Kamis, 20 Agustus 2026

BNPB Menyisir Desa Terdampak Gempa NTT yang Sulit Diakses

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Sejumlah warga penyintas gempa bumi menempati tenda terpal di Desa Pangga, Kecamatan Kuwus, Manggarai Barat, Rabu (19/8/2026). Foto: HO-BNPB

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menyisir sejumlah desa terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sulit dijangkau.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan korban sekaligus menentukan pola distribusi bantuan yang paling cepat dan tepat.

Abdul Muhari Deputi Bidang Pencegahan BNPB mengatakan, asesmen langsung diawali di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, yakni Dusun Coal di Desa Coal dan Dusun Dahang di Desa Pangga.

“Kami saat ini langsung ke lokasi dan melihat langsung kondisi masyarakat. Dari laporan camat sudah ada bantuan pangan dan tentu saja ini akan terus kita tindak lanjuti,” ujar Abdul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Menurut Abdul Muhari, dua wilayah tersebut membutuhkan penanganan khusus karena hingga asesmen dilakukan belum menerima bantuan pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang terjadi empat hari sebelumnya.

Salah satu kendala utama adalah akses menuju lokasi. Dari pos pendukung BNPB di Labuan Bajo, petugas harus menempuh perjalanan darat sekitar 3,5 jam menggunakan mobil untuk mencapai Desa Coal dan Desa Pangga yang berada di sekitar kawasan Gunung Mbeliling, Manggarai Barat.

Dilansir dari Antara, hasil asesmen sementara menunjukkan dampak gempa cukup parah. BNPB mencatat 148 rumah warga mengalami kerusakan. Rinciannya, 101 rumah rusak berat, 12 rumah rusak sedang, dan 35 rumah rusak ringan.

Gempa tersebut juga menyebabkan satu warga meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 1.108 jiwa mengungsi di Desa Coal dan lebih dari 20 keluarga memilih mengungsi secara mandiri di Desa Pangga.

Abdul Muhari mengatakan, kondisi di lapangan menunjukkan penyaluran bantuan menghadapi tantangan karena tidak seluruh warga terdampak berada di lokasi pengungsian utama yang telah disiapkan pemerintah.

Sebagian warga memilih mendirikan tenda di sekitar rumah masing-masing yang masih berdiri dan dianggap aman. Keputusan tersebut dipengaruhi trauma akibat gempa serta kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

“Akibat trauma serta ancaman guncangan gempa susulan banyak warga mendirikan tenda di sekitar rumah yang tak rusak. Tapi kita pastikan selama masih ada pengungsi-pengungsi mandiri ini sekali lagi kita pastikan kebutuhan makanan dan permakanan terpenuhi,” katanya. (saf/ham)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Kecelakaan Mobil Terguling di Gunungsari Surabaya

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Kecelakaan Beruntun di Gempol, Libatkan 7 Kendaraan

Surabaya
Kamis, 20 Agustus 2026
29o
Kurs