Meski memiliki efektivitas berbeda, ketiga metode tersebut tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.
“Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko,” ujarnya dilansir dari Antara.
Suharyanto mengatakan, penanganan lahan gambut membutuhkan teknik khusus karena api yang terlihat di permukaan belum tentu benar-benar padam. Bara dapat tetap menyala di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BNPB menggunakan alat suntik gambut untuk memasukkan air hingga kedalaman sekitar 1-2 meter.
“Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur. Kami punya alat suntik gambut,” katanya.

NOW ON AIR SSFM 100

