Kamis, 23 April 2026

27 Ribu Suspek TBC di Banyuwangi, DPR Desak Deteksi Dini Diperluas

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Nihayatul Wafiroh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI. Foto: istimewa

Nihayatul Wafiroh Wakil Ketua Komisi IX DPR RI menegaskan, melonjaknya kasus Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Banyuwangi menjadi sinyal kuat perlunya langkah cepat dan terukur dalam pengendalian penyakit menular tersebut.

Berdasarkan data terbaru, sebanyak 3.169 warga telah terkonfirmasi positif TBC, sementara lebih dari 27 ribu lainnya masih berstatus suspek.

Kondisi ini, kata dia, berpotensi memperluas penularan jika tidak segera ditangani secara komprehensif.

“Ini bukan sekadar angka. Besarnya jumlah suspek menunjukkan potensi penularan masih sangat tinggi. Deteksi dini harus diperluas agar kasus bisa ditemukan lebih cepat dan rantai penularan segera diputus,” ujar perempuan yang akrab disapa Ninik tersebut, Kamis (23/4/2026).

Menurutnya, situasi ini juga menjadi “bom waktu” kesehatan jika tidak diantisipasi dengan strategi yang agresif, khususnya melalui skrining masif dan pelacakan kontak erat di masyarakat.

Selain aspek kesehatan, Ninik melihat dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan. Ia mengungkapkan bahwa mayoritas kasus TBC di Banyuwangi terjadi pada kelompok usia produktif.

“Kalau usia produktif terdampak, bukan hanya kesehatan yang terganggu, tapi juga produktivitas dan ekonomi keluarga ikut terpukul. Ini harus menjadi perhatian lintas sektor,” tegasnya.

Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan setempat yang aktif melakukan penelusuran kasus hingga ke tingkat komunitas.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan TBC sangat bergantung pada kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan.

“Pasien harus patuh menjalani terapi sampai tuntas. Jika tidak, risiko resistensi obat bisa muncul dan pengobatan akan jauh lebih sulit serta mahal,” jelasnya.

Ia juga menegaskan pentingnya memastikan akses layanan kesehatan tetap terbuka bagi masyarakat, termasuk ketersediaan obat dan pendampingan pasien selama masa terapi.

“Pemerintah daerah harus menjamin stok obat aman dan layanan pengobatan gratis benar-benar dimanfaatkan masyarakat. Pendampingan pasien juga harus diperkuat,” tambahnya.

Ninik optimistis, dengan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan partisipasi aktif masyarakat, upaya eliminasi TBC baik di Banyuwangi maupun secara nasional dapat tercapai sesuai target.(faz/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Kamis, 23 April 2026
28o
Kurs