Rabu, 17 April 2024

Surabaya Hadapi Cuaca Ekstrem; Antisipasi dan Edukasi Jalan Beriringan

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Ilustrasi cuaca panas.

Berdasarkan data dari Organisasi Meteorologi Dunia, tahun 2023 telah dinyatakan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim.

Hal itu disampaikan Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam seminar nasional “Perspektif Daerah: Rekomendasi Penanganan Perubahan Iklim untuk Pemerintah Mendatang” pada Rabu (15/11/2023) lalu.

Dari forum yang sama, Dwikorita mengatakan bahwa bulan Juli-Agustus tahun ini tercatat sebagai tiga bulan terpanas. Suhunya mengalahkan saat terjadinya El Nino pada 2016 lalu.

Untuk menghadapi krisis iklim global tersebut, Dwikorita menekankan pentingnya upaya adaptasi dan mitigasi melalui tiga pilar yang saling terkoneksi, yakni kebijakan, pelayanan dan sains.

Merespons hal itu, pemerintah kota (pemkot) Surabaya bersiap diri, mengantisipasinya, serta melakukan lokakarya internal untuk membangun ketahanan masyarakat menghadapi panas ekstrem di Kota Pahlawan.

Selain itu, edukasi pada masyarakat tentang hal ini berjalan baik dari hulu ke hilir.

“Begitu ada info dari pemkot (Surabaya) tentang antisipasi cuaca, kami teruskan ke anggota,” kata Dedi Irianto Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya dalam program diskusi Semanggi Suroboyo “Surabaya Tangguh Menghadapi Panas Ekstrem” Radio Suara Surabaya FM 100, Jumat (17/11/2023).

Anggota yang dimaksud adalah petugas yang ada dalam 31 forum komunikasi (forkom) kecamatan di Surabaya. Dalam masing-masing forkom, terdapat petugas RT, RW, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK).

Dari kiri ke kanan: Dedi Irianto Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani Kepala BPBD Kota Surabaya, dan Nanik Sukristina Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya dalam program diskusi Semanggi Suroboyo “Surabaya Tangguh Menghadapi Panas Ekstrem” Radio Suara Surabaya FM 100, Jumat (17/11/2023). Foto: Chandra/suarasurabaya.net

Kegiatan senada juga dilakukan oleh Kader Surabaya Hebat (KSH), yang merupakan kepanjangan tangan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya pada masyarakat. Tugasnya memberikan informasi edukasi kesehatan secara langsung. Dalam hal ini, yaitu bagaimana caranya mewaspadai cuaca panas.

Menurut Nanik Sukristina Kepala Dinkes Kota Surabaya, ada penyakit-penyakit yang harus diantisipasi karena cuaca panas. “Yang paling tinggi (terjadi) adalah ISPA dan diare,” katanya.

Karena itu, lanjut Nanik, Dinkes kerap memberi edukasi langkah-langkah preventif seperti menjaga lingkungan, hidup bersih dan sehat, mencuci tangan, serta minum air mineral minimal 2 liter.

“Infonya juga kita sebar di media sosial,” tambahnya.

Daya Tahan Tubuh

Menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan juga menjadi fokus organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan pemkot. Hal ini berhubungan dengan jumlah laporan yang menghubungi Call Centre Surabaya 112.

Menurut Laksita Rini Sevriani Kepala BPBD Kota Surabaya, laporan terbanyak di bulan Oktober berkaitan dengan darurat medis. Seperti orang tua yang lemes, pusing, dan sakit kepala karena cuaca panas.

“Biasanya laporan tertinggi dari Januari sampai September didominasi kejadian kecelakaan. Oktober enggak,” tambahnya.

Sementara Nanik mengimbau agar masyarakat juga aktif bergerak dan jika sedang bekerja, tidak lupa memberikan jeda istirahat dan berjalan setiap 30 menit.

“Kalau bekerja di ruangan ber-AC, jangan lupa minum,” katanya.

Dalam diskusi 90 menit tersebut, juga ada beberapa pendengar Radio Suara Surabaya yang bergabung. Effendi dan Kasmijan, dua di antaranya bertanya tentang penyiraman tanaman serta jalan.

Dedi menjelaskan, bahwa penyiraman jalan pada siang hari sudah tidak dilakukan. Dulu, kegiatan ini pernah dilakukan untuk menghadapi cuaca panas. Tapi setelah diketahui berbahaya, penyiraman dialihkan ke tanaman.

“Kalau tanaman, kita lakukan malam hari,” katanya.

Menurutnya, penyiraman malam hari itu dilakukan karena mempertimbangkan dua hal. Pertama karena body mobil penyiram yang besar, memungkinkan tidak mengganggu lalu lintas malam hari yang sepi.

Kedua, rumput dan tanaman perdu lebih maksimal menyerap air di malam hari dari pada siang.

Namun begitu, Dedi tidak lupa mengingatkan pada masyarakat agar melakukan mitigasi kebakaran yang diakibatkan cuaca panas ekstrem di lingkungan masing-masing.

Sekadar diketahui, dari data Dinas PMK, dari 698 laporan kejadian kebakaran sepanjang 2023 sampai November di Surabaya, 599 di antaranya terjadi pada non bangunan. Seperti pada alang-alang dan sampah, yang menurutnya, ada kaitannya dengan cuaca ekstrem.

Sebagai penutup diskusi, Rini mengimbau agar masyarakat selalu menjaga kondisi tubuh supaya fit. Kemudian, memakai jaket atau pelindung diri serta minum air mineral yang cukup. (ham/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Mobil Tertimpa Pohon di Darmo Harapan

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Surabaya
Rabu, 17 April 2024
28o
Kurs