Selasa, 16 Juli 2024

Hindari Kekerasan dalam Keluarga untuk Mengatasi Fenomena Anak Gandol Truk

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Berniat menumpang, beberapa anak memberhentikan Truk yang sedang melaju. Lalu naik ke bagian bak Truk yang kosong. Lokasi di Bakalan Balongbendo, Sabtu (23/1) siang Berniat menumpang, beberapa anak memberhentikan Truk yang sedang melaju. Lalu naik ke bagian bak Truk yang kosong. Lokasi di Bakalan Balongbendo, Sabtu (23/1) siang

Bagus Sanyoto Konselor Pendidikan dan Keluarga menyatakan, ada beberapa latar belakang yang menyebabkan anak zaman sekarang banyak yang gandol truk, atau naik truk dengan cara mencegat di jalanan.

Menurutnya, kemunculan fenomena sosial itu, bisa dilihat dari riwayat hidup anak, bagaimana bimbingan orang tua terhadap anak hingga aktivitas harian anak.

“Bimbingan ayah ibu yang lengkap itu penting, ayah menyumbang nalar, ibu menyumbang nurani bagi perkembangan anak,” katanya kepada Radio Suara Surabaya dalam program wawasan, pada Rabu (17/1/2024).

Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa hal utama yang penting dalam mengatasi permasalahan fenomena anak gandol truk itu berada di ranah keluarga.

Ia menyatakan, orang tua harus bisa melakukan kontrol kepada anak dengan baik, sehingga anak bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan kegiatan yang positif.

“Jadi, jangan cuek terhadap anak, jangan abaikan anak tanpa kontrol, tanpa norma,” jelasnya.

Jika terjadi sebuah masalah dalam keluarga yang melibatkan anak, ia menekankan, agar orang tua segera menyelesaikan masalah yang terjadi dengan cara yang baik.

“Selesaikan permasalahan dan jangan ada kekerasan fisik, karena hal itu akan membuat anak tidak betah di rumah dan anak bisa berbuat aneh-aneh,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan saran kepada supir truk, agar ketika ada anak-anak yang hendak gandol agar ditolak dengan cara halus.

Salah satu caranya, kata dia, bisa dilakukan dengan menolak yang halus, yakni seperti pura-pura truk yang dikendarai mogok atau terjadi kerusakan, sehingga tidak ada anak-anak yang gandol.

“Sedapat mungkin dengan cara yang halus, karena kalau kasar, anak yang berkelompok bisa lebih keras lagi,” tuturnya.

Sementara untuk masyarakat, ia menyebut, perlu terus melakukan kegiatan kebersamaan, gotong royong dan saling bantu membantu, untuk memberikan dampak positif kepada anak-anak di lingkungan rumahnya.

Sedangkan untuk pemerintahan, ia mengatakan bahwa perlu memberi teladan yang baik kepada masyarakat termasuk anak-anak, agar ada perilaku positif yang terjadi di masyarakat.

“Perlu juga tempat rekreasi yang nyaman dan murah untuk masyarakat, karena sekarang di Surabaya atau Sidoarjo masih sedikit tempat-tempat wisata untuk keluarga yang murah,” katanya.

Solusi dengan kebersamaan dalam membangun habit tersebut di masyarakat, menurutnya, akan menjadikan dampak yang baik dan mencegah adanya anak-anak gandol truk di jalanan.(ris/iss)

 

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Pipa PDAM Bocor, Lalu Lintas di Jalan Wonokromo Macet

Perahu Nelayan Terbakar di Lamongan

Surabaya
Selasa, 16 Juli 2024
31o
Kurs