Minggu, 16 Juni 2024

Warga Dusun Sambirono Wetan Sidoarjo Sambat, Belasan Tahun Banjir Belum Ada Solusi Konkret

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Seorang pengendara menuntun motornya karena mogok akibat banjir yang masih menggenang di Dusun Sambirono Wetan, Desa Sidodadi Kabupaten Sidoarjo, Minggu (17/12/2023). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Genangan air setinggi sepuluh hingga 30 sentimeter membentang sejauh 300 meter di Jalan Mawar Dusun Sambirono Wetan, Desa Sidodadi Kabupaten Sidoarjo, pada Minggu (17/12/2023) siang.

Dusun Sambirono Wetan itu dilanda banjir sejak Jumat (15/12/2023) kemarin akibat hujan intensitas sedang, mulai Jumat siang hingga sore.

Sejumlah warga sambat (mengeluh) genangan air yang tidak surut hingga berhari-hari. Kondisi ini rupanya sudah terjadi sejak belasan tahun, dan belum ada solusi konkret untuk menuntaskan persoalan ini.

Keluhan warga setempat bukan tanpa alasan, sebab banjir membuat aktivitas warga terhambat. Mulai dari aktivitas ke sekolah hingga berangkat kerja. Jika nekat menerobos banjir, risikonya adalah motor yang mogok.

Nanang Widiajtmoko warga Dusun Patar Lor, Sidoarjo yang setiap hari mengakses Jalan Mawar Dusun Sambirono Wetan, mengaku masalah banjir ini telah terjadi lebih dari sepuluh tahun.

“Sudah lama, sejak anak saya kecil belum ada penyelesainnya. Tolong untuk diselesaikan pihak terkait dari Pemkab Sidoarjo. Sudah sepuluh tahun lebih. Anak saya saja usianya sudah 27 tahun, tapi belum ada penyelesainnya,” kata Nanang kepada suarasurabaya.net.

Menurut pengakuan Nanang, banjir di daerahbya bisa mencapai 40 sentimeter lebih bila terjadi hujan deras. Ditambah saluran pembuangan air belum memadai secara teknis. Akibatnya, genangan air meluber dan menggenangi jalan hingga berhari-hari.

Pengalaman yang sama juga disampaikan Choirul Anshori warga RT 7 Dusun Sambirono Wetan. Pria paruh baya itu menyebut banjir di Jalan Mawar pernah tidak surut sampai satu minggu.

“Padahal hujannya intensitas sedang (tapi pernah sampai seminggu). Tapai kalau hujan sampai tiga hari, ya wes emboh kayak apa (ya tidak tahu lagi akan seperti apa),” tuturnya.

Choirul sependapat bila masalah genangan banjir di Dusun Sambirono belum ada solusi. Pasalnya ia sudah menempati dusun tersebut selama puluhan tahun.

“Saya lahir di sini (sudah banjir). Dulu sebelum ada perumahan, mengalir ke sawah. Sekarang sawahnya dibangun perumahan, airnya ke rumah-rumah. Meski kali sudah dikeruk, tetap nggak ngatasi,” imbuh Choirul.

Selain menghambat aktivitas warga, genangan banjir ini juga memengaruhi kebersihan air sumur warga hingga menyumbat saluran pembuangan di kamar mandi warga.

“Itu ada yang rumahnya warga sini pernah air sumurnya keruh, septic tank-nya (kemasukan air). Hingga wargatidak bisa mandi,” ucap Choirul.

Sementara Muhammad Yusuf Ketua RT 8 Dusun Sambirono mengatakan, akibat genangan banjir ini membuat Jalan Mawar selalu rusak setiap musim hujan.

“Apalagi kalau truk-truk besar lewat sini. Karena tergerus truk besar ini, sedangkan genangan air masih ada,” katanya.

Karena jalanan umum, warga sekitar tidak bisa menutupnya, sebab menjadi akses kendaraan melintas.

“Kalau ini kan termasuk jalan umum yang ke arah utara ini. Hampir tiap musim hujan ada perbaikan jalan, kemarin sempat dicor. Akhirnya ada perbaikan dari kabupaten, cuma meratakan aja. Kalau nggak ditinggikan, sama aja,” ungkap Yusuf.

Baik Yusuf, Nanang, dan Choirul berharap supaya masalah genangan banjir ini tidak larut selamat bertahun-tahun. Mereka minta agar Pemkab Sidoarjo melakukan perbaikan saluran dan meninggikan jalan.

“Harusnya jalanan ini ditinggikan dan disertai gorong-gorong, kalau nggak disertai gorong-gorong luapan air masuk ke rumah,” tandas Yusuf.

Penjelasan Pemkab Sidoarjo Mengenai Genangan Banjir di Dusun Sambirono Wetan

Sementara itu Dwijo Prawito Kepala BPBD Kabupaten Sidoarjo menjelaskan, bahwa secara geografis wilayah di Dusun Sambirono Wetan relatif lebih rendah.

“Lokasi tersebut secara geografis memang lebih rendah dari sekitarnya. Termasuk di bawah elevasi saluran yang ada disekitar dan minimnya saluran pembuang yang ada belum memenuhi standar teknis. Sehingga kalau turun hujan dilokasi tersebut air sungainya meluber dan berdampak pada wilayah itu tergenang air,” jelas.

Dwijo menyebut, penanganan jangka pendek sudah dilakukan timnya pada Minggu siang dengan melakukan pemompaan genangan air. “Tapi jadi dilema saat muka air sungai tinggi, upaya pemompaan juga masih kurang efektif,” katanya.

Menanggapi persoalan ini, Pemkab Sidoarjo pada 2024 nanti berencana akan melakukan perbaikan saluran dan jalan di Dusun Sambirono Wetan.

“Info dari PUBM SDA (Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo) pada tahun 2024, direncanakan peningkatan jalan dan pembangunan saluran drainsae,” tandas Dwijo.

Sementara itu Dwi Eko Saptono Kepala Dinas PUBM SDA menjelaskan genangan banjir yang terjadi di Dusun Sambirono Wetan karena terdapat saluran di Bringin Bendo (sisi Utara Dusun Sambirono Wetan) yang menuju Sungai Buntung meluap.

“Karena air (sungai) Buntung meluap. Sehingga dua rumah pompa kami yang di Tropodo yang narik dari Bringin Bendo itu kami tarik masih muter lagi karena Buntung airnya tinggi tiga hari kemarin,” jelasnya.

Sehingga aliran sungai di Dusun Sambirono Wetan tidak bisa mengalir karena debit air di rumah pompa Tropodo tinggi.

Namun Dinas PUBM sore tadi telah membuka pompa air Ketegan di aliran sungai Buntung (sisi Timur Dusun Sambirono Wetan). Eko menyebut debit air perlahan mulai turun dan menuju ke hilir.

“Dua rumah pompa terus kami genjot. Di (saluran) Bringin Bendo tadi siang sudah surut,” tuturnya.

Eko menuturkan bahwa sudah ada rancangan untuk melakukan betonisasi dan perbaikan saluran di kawasan Desa Sidodadi yang wilayahnya tergenang banjir pada 2024.

Ia berharap kepada warga permukiman, perumahan, dan pengembang bisa saling bersinergi untuk melakukan perubahan tata guna lahan.

“Kami tidak bisa sendiri kalau tidak dibantu masyarakat maupun pengembang untuk menata drainase,” ucap Eko. (wld/saf/ham)

Berita Terkait

..
Surabaya
Minggu, 16 Juni 2024
25o
Kurs