Jumat, 1 Maret 2024

KTT NATO Ditutup di Tengah Perpecahan dan Penentangan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Para pimpinan negara-negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO). Foto: Antara

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ditutup karena perpecahan antar-anggota dan penentangan dari komunitas internasional di Vilnius, ibu kota Lithuania, pada Rabu (12/7/2023).

Dalam KTT tersebut, NATO mengadopsi “rencana pertahanan paling komprehensif sejak berakhirnya Perang Dingin” dan mendukung rencana aksi produksi pertahanan baru.

Berdasarkan rencana-rencana baru tersebut, NATO bertujuan untuk memiliki 300.000 tentara yang siap beraksi. Kemudian sekutu-sekutu NATO terlibat untuk menginvestasikan sedikitnya dua persen dari produk domestik bruto (PDB) mereka setiap tahun pada pertahanan, dilansir Antara.

Hasil KTT didapatkan hanya 11 dari 31 anggota aliansi yang telah mencapai atau melampaui target tersebut, setelah sembilan tahun berturut-turut meningkatkan belanja pertahanan sejak 2014.

NATO, yang merupakan aliansi regional antara Eropa dan Amerika Utara, kembali mengundang para pemimpin diantaranya Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan, yang disebut sebagai mitra di kawasan Asia-Pasifik. Tujuan dihadirkannya para pemimpin tersebut pada KTT untuk memperkuat dialog dan kerja sama guna mengatasi berbagai tantangan keamanan bersama.

Para pemimpin NATO juga berjanji untuk memberikan lebih banyak dukungan jangka panjang kepada Ukraina dan menggelar pertemuan perdana Dewan NATO-Ukraina yang baru dengan Volodymyr Zelensky Presiden Ukraina. Namun, mereka belum menetapkan jadwal keanggotaan Ukraina dalam aliansi tersebut.

Terjadinya perbedaan pendapat para anggota NATO soal bagaimana membawa Ukraina ke blok mereka menyebabkan kerenggangan. Meski beberapa anggota dari Eropa Timur mendesak komitmen eksplisit tentang kapan Ukraina akan bergabung, Amerika Serikat dan Jerman masih enggan mengklarifikasi.

NATO juga menyinggung China soal ambisi dan kebijakan koersif yang menantang kepentingan, keamanan, dan nilai-nilai pada organisasinya. Lebih lanjut, NATO menyebut China menimbulkan tantangan sistemik terhadap aliansinya.

Menanggapi pernyataan tersebut, Wang Wenbin juru bicara Kementerian Luar Negeri China membantah klaim yang dilontarkan pihak NATO.

“Kami mendesak NATO untuk berhenti melontarkan tudingan tidak berdasar dan retorika provokatif yang menargetkan China, meninggalkan mentalitas Perang Dingin yang sudah usang, berhenti melakukan kesalahan untuk mencari keamanan absolut. Kami sudah melihat apa yang telah dilakukan NATO pada Eropa, dan NATO tidak boleh berupaya menabur kekacauan di Asia-Pasifik maupun di tempat lain di dunia,” ujarnya. (ant/fra/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Jumat, 1 Maret 2024
32o
Kurs