutama kalau platform tersebut telah mengantongi izin berusaha sesuai layanan yang dihadirkannya di Indonesia.

Maka dari itu, diperlukan kajian dan evaluasi mendalam agar keputusan yang diambil menanggapi tren social commerce ini bisa tepat sasaran.

Dalam kasus TikTok Shop, Budi mengatakan bahwa platform tersebut dalam operasinya di Indonesia, telah mengantongi izin untuk media sosial maupun izin untuk berjualan secara daring.

“Saat saya tanya mengenai izin, mereka (TikTok) bilang bahwa sejak Juli mereka sudah punya izin e-commerce, Jadi sebenarnya tidak ada yang dilanggar menurut UU berlaku,” ujar Budi.

Meski begitu, Budi tetap akan mengkaji terutama soal isu predatory pricing, dan baru menentukan langkah selanjutnya setelah berkoordinasi dengan lintas kementerian serta lembaga terkait seperti Kementerian Perdagangan dan Kementerian Koperasi dan UKM.

Sebelumnya, pelaku UMKM yang masih mengandalkan penjualan secara langsung di toko-toko seperti para pedagang di Pasar Tanah Abang sempat mengaku dan mengeluhkan lesunya penjualan karena adanya tren social commerce seperti TikTok Shop.

Harga yang ditawarkan untuk produk-produk di platform-platform digital tersebut dinilai terlalu rendah, dan akhirnya menimbulkan kondisi predatory pricing atau membunuh harga pasar.

Teten Masduki Menteri Koperasi dan UKM dalam sidaknya ke Pasar Tanah Abang, Selasa (19/9/2023) lalu, juga mengungkap adanya penurunan omset pedagang-pedagang di pasar terbesar di Asia Tenggara itu. Penyebabnya, kalah bersaing dengan produk asal luar negeri yang dijual murah melalui platform online.

“Tadi kami berdiskusi apakah mereka karena tidak bertransformasi dari jualan di pasar ke online. Ternyata mereka juga sudah melakukan transformasi. Mereka sudah jualan di online tapi mereka tidak bisa bersaing,” kata Teten seusai sidak di Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta. (ant/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Minggu, 25 Februari 2024
28o
Kurs