Minggu, 8 November 2026

Bagikan Pembalut kepada Polwan, Srikandi Bergerak Suarakan Penghapusan PPN

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Srikandi Suroboyo membawa pembalut untuk dibagikan kepada polwan di Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Minggu (8/11/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Aksi damai di Surabaya diwarnai aksi berbagi pembalut gratis oleh Sikandi Bergerak kepada peserta aksi dan polisi wanita (polwan) yang bertugas mengamankan jalannya demonstrasi.

Rina perwakilan Srikandi Bergerak mengatakan, pembalut tersebut merupakan hasil donasi dari anggota srikandi aksi damai.

“Bantuan itu berasal dari sejumlah perempuan asal Surabaya yang bekerja di Bali dan dikirimkan untuk dibagikan kepada seluruh peserta aksi,” katanya di Taman Apsari Surabaya pada Minggu (8/11/2026).

Rina mengatakan, pembagian pembalut tidak hanya ditujukan kepada sesama peserta aksi, tetapi juga kepada aparat perempuan yang bertugas di lapangan.

Ia menilai polwan juga memiliki kebutuhan biologis yang sama sebagai perempuan, termasuk menstruasi. Sehingga menurutnya, tidak ada alasan untuk mengecualikan mereka dalam aksi berbagi tersebut.

“Kalau bagi kami, polwan juga perempuan, kena menstruasi juga ya kan? Mereka juga kena pajak PPN pembalutnya. Ya kita bagilah, berbagi ke mereka gitu aja,” ucapnya.

Melalui aksi tersebut, Srikandi Bergerak sekaligus menyuarakan tuntutan agar pembalut tidak lagi dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Rina menilai menstruasi merupakan kebutuhan biologis yang dialami seluruh perempuan sehingga pembalut seharusnya bisa diakses tanpa dibebani pajak.

Ia berharap pemerintah menghapus PPN pembalut karena kebutuhan tersebut bukan pilihan, melainkan kebutuhan dasar perempuan.

“Harapannya itu dihapus ya, sesuai tuntutannya Srikandi, pembalut sebaiknya tidak dikenai PPN gitu,” ucapnya.

Anastasia Putri dari Srikandi Bergerak menambahkan bahwa aksi tersebut berangkat dari keresahan perempuan yang berkembang di media sosial.

Gerakan itu kemudian mendapat dukungan dari perempuan di Surabaya dan sejumlah daerah sekitarnya.

“Kami melakukan aksi hati ini, karena mempunyai keresahan yang sama,” ucapnya.

Melalui aksi itu, Srikandi Bergerak berharap semakin banyak perempuan dari berbagai latar belakang bersatu menyuarakan persoalan yang mereka hadapi.

“Harapan kami untuk ibu-ibu yang sedang berjuang, apapun background-nya, mulai dari ibu rumah tangga, ibu guru, mahasiswa, semua perempuan, kita tetap berjuang bersama. Tidak ada perbedaan ras, agama, keyakinan, terus status sosial, segala macam, tidak ada. Kita semua perempuan harus jadi satu,” ujarnya.

Selain tuntutan atas hak perempuan, Srikandi Bergerak yang bergabung dengan Aliansi Suroboyo Bergerak juga menyampaikan sejumlah kritik lain, seperti untuk progam Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). (ris/saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Gundukan Kerikil di Bratang Binangun

Truk Terguling di Menjelang Sembayat

Pengerjaan Jalan, Lalu Lintas Menganti Macet

Eits, Miring

Surabaya
Minggu, 8 November 2026
31o
Kurs