Rabu, 29 Mei 2024

Polda Jatim Catat Kecelakaan Lalu Lintas Selama Masa Lebaran 2024 Turun 43 Persen

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Kombes Pol Komarudin Dirlantas Polda Jatim ditemui di Mapolda Jatim waktu memaparkan potensi titik kemacetan, Selasa (2/4/2024). Foto: Wildan suarasurabaya.net

Kombes Pol Komarudin Dirlantas Polda Jawa Timur mengatakan bahwa Operasi Ketupat Semeru 2024 berjalan sangat kondusif. Kalau pun ada kepadatan karena peningkatan volume di wilayah Jawa Timur, tapi tidak sampai stuck atau berhenti total.

“Kami apresiasi seluruh masyarakat Jawa Timur yang ikut mengatur waktu keberangkatan, liburan, dan silahturahmi. Sejak H-3 sampai hari ini volume pergerakan di Jawa Timur hampir rata. Tidak ada hari yang sangat tinggi atau lengang. Sampai hari ini cukup kondusif,” ujarnya dalam program Wawasan di Radio Suara Surabaya, Selasa (16/4/2024).

Polda Jatim mencatat, volume kendaraan yang keluar dan masuk Jawa Timur berimbang, didominasi ke arah selatan. Wilayah Tulungagung dan Pacitan ada peningkatan jumlah kendaraan. Ada peningkatan dibanding tahun lalu, tapi mungkin karena waktu liburan cukup panjang, masyarakat bisa memilih waktu yang lebih nyaman untuk melakukan perjalanan.

“Kami juga apresiasi masyarakat yang mematuhi peraturan lalu lintas dan arahan petugas di lapangan. Sampai semalam, hari ke-12, angka kecelakaan bisa ditekan sampai 43 persen dibanding tahun lalu,” tuturnya.

Polda Jatim mencatat tahun lalu terjadi 1.003 kasus kecelakaan, tahun ini 570 kasus. Sementara korban meninggal dunia selama periode Operasi Ketupat tahun lalu 155 orang, tahun ini 24 orang. “Tetap disayangkan meski jumlah korban turun 85 persen. Kemudian korban luka ringan tahun lalu 1.539 orang, tahun ini 887 orang. Turun 42 persen. Hanya saja, luka berat tahun lalu 26 orang, tahun ini 36 orang.

“Secara umum pola kemacetan, kepadatan, dan upaya mencegah kecelakaan dan korban cukup baik,” kata Komarudin.

Komarudin menyayangkan beberapa kecelakaan seperti di Ngawi karena sopir ugal-ugalan. Kemudian KM 572 Tol Ngawi yang merupakan titik lelah, pemudik dari Jakarta yang sempat istirahat dan berganti sopir di Sragen, mengantuk lalu menabrak pembatas jalan sehingga dua orang meninggal dunia. Selanjutnya kejadian yang cukup besar yaitu kecelakaan beruntun tujuh kendaraan di tol, para korban hanya luka ringan.

Hasil evaluasi pelaksanaan Operasi Ketupat Semeru tanggal 4-15 April mencatat kejadian kecelakaan tertinggi terjadi pada H-2 atau tanggal 8 April 2024 sebanyak 5 orang meninggal dunia. Secara kewilayahan, Kota Surabaya selama pelaksanaan operasi ada 38 kasus. Namun, tingkat fatalitas tertinggi terjadi di Ngawi, dari 31 kasus kecelkaaan, enam di antaranya meninggal dunia.

“Dengan adanya penambahan waktu Work From Home (WFH) dari pemerintah selama dua hari, kami masih mengantisipasi sampai Sabtu besok tanggal 20 April dengan nama Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) untuk saudara kita yang mungkin masih di Jatim atau luar daerah,” ujarnya.

Berbagai strategi yang dilakukan Lantas Polda Jawa Timur untuk menekan angka kecelakaan sampai 43 persen yaitu mulai dari pola preemtif dengan mengajak masyarakat pengguna jalan berperan serta tertib berlalu lintas. Kemudian pola preventif yakni penggelaran kekuatan dari semua potensi masyarakat dari instansi samping, dinas perhubungan, organisasi kepemudaan, pramuka termasuk masyarakat sekitar yang bergabung di pos pelayanan dan pos terpadu. Seperti di Mojokerto dan Pacet tersebar cukup banyak di tikungan dan turunan ada relawan-relawan yang membantu memberikan informasi kepada pengguna jalan, termasuk membantu kendaraan yang kampas koplingnya sudah bau untuk ditepikan.

“Kami tidak segan untuk melakukan tindakan tegas kepada siapa saja pelaku perjalanan yang memang membahayakan atau berpotensi. Seperti contohnya, ada beberapa bus yang terpaksa kami berikan tindakan tegas berupa tilang karena melanggar marka. Kami tidak mentolerir di saat arus sedang padat-padatnya seperti ini ada bus yang atau angkutan kendaraan lain yang melanggar marka, sehingga menyebabkan kemacetan dan berpotensi kecelakaan,” kata Komarudin.

Langkah lain dengan melakukan tes urin kepada para sopir bus dan ramp check mengingat jumlah pemudik yang menggunakan bus menduduki urutan kedua setelah kereta api.

“Kemarin di Tulungagung ada sopir yang sangat kami sesalkan ternyata mengkonsumsi narkoba. Sangat memprihatinkan kami, karena dia tidak memikirkan berapa banyak penumpang yang dibawa dan risikonya.

Langkah lanjutan yang diambil oleh jajaran Polda Jawa Timur yaitu meningkatkan pengecekan di 70 terminal yang tersebar di Jawa Timur dengan melibatkan Badan Narkotika Nasional (BNN). Sementara bagi pengurus perusahaan otobus (PO) harus ikut bertanggung jawab terhadap perilaku sopir-sopir di bawah perusahaannya.

“Kami tidak segan-segan membuatkan rekomendasi kepada Kementerian Perhubungan, karena kalau AKAP, AKAP ini kan antar-kota antar-provinsi kewenangan dari Kementerian Perhubungan untuk perizinannya. Jadi kita akan membuatkan rekomendasi kalau tidak ada perubahan, kami sarankan untuk dicabut izinnya,” tutur Komarudin.

Perlu diketahui Operasi Ketupat Semeru 2024 secara serentak digelar oleh Kepolisian Republik Indonesia selama 13 hari dimulai tanggal 4 hingga 16 April 2024 dalam rangka pengamanan perayaan Idulfitri 1445 H. Irjen Pol Imam Sugianto Kapolda Jawa Timur menargetkan nol angka kecelakaan selama operasi Ketupat Semeru 2024 yang berlangsung 3-16 April dalam momen mudik Lebaran.

Polda Jatim menerjunkan 16.000 lebih personil gabungan untuk melalukan pengamanan selama operasi berlangsung. Selain itu Polda Jatim juga menggagas aplikasi Mahameru Qutick Respon untuk memantau kondisi lalu lintas.(iss/ipg)

Berita Terkait

..
Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Bus di Trowulan Mojokerto

Motor Tabrak Pikap di Jalur Mobil Suramadu

Surabaya
Rabu, 29 Mei 2024
27o
Kurs