Kamis, 10 September 2026

BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai 16 Km

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Ida Pramuwardani Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG dalam acara Dialektika Demokrasi bertema Waspada Gunung Berapi, Bagaimana Langkah Mitigasinya? di Gedung DPR, Kamis (10/9/2026). Foto: Faiz Fadjarudin suarasurabaya.net

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak cepat memantau dampak erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengalami peningkatan aktivitas sejak awal September 2026. Pemantauan dilakukan terhadap sebaran abu vulkanik, kondisi laut, hingga potensi tsunami.

Ida Pramuwardani Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG mengatakan BMKG tidak memantau langsung aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Namun, BMKG berfokus memantau dampak erupsi, terutama sebaran abu vulkanik dan potensi tsunami.

“Kalau dari BMKG sendiri, kita tidak monitor apa yang terjadi di gunung, tetapi apa dampaknya terhadap sebaran debu vulkanik ataupun seperti ketinggian atau ancaman tsunami,” kata Ida dalam acara Dialektika Demokrasi bertema Waspada Gunung Berapi, Bagaimana Langkah Mitigasinya? di Gedung DPR, Kamis (10/9/2026).

Menurut Ida, aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menunjukkan peningkatan sekitar 4 September dan semakin meningkat pada 5-6 September. Sebaran abu vulkanik terpantau tidak hanya menuju Samudra Hindia, tetapi juga bergerak ke arah timur hingga mencapai Jakarta dan Jawa Barat.

Kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Pada 6 September, BMKG langsung menerbitkan informasi mengenai sebaran abu vulkanik serta potensi dampak aktivitas erupsi.

Hasil pemantauan pada 6 September sekitar pukul 07.00 WIB menunjukkan intensitas abu vulkanik sangat besar. Sebaran abu meluas ke Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.

Ida menjelaskan, abu vulkanik terpantau pada sejumlah lapisan ketinggian, mulai sekitar 15.000 kaki hingga mencapai 50.000 kaki atau sekitar 16 kilometer. Pergerakan abu pada setiap lapisan berbeda karena dipengaruhi arah angin.

“Pergerakannya berbeda. Jadi ada yang ke arah timur, ada yang ke arah barat, tergantung dari arah angin di masing-masing ketinggian,” ujarnya.

Menurut Ida, abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan karena dapat masuk ke mesin pesawat dan mengganggu kinerjanya.

“Ketika pesawat terbang ke daerah debu vulkanik ini akan berbahaya bagi engine atau mesin pesawat. Dia bisa mengalami penurunan kinerja dari mesin itu, bahkan bisa sampai mematikan atau menggagalkan mesin pada saat penerbangan,” katanya.

Selain sebaran abu, BMKG juga meningkatkan pemantauan potensi tsunami. Hal ini menjadi perhatian mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau pernah memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

BMKG mengaktifkan berbagai sensor di sekitar Selat Sunda, termasuk pemantauan muka air laut serta radar maritim frekuensi tinggi di Carita dan Tanjung Lesung.

Berdasarkan hasil pemantauan saat erupsi, belum terlihat peningkatan signifikan pada kondisi laut.

“BMKG melihat bahwa pada saat terjadinya erupsi tidak ada peningkatan signifikan terhadap aktivitas laut berupa ketinggian gelombang maupun arus laut,” kata Ida.

Meski demikian, BMKG terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap masyarakat.(faz/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Kamis, 10 September 2026
28o
Kurs