Pelajar sekolah menengah dan mahasiswa di Prancis kembali melakukan aksi blokade pada, Kamis (8/10/2026), untuk menuntut tambahan sumber daya pendidikan. Tuntutan para pelajar antara lain penambahan 250.000 kursi di universitas dan penghentian sistem seleksi melalui platform penerimaan mahasiswa Parcoursup.
Mengutip laporan Le Parisien, Kamis, aksi itu berlangsung saat Edouard Geffray Menteri Pendidikan Prancis mengundang perwakilan pelajar untuk berdialog.
Geffray mengundang tiga organisasi pelajar sekolah menengah, yakni Union Syndicale Lyceenne (USL), Renouveau Lyceen, dan Lyceens!, untuk bertemu di kementerian pada pukul 15.00 waktu setempat atau 13.00 GMT. Philippe Baptiste Menteri Pendidikan Tinggi Prancis juga dijadwalkan hadir.
Dalam aksi lanjutan kali ini, sejumlah sekolah di Paris diblokade para pelajar. Sementara itu, Universitas Pantheon-Assas membatalkan kelas pagi akibat blokade. Universitas Lumiere Lyon 2 juga menutup tiga kampusnya selama sehari karena menilai risiko gangguan cukup tinggi.
Blokade juga dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah menengah di Angers. Petugas pemadam kebakaran bahkan turun tangan untuk memadamkan tempat sampah yang dibakar.
Berdasarkan proyeksi Kementerian Pendidikan Prancis, sebanyak 224 lembaga pendidikan diperkirakan tutup total pada Kamis. Sementara 151 lembaga lainnya terganggu sebagian. Jumlah itu sekitar 30 persen lebih rendah dibanding perkiraan pada waktu yang sama sehari sebelumnya.
Organisasi pelajar menyerukan aksi di depan kantor-kantor prefektur di wilayah Ile-de-France, dilanjutkan dengan pertemuan di Place de la Bastille, Paris, pada pukul 15.00.
Sejumlah serikat pendidikan, termasuk Snes-FSU, CGT, FO, dan Sud, juga mendukung aksi mogok serta demonstrasi tersebut.
Mobilisasi pelajar itu terus berlanjut setelah Sebastien Lecornu Perdana Menteri Prancis pada, Rabu (7/10/2026) malam, berjanji akan mengumumkan langkah awal pada akhir Oktober.
Ryad Rani Presiden USL meminta pertemuan dengan Lecornu pada pekan depan. Ia mengatakan perwakilan pelajar sudah menghitung kebutuhan anggaran untuk usulan mereka.
Sementara itu, Yael Braun-Pivet Ketua Majelis Nasional Prancis meminta para pengunjuk rasa dan polisi tetap menahan diri. Ia juga mendorong adanya respons terhadap kekhawatiran para pelajar.
Maud Bregeon Juru Bicara Pemerintah Prancis membela rencana pendidikan pemerintah. Ia menyebut pemerintah telah mengalokasikan 64 miliar euro atau sekitar 72 miliar dolar AS, setara sekitar Rp1.296 triliun, untuk pendidikan nasional tahun depan. (bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100

