Rabu, 28 Februari 2024

UGM: Nyamuk Wolbachia Efektif Tekan Replikasi Virus Dengue Setelah Populasinya 60 Persen

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Tangkapan layar - Prof Adi Utarini Peneliti sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM menyampaikan pemaparan terkait nyamuk wolbachia dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI diikuti dalam jaringan di Jakarta, Selasa (28/11/2023). Foto: Youtube Komisi IX DPR RI Channel Tangkapan layar - Prof Adi Utarini Peneliti sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM menyampaikan pemaparan terkait nyamuk wolbachia dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI diikuti dalam jaringan di Jakarta, Selasa (28/11/2023). Foto: Youtube Komisi IX DPR RI Channel

Profesor Adi Utarini Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengemukakan inovasi nyamuk wolbachia efektif menekan replikasi virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti saat populasinya mencapai 60 persen di satu kawasan.

“Ketika sudah mencapai 60 persen, mereka akan berkembang biak secara alami,” ujar Prof Adi Utarini Peneliti sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Dilansir dari Antara, metode pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dilakukan secara bertahap menggunakan ember yang di dalamnya diisi dengan telur nyamuk Aedes aegypti.

Setiap ember diletakkan di setiap rumah berjarak sekitar 75 meter dari satu rumah ke rumah yang lain. Kemudian, setiap dua pekan telur nyamuk yang ada di ember diganti airnya.

“Dengan demikian selama enam bulan nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia akan menyebar di masyarakat,” ucap Uut, nama sapaannya.

Dalam waktu yang bersamaan, peneliti menyebarkan 250 alat perangkap nyamuk berupa ember untuk menyedot serangga.

“Sehingga di seluruh Kota Yogyakarta kami tempatkan sekitar 250 trap yang setiap pekan kami ambil dan ada yang hitung satu per satu, ada serangga apa saja yang tertangkap di situ. Kemudian Aedes aegypti-nya berapa, ini dihitung dalam penelitian ini,” katanya.

Ketika populasi nyamuk wolbachia sudah mencapai populasi 60 persen, nyamuk tersebut akan berkembang biak secara alami, lanjut Uut.

Terdapat tiga transmisi Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti. Pertama, terjadi saat nyamuk jantan ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk betina ber-Wolbachia sehingga penetasan telur menghasilkan nyamuk wolbachia.

Kedua, nyamuk jantan tak ber-Wolbachia kawin dengan betina ber-Wolbachia sehingga tetasan telur menghasilkan nyamuk wolbachia.

Ketiga, terjadi saat nyamuk jantan ber-Wolbachia kawin dengan betina tidak ber-Wolbachia sehingga telur tidak akan menetas.

Wolbachia dianggap mampu membendung penularan virus dengue karena memiliki kemampuan berkompetisi makanan antara virus dan bakteri di dalam sel nyamuk, dengan sedikitnya makanan yang bisa menghidupi virus, maka virus dengue tidak dapat berkembang biak.

“Ketika sudah mencapai 60 persen, ember itu kita tarik dan pelepasan kita hentikan,” katanya.

Salah satu keunggulan nyamuk wolbachia ketika pelepasan dihentikan, kata Uut, nyamuknya berkembang biak secara alami dengan nyamuk di alam dan terus bereplikasi di alam.(ant/ath/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Trailer Mogok, Jembatan Branjangan Macet Total

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Bus Tabrak Tiang Listrik di Sukodadi Lamongan

Surabaya
Rabu, 28 Februari 2024
26o
Kurs