Kamis, 8 Oktober 2026

Beban Ekonomi Influenza dan Pentingnya Vaksinasi

Laporan oleh Tim Redaksi
Bagikan
Ilustrasi - Dokter meyuntikkan vaksin influenza kepada pasien. Foto: iStock

Masyarakat tidak perlu panik menghadapi influenza. Mayoritas penderita dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease).

Namun, anggapan bahwa influenza sekadar penyakit ringan berisiko membuat masyarakat abai terhadap dampak kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkannya.

Influenza terutama pada kelompok rentan, dapat menyebabkan komplikasi hingga membutuhkan perawatan intensif. Beban ekonominya tidak hanya berasal dari biaya pengobatan, tetapi juga kehilangan produktivitas akibat sakit, biaya pendampingan keluarga, hingga klaim asuransi untuk kasus yang membutuhkan rawat inap.

Tidak mudah mengetahui jumlah kasus influenza secara pasti di Indonesia. Hingga akhir September 2026, tercatat sekitar 1.527 kasus. Namun, angka tersebut dinilai hanya menggambarkan fenomena puncak gunung es (iceberg phenomenon) karena kasus yang tidak terdeteksi diperkirakan jauh lebih banyak.

Di sisi lain, positivity rate terkini mencapai sekitar 56-59 persen. Artinya, sedikitnya satu dari dua orang dengan gejala batuk dan pilek yang menjalani pemeriksaan dinyatakan positif influenza A.

Persoalannya, tidak semua orang dengan gejala tersebut memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Pemeriksaan swab nasofaring juga tidak selalu dilakukan.

Pemeriksaan influenza A membutuhkan biaya pribadi. Tes antigen setidaknya Rp200 ribu, sedangkan pemeriksaan yang lebih akurat menggunakan Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dapat mencapai sekitar Rp800 ribu.

Sementara itu, pengobatan influenza ditanggung BPJS Kesehatan. Dalam catatan medis, kasusnya biasanya dicatat sebagai ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) atau ILI (influenza-like illness). Keduanya didasarkan pada diagnosis klinis tanpa harus menyertakan hasil pemeriksaan swab nasofaring.

Jika menggunakan biaya pribadi atau asuransi non-BPJS, pengeluaran untuk influenza sangat bervariasi. Biaya konsultasi dokter umum, pemeriksaan penunjang, dan obat dapat mencapai sekitar Rp500 ribu-Rp800 ribu.

Beban tersebut meningkat drastis ketika pasien mengalami komplikasi hingga harus menjalani rawat inap intensif. Klaim asuransi untuk kasus semacam itu dapat menembus lebih dari Rp100 juta per kasus berdasarkan data 2025-2026.

Influenza dan Beban Produktivitas

Anggapan bahwa influenza bukan penyakit berbahaya juga perlu dilihat secara lebih luas. Tingkat kematiannya (case fatality rate/CFR) memang di bawah 0,1 persen. Namun, risiko komplikasi terutama mengancam kelompok rentan, seperti lansia berusia 65 tahun ke atas, balita, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta atau komorbid.

Selain fatalitas, influenza memiliki tingkat morbiditas atau kesakitan yang tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar satu miliar orang di dunia terpapar influenza setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar tiga hingga lima juta orang mengalami komplikasi yang membutuhkan penanganan medis intensif.

Beban rawat inap juga lebih sering terjadi di negara berkembang. Selain influenza kerap dianggap sebagai penyakit ringan, keterbatasan fasilitas dan akses pengobatan turut menjadi persoalan.

Dampak influenza juga terasa di tempat kerja. Pekerja dewasa yang mengalami ILI atau ISPA rata-rata kehilangan 1,5 hingga 3,2 hari kerja. Sementara waktu pemulihan setidaknya sekitar satu minggu.

Penyakit saluran pernapasan tersebut menjadi salah satu penyebab utama absensi karyawan berdasarkan surat izin sakit dari dokter. Selain mempercepat pemulihan, izin sakit diperlukan untuk menekan risiko penularan di lingkungan kerja.

Kehilangan produktivitas akibat sakit dan absensi menjadi salah satu kontributor terbesar beban ekonomi tidak langsung bagi perusahaan maupun pekerja. Bagi pejabat negara atau pebisnis, kehilangan waktu beberapa hari juga dapat berdampak terhadap kepentingan orang lain.

Beban serupa dapat dialami keluarga ketika anak sakit hingga membutuhkan rawat inap. Orang tua harus menyediakan biaya, waktu, dan tenaga tambahan untuk mendampingi anak selama menjalani perawatan.

Di tingkat negara, anggaran untuk biaya pengobatan penyakit pernapasan diperkirakan mencapai sekitar Rp10 triliun hingga Rp13,7 triliun per tahun melalui BPJS Kesehatan.

Atas berbagai pertimbangan tersebut, Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat melakukan vaksinasi influenza secara rutin setiap tahun, terutama kelompok berisiko tinggi dan rentan. Status vaksin influenza saat ini sedang dikaji agar dapat masuk dalam Program Imunisasi Nasional (PIN).

Risiko Evolusi Virus Influenza

Virus influenza terdiri dari tiga genus, yakni influenza A, B, dan C. Influenza A dinilai paling ganas ketika menginfeksi manusia. Virus ini juga dapat menyerang hewan, khususnya unggas dan babi.

Infeksi bersamaan oleh dua jenis virus influenza pada babi perlu mendapat perhatian karena berpotensi menghasilkan virus baru yang berbeda dari kedua virus asalnya. Perubahan tersebut dapat terjadi sebagian (antigenic drift) maupun secara total (antigenic shift).

Virus baru hasil perubahan tersebut berpotensi menimbulkan ancaman lebih besar dan memicu pandemi.

Influenza memiliki banyak struktur. Komponen yang berperan langsung terhadap manifestasi penyakit antara lain H/HA (Hemaglutinin) dan N/NA (Neuramidase). Hingga kini setidaknya terdapat 16 subtipe H dan sembilan subtipe N.

Kemampuan evolusi virus influenza tergolong sangat tinggi karena dapat bertukar materi genetik antarsubtipe H dan N.

Salah satu contoh paling fenomenal adalah influenza A subtipe H1N1 yang bertanggung jawab atas pandemi flu Spanyol pada 1918. Pandemi tersebut diperkirakan menyebabkan kematian 20-100 juta orang di dunia.

Pada 2009, wabah H1N1 kembali terjadi. Virus turunannya, H1N1/pdm09, berasal dari babi dan dikenal sebagai penyebab pandemi flu babi. Angka kematian resmi yang dilaporkan mencapai 284 ribu orang di dunia, meski angka sebenarnya diduga jauh lebih tinggi.

Saat ini, kasus influenza di Indonesia didominasi influenza A H1N1/pdm09 dan H3N2 subclade K. Sementara itu, istilah ‘super flu’ merujuk pada influenza A subtipe H3N2 subclade K.

Vaksinasi sebagai ‘Asuransi Murah’

Vaksinasi bertujuan meningkatkan daya proteksi tubuh. Sekitar dua minggu setelah vaksinasi, sistem imun menjadi lebih terlatih dan kompeten sehingga antibodi yang terbentuk dapat menghadang ancaman infeksi virus influenza.

Karena kemampuan mutasinya tinggi, vaksin influenza diperbarui setiap tahun. Komponen antigen vaksin disusun berdasarkan prediksi terhadap tipe influenza yang diperkirakan akan beredar.

Vaksin trivalen dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap tiga jenis virus influenza, yakni influenza A H1N1, A H3N2, dan B Victoria. Sementara vaksin kuadrivalen atau tetravalen memiliki tambahan perlindungan terhadap dua garis keturunan influenza B, yakni Yamagata dan Victoria.

Biaya vaksinasi mandiri bervariasi, berkisar Rp200 ribu-Rp700 ribu. Di sejumlah fasilitas kesehatan, biayanya bahkan kurang dari Rp200 ribu.

Dari perspektif ekonomi, vaksinasi influenza sejatinya dapat dipandang sebagai ‘asuransi murah’. Namun, pandangan tersebut masih berhadapan dengan pola pikir masyarakat yang cenderung memilih membayar ketika sudah sakit.

Faktor finansial dan tekanan ekonomi menjadi salah satu latar belakang pola pikir tersebut. Padahal, filosofi ekonomi kesehatan dapat menjadi pedoman bagi pengambil kebijakan dalam menentukan keputusan di tengah keterbatasan fiskal negara.

Karena itu, vaksin influenza diharapkan dapat menjadi salah satu prioritas yang diakomodasi dalam Program Imunisasi Nasional (PIN).

Penulis
Ari Baskoro
Pengajar Senior di Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD Dr. Soetomo, Surabaya

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
26o
Kurs