Pada Minggu (6/9/2026) pagi, setidaknya empat gunung api tercatat mengalami erupsi bersamaan, yakni Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Ibu di Halmahera Barat, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Bahkan, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dirasakan mulai Provinsi Lampung, Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat, dan menimbulkan gangguan terhadap operasional sejumlah Bandara.
Dampaknya, delapan bandara sempat ditutup, yakni Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Husein Sastranegara Bandung, Bandara Budiarto Curug Tangerang, Bandara Pondok Cabe Tangerang Selatan, Bandara Taufik Kiemas Pesisir Barat Lampung, serta Bandara Atung Bungsu Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Terkait hal itu, Doktor Amien Widodo Pakar Geologi sekaligus peneliti Pusat Studi Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjelaskan, penutupan penerbangan saat sebaran abu vulkanik mencapai ruang udara itu bukan tanpa alasan.
“Hal ini karena abu gunung api bisa mengganggu bahkan bisa membuat mesin pesawat mati,” jelas Amien dalam keterangannya yang diterima Suara Surabaya, Senin (7/9/2026).
Geolog ITS itu kemudian memberikan contoh paling jelas mengenai bahaya tersebut, yakni insiden British Airways penerbangan BA009 pada 1982 silam.
Pesawat Boeing 747 itu sedang terbang dari Bandara Heathrow menuju Selandia Baru, dan melintasi wilayah Indonesia ketika Gunung Galunggung di Jawa Barat mengalami erupsi besar.
Pada malam 24 Juni 1982, ketika pesawat berada di langit sekitar Jakarta, radar menunjukkan kondisi cuaca normal tanpa anomali. Namun, beberapa menit kemudian, kru melihat percikan api di sekitar pesawat. Ternyata, pesawat itu memasuki awan abu vulkanik pekat akibat letusan Gunung Galunggung.
Situasi pun memburuk ketika satu per satu mesin mengalami kegagalan hingga akhirnya seluruh mesin mati. Pesawat kemudian berusaha keluar dari awan abu dan diarahkan menuju Jakarta.
Setelah berhasil keluar dari area abu vulkanik, mesin pesawat dapat kembali dinyalakan dan BA009 akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma. Tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut. Seluruh 263 orang di dalam pesawat selamat.
Hasil investigasi menunjukan abu vulkanik telah masuk dan menempel pada keempat mesin pesawat. “Sebaran abu vulkanik ini tidak terdeteksi radar pesawat karena radar dirancang untuk mendeteksi uap air, sementara abu vulkanik Galunggung tersebut kering,” kata Amien.
Amien menjelaskan, pada periode tersebut Gunung Galunggung sedang mengalami erupsi eksplosif. Salah satu erupsinya menghasilkan kolom letusan hingga sekitar 20 kilometer dan bergerak ke arah barat.
“Kolom erupsi ini memotong rute yang dilalui British Airways BA009,” terang Amien.
Kondisi itulah yang membuat abu vulkanik berbahaya untuk penerbangan. Pesawat bisa saja memasuki awan abu meskipun radar cuaca tidak menunjukkan gangguan seperti awan hujan.
Menurut Amien, ketika partikel abu terisap ke dalam mesin, material tersebut melewati ruang pembakaran dengan temperatur sangat tinggi. Setelah meleleh, material itu dapat menempel pada bagian dalam mesin, termasuk turbin, sehingga mengganggu proses aliran udara dan kerja mesin.
“Abu vulkanik ini masuk ke dalam mesin pesawat dan meleleh ketika melalui ruang pembakaran. Lelehan ini kemudian akan menempel pada turbin pesawat, macet dan gagal mengalirkan udara. Inilah yang membuat mesin BA009 mati,” ungkapnya.
Karena risiko tersebut, aktivitas gunung api yang berpotensi memengaruhi penerbangan dipantau melalui Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA).
“VONA memiliki serangkaian kode dengan warna mulai dari hijau, aman, kuning, tanda-tanda aktivitas, oranye, tanda awal aktivitas atau erupsi minor, dan merah, erupsi utama,” jelasnya.
Amien menerangkan, kode hijau menunjukkan gunung api dalam keadaan normal atau aktivitasnya telah kembali normal setelah sebelumnya meningkat. Sementara kode kuning menunjukkan adanya peningkatan aktivitas gunung api dari kondisi sebelumnya dan masih memerlukan pengawasan ketat.
Kode oranye diberikan ketika aktivitas vulkanik meningkat dan terdapat kemungkinan erupsi dengan kolom abu yang dapat memengaruhi penerbangan.
Sedangkan kode merah menunjukkan tingkat ancaman tertinggi. “Warna merah, letusan diperkirakan akan segera terjadi dengan emisi abu yang signifikan dengan tinggi kolom di atas 6.000 meter di atas permukaan laut,” jelas Amien.
Sistem peringatan seperti VONA menjadi penting karena informasi aktivitas gunung api harus segera diteruskan kepada berbagai pihak yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan.
Aplikasi MAGMA Indonesia milik Badan Geologi misalnya, terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, BMKG, AirNav, Air Traffic Control, maskapai, hingga Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC). (bil/rid)

NOW ON AIR SSFM 100

