Minggu, 26 Mei 2024

Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Ijen Geopark Tetap Jadi Fokus Utama Pasca-penetapan UNESCO

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Kawah Ijen di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Foto: Flickr

Kawasan wisata Ijen Geopark di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Provinsi Jawa Timur (Jatim) telah resmi dinobatkan menjadi salah satu UNESCO Global Geopark (UGGp), pada tanggal 24 Mei 2023 lalu.

Ijen Geopark lulus sidang Council UNESCO yang digelar di Provinsi Satun, Thailand pada 5 September 2022 lalu, dengan nilai terbaik di antara geopark lain. Nantinya, penyerahan sertifikat resmi UGGp kepada pengelola Ijen Geopark akan dilaksanakan pada September 2023, di Maroko.

Ir. Mohammad Yasin Ketua Tim Pengelolah Ijen Geopark mengatakan, penetapan tersebut akan membuat wisata Ijen mendapat banyak keistimewaan dan kelebihan dari UNESCO. Terlebih pada peningkatan kunjungan wisata yang berdampak pada pengembangan masyarakat sekitar, maupun dari segi pengelolaan alam.

“Tentunya kita juga dapat peluang pendanaan, investasi terutama yang ramah lingkungan dari investor. Diharapkan tidak hanya dari indonesia tapi mancanegara bisa memberikan dukungan penuh untuk menjawab keluhan masyarakat selama ini soal fasilitas di wisata Ijen. Dan ini peluang pendanaannya bisa semakin hebat,” kata Yasin saat mengudara di program Wawasan Radio Suara Surabaya, Senin (10/7/2023).

Yasin menyebut, investor yang dipilih untuk berinvestasi ke Ijen Geopark tentu akan diseleksi. Investor akan yang dipilih adalah yang bisa membangun program ramah lingkungan, betul-betul mau memegang culture lokal, serta melibatkan masyarakat setempat untuk pembangunan.

Apalagi, tiga aspek penilaian dari UNESCO untuk UGGp sangat ketat, meliputi sisi geologi, biologi, dan culture masyarakat. Dari segi geologi yaitu lokasi dan keunikan dai wisata Ijen sendiri. Kemudian dari segi biologi, adalah keberadaan hutan dan satwa dilindungi, serta kawasan wisata sendiri.

“Kemudian dari culture masyarakat ini jadi penentu karena berkaitan dengan geologi. Disamping keseimbangan lingkungan juga mata pencarian mereka. Apalagi setiap hari ada sekitar 300 warga disitu yang beraktivitas langsung di kawahnya,” ucapnya.

Dia mencontohkan wacana pembangunan cabble car di Ijen Geopark yang masih dipertimbangkan, mengingat di sekitar lokasi wisata ada sekitar 70 orang yang berprofesi sebagai pemandu.

“Serta di sana juga ada 100 lebih orang yang berprofesi sebagai pendorong gerobak. Gerobak ini untuk wisatawan yang tidak kuat jalan (naik) bisa naik ke situ, didorong oleh beberapa warga setempat. Ini contoh mata pencarian masyarakat setempat yang harus diperhatikan,” ungkapnya.

Adapun untuk kawasan Ijen disebutnya tidak melulu soal Kawah saja, ada banyak spot wisata lain di antaranya Ijen Blue Fire, Lava Blawan, Air Terjun Blawan, Komplek Air Panas Blawan, Dinding Kaldera Ijen Megarsari, Alas Purwo, Pulau Merah, Situs Megalit Maskuning Kulon dan masih banyak lagi.

PR Lain Pascapenetapan UNESCO Global Geopark

Mohammad Yasin yang juga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jatim mengunkapkan, tentu banyak pekerjaan rumah (PR) untuk mengelolah Ijen Geopark, baik oleh pemerintah pusat, provinsi maupun dua kabupaten yakni Bondowoso dan Banyuwangi.

Apalagi, lanjutnya, pihak UNESCO bakal meng-asesmen Ijen Geopark dalam kurun waktu empat tahun sekali soal kelayakan sebagai UGGp.

“Jadi tidak langsung otomatis. Karenanya, ini pentingnya kita harus menjaga dan menambahkan fasilitas, layanan dan sebagainya supaya kalo kita di asesmen kita tetap punya status UNESCO Global Geopark. Pengunjung juga kalau bisa jangan membuang sampah sembarangan, kemudian memetik tanaman yang memang statusnya dilindungi di sana,” bebernya.

Yasin mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat soal pembagian tugas, terlebih Gubernur Jatim juga sudah mengusulkan pembangunan dan pemberdayaan Ijen Geopark sebagai proyek strategis nasional.

Bahkan, lanjutnya, untuk memudahkan pengelolaan Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim sudah membentuk tim yang terdiri dari Kepala Bappeda Jatim sebagai ketua, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim di posisi sekretaris, serta untuk wakil ketua diisi oleh kepala Bappeda Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi.

“Kita juga bentuk Geopark Youth Forum yang beranggotakan kelompok muda-mudi usia 18-25 tahun. Ini kita harapkan agar mereka bisa jadi agen perubahan agar Ijen Geopark tetap seperti diinginkan UNESCO,” ujarnya.

Terkait akses, pihaknya juga sudah memetakan beberapa langkah seperti pelebaran Jalan Nasional Situbondo-Ketapang, hingga pelayaran long distance untuk akses wisatawan dari luar pulau bisa langsung turun di pelabuhan Situbondo yang jaraknya lebih dekat dengan lokasi wisata tersebut.

Terakhir, soal banyaknya keluhan soal fasilitas yang banyak diungkapkan masyarakat, Yasin mengakui kalau itu semua akan jadi tantangan bagi pihaknya sebagai pengelolah geopark.

“Tentu itu semua tantangan, dan akan kita lakukan pembenahan untuk pengembangan. Pokoknya ke depan masyarakat tidak usah takut kalo ke Ijen. semisal tidak kuat jalan, di sana bisa naik gerobak yang didorong warga. Karena kalau sudah sampai ke puncak itu, waduh terbayar lunas semua dengan pemandangan luar biasa, capeknya hilang semua,” pungkasnya. (bil/iss)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Minggu, 26 Mei 2024
32o
Kurs